Tilawah Al-Quran Selama Berpuasa dapat Mengurangi Bau Mulut


Bulan Ramadhan dan Turunnya Al-Qur’an

Datangnya bulan Ramadhan kerap menghadirkan kesyahduan tersendiri bagi setiap kalbu yang merindunya. Momen-momen penting yang terjadi di bulan Ramadhan rasanya dapat menginspirasi siapa saja yang hendak melakukan rihlah (wisata) ruhaniyah. Adapun momen terpenting di bulan Ramadhan adalah diwajibkannya puasa dan turunnya Al-Qur’an berbarengan dengan diangkatnya Muhammad bin Abdullah sebagai Rasulullah. Oleh karena itu, amal di bulan Ramadhan sejatinya terfokus pada dua hal tersebut. Sedangkan, amalan lainnya merupakan suatu jalan untuk mengejawantahkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an.

Al-Qur’an pertama kali diturunkan pada bulan Ramadhan (QS. Al-Baqarah : 185), maka tak heran bila Rasulullah lebih sering dan lebih banyak membaca Al-Qur’an di bulan ini dibandingkan di bulan-bulan lain. Bahkan, Malaikat Jibril pun turun langsung untuk memuraja’ah (mendengar dan menilai) bacaan Al-Qur’an beliau. Oleh karena itu, amat dianjurkan bagi seorang Muslim untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Tilawah (membaca) Al-Qur’an ini tentu saja dilakukan dengan tetap memperhatikan tajwid dan hakikat dasar diturunkannya Al-Qur’an untuk di-tadabbur-i, dipahami, dan diamalkan. Allah berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu dengan penuh berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran.” (QS. Ash-Shad : 29).

Puasa dan Bau Mulut (Halitosis)

Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya RasulullahShalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Puasa itu benteng, maka janganlah berkata keji dan jangan berbodoh diri. Jika seseorang menentang atau memakinya maka hendaklah ia berkata : “Sesungguhnya saya sedang berpuasa” – dua kali. Demi Dzat yang diriku di’ tanganNya, bau busuknya mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dari pada bau kasturi. Ia meninggalkan makanan, minuman dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untukKu dan Aku membalasnya. Kebaikan itu lipat sepuluhnya. (HR. Bukhari)

Sering kali bau mulut seseorang di bulan puasa menjadi masalah serius dalam hubungan komunikasi dengan orang lain. Bau mulut saat puasa terjadi karena kekeringan pada mulut akibat kurangnya cairan (saliva). Karena saliva berkurang, bakteri dalam mulut pun menjadi lebih banyak sehingga muncul bau mulut. Pada saat berpuasa, selain karena adanya faktor lokal dalam rongga mulut berupa kebersihan mulut yang kurang baik dan faktor luar rongga mulut berupa penyakit kencing manis (diabetes mellitus), infeksi paru-paru, serta infeksi lambung atau usus, tidak aktifnya pengunyahan adalah penyebab utama terjadinya bau mulut.

Tidak aktifnya pengunyahan ini kemudian akan memiliki implikasi berupa pengurangan produksi air liur oleh kelenjar liur sehingga keadaan rongga mulut pun menjadi kering. Pada saat yang bersamaan, zat yang disebut volatile sulfur compound (VSCs) akan meningkat sehingga menimbulkan bau yang tidak sedap. VSCs adalah zat yang mengandung hidrogen sulfid, metil mercaptan, dan dimetil disulfid yang merupakan produk bakteri atau flora normal rongga mulut. Dengan meningkatnya kadar VSCs ini, maka aktivitas bakteri anaerob dalam mulut pun akan turut meningkat. Aktivitas bakteri anaerob inilah yang lantas menyebabkan bau VSCs tercium oleh indera penciuman.

Bau Mulut (Halitosis) dan Saliva

Saliva (air liur) manusia terdiri atas air, elektrolit, mukus, antibakteri dan berbagai macam enzim. Enzim yang terdapat dalam air liur  membantu menghancurkan makanan menjadi molekul sebagai bagian dari proses digesti. Tidak hanya berfungsi untuk membantu dalam pengunyahan dan pencernaan, saliva juga melindungi gigi dengan membantu mencegah karies, mengatur keasaman rongga mulut, dan mencegah mikroorganisme berkembang tak terkendali.

Produksi saliva diestimasi mendekati 1 liter setiap hari dalam keadaan tidak distimulasi dan kecepatan aliran saliva berfluktuasi sebanyak 50% sesuai dengan ritme harian. Saliva tersebut disekresi oleh tiga kelenjar saliva mayor yang berada di sekitar mulut dan tenggorokan. Kelenjar tersebut yaitu : (1) kelenjar parotid, (2) kelenjar submandibular, dan (3) kelanjar sublingual. Di mulut kita juga terdapat kelenjar saliva kecil (kelenjar saliva minor) yang tersebar di bibir, bagian dalam pipi (mukosa bukal), langit-langit (palatum) yang jumlahnya mencapai 600 pada keadaan normal.


Jumlah sekresi dipengaruhi oleh saraf simpatis dan parasimpatis dan hal-hal yang merangsang kerja kedua saraf tersebut. Bila dalam keadaan tidak distimulasi secara keseluruhan saliva yang dikeluarkan sebanyak 0,33 sampai 0,65 mL/menit. Produksi saliva ini dapat ditingkatkan mencapai 1,7 mL/menit dengan cara stimulasi. Tiga jenis stimulasi yang dapat diberikan untuk merangsang pengeluaran saliva adalah stimulasi ektra oral dengan cara (1)  stimulasi kimia dengan mencium (membau), (2) stimulasi psikis dengan melihat dan memikirkan makanan atau produk makanan lain, (3) dan stimulasi mekanik dengan mengunyah benda yang tidak larut seperti parafin (permen karet) dan stimulasi gustatory seperti sukrosa, sodium chlorida dan citric acid. Produksi saliva yang dirangsang dengan cara mengunyah akan berbeda tergantung dari banyaknya gerakan mengunyah yang dilakukan.

Dari paparan sebelumnya dapat dideduksi bahwa air liur atau saliva memegang peranan penting terhadap terjadinya bau mulut. Kondisi yang disepakati sebagai penyebab terjadinya bau mulut adalah berkurangnya air liur di dalam rongga mulut. Jika air liur dalam rongga mulut berkurang, secara otomatis proses pembersihan dalam mulut pun akan berkurang. Dengan demikian, plak pada permukaan gigi pun akan terus berakumulasi dan bakteri yang terdapat di dalamnya dapat menyebabkan bau mulut yang tidak sedap.

Berkurangnya saliva ini dalam rongga mulut dapat memiliki dua makna, yaitu; produksi saliva oleh kelenjar liur memang berkurang sehingga aliran saliva ke dalam rongga mulut menjadi berkurang atau dapat juga terjadi kondisi dimana produksi saliva oleh kelenjar saliva tetap normal, tetapi aliran saliva ke dalam rongga mulut berkurang. Kondisi berkurangnya produksi saliva oleh kelenjar saliva sehingga menyebabkan berkurangnya aliran saliva ke dalam rongga mulut biasanya disebabkan oleh faktor penyakit (aplasia, sialolitiasis, dan lain-lain), terapi radiasi pada leher dan kepala, dan usia lanjut. Sedangkan kondisi berkurangnya aliran saliva ke dalam rongga mulut dapat disebabkan oleh penggunaan obat-obatan tertentu (atropin, belladona, efidrin), pemakaian gigi tiruan lepasan, merokok, dan puasa.

Tilawah Al-Qur’an = Stimulasi Mekanik Sekresi Saliva

Kondisi berkurangnya produksi saliva oleh kelenjar saliva biasanya membutuhkan penatalaksanaan yang lebih kompleks. Sementara itu, kondisi berkurangnya aliran saliva ke dalam rongga mulut dapat diatasi dengan cara menginisiasi peningkatan alirannya. Cara yang paling sering digunakan untuk menginisiasi peningkatan aliran saliva ke dalam rongga mulut adalah dengan banyak mengkonsumsi air putih ataupun mengunyah permen karet. Namun, bagi orang yang sedang berpuasa, dua cara tersebut tentunya tidak dapat dilakukan karena dapat membatalkan puasa.

Tilawah Al-Qur’an sejatinya dapat menjadi satu alternatif yang dapat menginisiasi peningkatan aliran saliva ke dalam rongga mulut. Tilawah Al-Qur’an secara tartil (mentajwidkan huruf dan mengenal waqaf) pada saat berpuasa dapat berperan sebagai suatu substituen dari proses pengunyahan yang akan mengaktifkan otot-otot lidah, bibir, dan pipi. Dengan aktifnya otot-otot tersebut, maka kelenjar saliva yang terdapat di bawah lidah, dekat telinga, dan di ujung rahang bawah, juga akan lebih aktif untuk mengalirkan saliva ke dalam rongga mulut. Bila aliran saliva ke dalam rongga mulut telah meningkat, maka proses pembersihan secara mekanis juga akan terjadi. Terlepas dari keterikatan faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan bau mulut dan dengan tetap memperhatikan kebersihan gigi dan mulut, hal inilah yang kemudian dapat mengurangi bau mulut pada saat berpuasa.

Mahabenar Allah dengan segala firmanNya, selain mendatangkan pahala yang berlipat ganda apabila dilakukan secara ikhlas, tilawah Al-Qur’an pada saat berpuasa ternyata dapat pula mengurangi bau mulut (halitosis / fetor ex ore). Biar bagaimana pun juga, berkurangnya bau mulut hanyalah salah satu dari sekian banyak manfaat dari memperbanyak tilawah Al-Qur’an di bulan Ramadhan. Adapun Ramadhan harus dapat menjadi momen untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an sebagai langkah untuk meraih keridhaan Allah SWT dan mendapatkan kebarokahan dalam hidup sebagaimana firmanNya, “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Ma’idah : 15-16).

Copyright: dentistalit@yahoo.co.id (2011)

About these ads

5 gagasan untuk “Tilawah Al-Quran Selama Berpuasa dapat Mengurangi Bau Mulut

  1. waa . . bermanfaat artikelnya, mas Alit . .
    benarlah selama ini, orang yang berpuasa diperintahkan membaca Al-Qur’an . . .
    jadi semakin rajin baca Al-Qur’an . . .
    baca arabnya. . baca terjemahnya . . dan baca tafsirnya juga kalau bisa . . .
    selamat membaca Al-Qur’an . . . ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s