Diabetes Mellitus Vs Manifestasi Oralnya

Definisi

Diabetes mellitus (DM) adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Hiperglikemia kronik pada diabetes berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, disfungsi dan kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah (ADA, 2007).

Klasifikasi

Berdasarkan etiologinya, American Diabetes Association (ADA) pada tahun 2007 mengklasifikasikan DM menjadi empat yaitu:

(1) DM tipe I (umumnya terjadi defisiensi insulin absolut). Pada DM tipe ini terjadi kerusakan sel beta pankreas akibat proses imunologik ataupun idiopatik.

(2) DM tipe II (bervariasi mulai dari resistensi insulin yang disertai defisiensi insulin relatif sampai gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin).

(3) DM tipe lain. DM tipe ini disebabkan oleh penyakit lain, seperti defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, induksi obat atau bahan kimia, infeksi, imunologi, dan sindrom genetik lain.

(4) Diabetes kehamilan (diabetes yang didiagnosis selama kehamilan).

Diagnosis

Menurut ADA (2007), diagnosis DM dapat ditegakkan berdasarkan kriteria berikut:

1. Terdapat gejala klasik diabetes seperti poliuri, polidipsi, dan penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya, disertai dengan kadar glukosa darah sewaktu (GDS) ≥200 mg/dl (11,1 mmol/l). Glukosa darah sewaktu adalah pemeriksaan gula darah yang tidak dilakukan dengan persiapan khusus (tanpa mempertimbangkan waktu sejak makan terakhir).

2. Kadar glukosa darah puasa (GDP) ≥126 mg/dl (7,0 mmol/l). Puasa yang dimaksud adalah tidak ada pemasukan kalori minimal 8 jam sebelum pemeriksaan.

3. Kadar glukosa darah 2 jam setelah pembebanan dengan glukosa 75 gram (tes toleransi glukosa oral) ≥200 mg/dl (11,1 mmol/l).

Manifestasi Oral

Manifestasi oral pada pasien DM yang tidak terkontrol (pasien DM dengan perawatan yang tidak adekuat) adalah sialosis, xerostomia, kandidosis, kelainan jaringan periodontal dan gingiva, peningkatan angka kejadian karies, linken planus mulut dan reaksi likenoid dan sindroma mulut terbakar (Setyawati, 2000). Kondisi glikemik yang tidak terkendali dikaitkan dengan insidensi dan progesi komplikasi karena DM termasuk gingivitis, periodontitis, dan alveolar bone loss sehingga menyebabkan gigi goyang dan akhirnya tanggal. Pada gingiva tampak adanya gingival enlargement, gingivitis marginalis dimana terlihat adanya hipertropi gingiva yang berwarna deep red color (merah tua) dan mudah berdarah (Tarigan, 2003; Agustina, 2008).

Pada penderita DM, aliran saliva mengalami penurunan yang berakibat terjadinya xerostomia. Oleh karena itu pada umumnya terdapat keluhan mulut terasa kering. Di samping itu juga terjadi perubahan komposisi saliva yang disebabkan oleh gangguan sekresi glandula submaksilaris dan parotis sebagai akibat dari kelainan hormonal (Supriyatno & Darmawan, 2002; Basuki, 2006).

Jaringan periodontal penderita DM sangat rentan, karena adanya pengingkatan jumlah kalsium pada saliva. Meningkatnya kadar kalsium ini mendorong terbentuknya pelikel dan menyebabkan pengendapan protein, yang selanjutnya akan mempercepat pembentukan  protein dan meningkatkan deposit materi pada permukaan gigi-geligi, selanjutnya akan terbentuk plak melalui proses calcium bridging.  Di samping itu, terjadi juga pembentukan kalkulus terutama kalkulus subgingiva (Basuki, 2006). Menurut Kjellman melaporkan bahwa dari 150 penderita diabetes anak-anak, terlihat frekuensi kalkulus subgingiva yang tinggi (Kjellman, 1990).

Pada penderita DM akan mengalami gangguan perubahan di dalam mulut seperti mulut kering, rasa terbakar pada lidah dan mukosa pipi akibat adanya neuropati perifer, tidak terasa atau terasa tebal,  hiperemia dan hiperplasia jaringan gingiva. Resistensi jaringan terhadap infeksi juga mneurun secara menyeluruh. Lidah menunjukkan perubahan pada pappila filiformis. Pada penderita DM terkontrol, pappila filiformis mengalami hipertropi, sedangkan pada penderita DM yang tidak terkontrol pappila filiformis menghilang. Selain itu, lidah memperlihatkan beberapa manifestasi terutama glositis dengan fisura-fisura yang nyeri dan lidah yang berlapis (coated). Otot lidah menjadi flabby sehingga memberikan gambaran tapak gigi di permukaan lidah bagian lateral  (Basuki, 2000; Tarigan, 2003).

Copyright ©2011, Ali Taqwim [dentistalit@yahoo.co.id]

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s