Mineral Trioxide Aggregate Dibandingkan dengan Bahan Medikamen Lain

Keunggulan Mineral Trioxide Aggregate Dibandingkan dengan Bahan Medikamen Lain pada Perawatan Pulpotomi Gigi Sulung

Pulpotomi merupakan teknik yang meliputi pembuangan pulpa vital dari kamar pulpa, kemudian diikuti dengan penempatan medikamen di atas orifise (Kennedy, 1992). Terdapat berbagai macam bahan pengisi yang digunakan untuk perawatan pulpotomi. Bahan tersebut merupakan medikamen yang diletakkan di atas orifise yang akan menstimulasi perbaikan atau memumifikasi sisa jaringan pulpa vital pada akar  gigi (Welbury, 2001). Berdasarkan beberapa penelitian, bahan-bahan tersebut memiliki keunggulan dan pengaruh yang berbeda-beda terhadap keberhasilan perawatan. Indikator keberhasilannya didasarkan atas pengalaman keberhasilan, penelitian klinis, radiografis, dan mikroskopis pada manusia (Huth et al., 2005).

Terdapat beberapa obat alternatif yang dapat digunakan sebagai bahan medikamen perawatan pulpa pulpotomi pada gigi sulung. Bahan medikamen tersebut antara lain oksida seng-eugenol, kalsium hidroksida, formokresol, glutaraldehid, feri sulfat (Budiyanti, 2006). Sekarang ini, bahan medikamen mineral trioxide aggregate menjadi pilihan alternatif dan hasil perawatannya menunjukkan hasil sama bahkan lebih baik dari bahan medikamen lainnya. Hal ini tidak terlepas dari keunggulan dari bahan ini dalam meregenerasi jaringan keras, biokompatibitas yang baik, daya tahan terhadap pembentukan celah mikro dan sifat antibakterinya (Monalisa, 2008).

1. Zinc Oxide Eugenol vs MTA

Oksida seng-eugenol pada awalnya dinyatakan sebagai bahan pilihan terbaik dari bahan pengisi. Nichols telah melaporkan penggunaan oksida seng-eugenol sebagai retrofill dan beberapa telah sukses digunakan, tetapi bahan ini dapat larut dan terdapat bukti dari kondisi ini terhadap sejumlah kasus. Oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian untuk penambahan pada oksida seng-eugenol agar bahan ini tidak larut (Satria, 2008). Keunggulan mineral trioxide aggregate bersifat hidrofilik alamiah sehingga kebocorannya lebih rendah, meskipun di bawah kontaminasi dalam kelembaban. Mineral trioxide aggregate tidak larut dalam air dan lebih radiopak dari dentin sehingga akan mempermudah kemampuan untuk membedakan dalam radiografi saat digunakan sebagai bahan pengisi pucuk akar (Satria, 2008).

2. Kalsium Hidroksida vs MTA

Bahan kalsium hidroksida dapat digunakan untuk jangka waktu panjang dalam penyembuhan lesi periapikal dengan membentuk barier kalsifik pada apeks. Sebagai obat antar kunjungan kalsium hidroksida memberikan efek penyembuhan kelainan periapeks pada gigi non-vital. Kemampuan bahan ini sebagai antibakteri dan penginduksi pembentukan jaringan keras gigi menjadi dasar bagi perawatan endodontik konvensional pada gigi dengan lesi periapeks yang luas (Sidharta, 1997). Kurimoto (1960) mengemukakan terjadinya aposisi sementum pada lesi periapeks setelah penggunaan kalsium hidroksida. Sedangkan Kaiser (1964) mengemukakan kemampuan kalsium hidroksida untuk menginduksi pembentukan jaringan keras pada apeks yang terbuka setelah penggunaan kalsium hidroksida jangka panjang. Pernyataan Kaiser ini diperkuat oleh temuan Kitamura (1960), Peters et al. (2002) melaporkan kemampuan kalsium hidroksida dalam mengeliminasi infeksi pada gigi tanpa pulpa (Sidharta, 1997).  Namun, kalsium hidroksida telah dilaporkan menyebabkan nekrosis penggumpalan superfisial, memungkinkan penghambatan perdarahan dan kehilangan cairan (Hurt et al., 2005).

Perbandingan bahan kalsium hidroksida dan mineral trioxide aggregate dapat ditelaah pada sebuah penelitian respon pulpa gigi monyet yang membandingkan mineral trioxide aggregate dengan kalsium hidroksida ketika digunakan sebagi bahan perawatan pulpa dengan standart pembukaan pulpa 1 milimeter. Hasilnya menunjukkan bahwa semua sampel mineral trioxide aggregate menstimulasi pembentukan jembatan dentin. Jembatan dentin yang dibentuk berdekatan dengan mineral trioxide aggregate tebal dan bersambungan dengan dentin dan 1 sampai 6 sampel terdapat inflamasi. Pembentukan dentin ini disebabkan oleh kemampuan menutup bahan yang baik sehingga mencegah kebocoran mikro yang dapat menyebabkan kontaminasi kembali pulpa gigi setelah perawatan. Selain itu, mineral trioxide aggregate memiliki kemampuan lebih baik dalam merangsang regenerasi dan pembentukan jaringan keras. Kemampuan tersebut kemungkinan disebabkan oleh pH yang tinggi yaitu 10,2-12,5 dan adanya pelepasan substansi yang dapat mengaktifkan sementoblas memproduksi matriks dalam pembentukan sementum (Monalisa, 2008).

3. Formokresol vs MTA

Penggunaan formokresol sebagai pengganti kalsium hidroksida untuk perawatan pulpotomi pada gigi sulung beberapa tahun ini semakin meningkat. Formokresol tidak membentuk jembatan dentin tetapi akan membentuk suatu zona fiksasi dengan kedalaman yang bervariasi yang berkontak dengan jaringan vital. Zona ini bebas dari bakteri dan dapat berfungsi sebagai pencegah terhadap infiltrasi mikroba (Finn, 2003). Keuntungan formokresol pada perawatan pulpa gigi sulung yang terkena karies yaitu formokresol akan merembes melalui pulpa dan bergabung dengan protein seluler untuk menguatkan jaringan. Formokresol sangat kaustik yang dapat menyebabkan fiksasi bakteri dan jaringan pada sepertiga bagian atas pulpa yang terlibat (Budiyanti, 2006).

Menurut Ansari & Ranjpour (2010), mineral trioxide aggregate lebih efektif penggunannya pada perawatan pulpotomi gigi sulung. Dalam penelitiannya menyebutkan bahwa perawatan jangka panjang (2 tahun),  kegagalan formokresol lebih tinggi dibandingkan mineral trioxide aggregate. Mineral trioxide aggregate lebih biokompatibel dibandingkan dengan formokresol. Hal ini terlihat pada potensi bahan ini dalam mengeleminasi efek samping yang dihasilkan pada penggunaan formokresol pada perawatan pulpotomi gigi sulung. Pada penggunaan formokresol terjadi adanya resorpsi internal, sedangkan pada mineral trioxide aggregate tidak terjadi resorpsi internal (Gambar 1). Mineral trioxide aggregate juga dilaporkan bahwa tidak memiliki efek buruk terhadap perkembangan gigi geligi pada saat perawatan pulpotomi gigi sulung (Jabbarifar et al., 2004; Ansari &  Rajpour, 2010).

Gambar 1. (A). Gambaran radiografi dua gigi molar sulung yang memerlukan perawatan pulpa. (B1). Perawatan menggunakan formokresol setelah 1 tahun, dan (B2) setelah 2 tahun perawatan, terjadi resorpsi internal pada akar. (C1). Perawatan menggunakan mineral trioxide aggregate setelah 1 tahun, dan (C2) setelah 2 tahun perawatan, tidak terjadi resorpsi internal dan menutup dengan baik. [Sumber: Ansari & Ranjpour, 2010]

Gambar 1. (A). Gambaran radiografi dua gigi molar sulung yang memerlukan perawatan pulpa. (B1). Perawatan menggunakan formokresol setelah 1 tahun, dan (B2) setelah 2 tahun perawatan, terjadi resorpsi internal pada akar. (C1). Perawatan menggunakan mineral trioxide aggregate setelah 1 tahun, dan (C2) setelah 2 tahun perawatan, tidak terjadi resorpsi internal dan menutup dengan baik. [Sumber: Ansari & Ranjpour, 2010

4. Feri Sulfat vs MTA

Penggunaan feri sulfat pada teknik pulpotomi menunjukkan kesuksesan yang hampir sama dibandingkan formokresol. Penggunaan feri sulfat dapat mengurangi perubahan inflamasi dan resorpsi internal yang berdasarkan Schroder (1978), merupakan faktor penting dalam kegagalan pulpotomi menggunakan kalsium hidroksida (Papagiannoluis, 2000). Penggunaan feri sulfat dianjurkan pada bagian dasar pulpa kemungkinan dapat mencegah masalah pembentukan blod clot setelah penghilangan mahkota pulpa. Pengunaan mineral trioxide aggregate juga dapat bersaing dengan feri sulfat, adanya kontaminasi darah yang menyebabkan adanyan kelembaban ruang pulpa dapat memperlambat setting time yang mungkin dapat menjadi masalah karena bahan tidak dapat beradaptasi dengan baik pada dentin. Mineral trioxide aggregate memiliki kemampuan penutupan dengan baik karena bahan ini bersifat hidrofilik alamiah dan mengalami sedikit ekspansi pada lingkungan lembab, sehingga adaptasinya baik atau berkontak rapat dengan dinding dentin sehingga kebocorannya lebih rendah, meskipun di bawah kontaminasi kelembaban (Monalisa, 2008).

Copyright ©2011, Ali Taqwim [dentistalit@yahoo.co.id]

Space Maintainer

Perkembangan oklusi gigi geligi sulung (primary dentition) melalui masa gigi pergantian (mixed dentition/ trantitional dentition) ke masa gigi permanen (permanent dentition) merupakan rangkain peristiwa yang terjadi secara teratur dan pada waktu tertentu. Peristiwa ini akan menghasilkan oklusi yang fungsional, estetis dan stabil. Namun, jika rangkaian ini terganggu maka akan muncul masalah yang dapat mempengaruhi hubungan oklusal gigi permanen. Jika gangguan ini terjadi, maka tindakan korektif diperlukan untuk memperbaiki proses perkembangan oklusi ke arah normal (Sartika, 2002).

Kehilangan gigi susu secara dini  atau tanggal prematur gigi sulung dapat menimbulkan berkurangnya panjang pada lengkung rahang oleh karena adanya pergeseran gigi tetangga dan gigi antagonis ke arah ruangan yang kosong sehingga menyebabkan terjadinya kehilangan panjang lengkung rahang (Sartika, 2002). Tanggal prematur pada gigi sulung juga dapat menyebabkan gangguan pada erupsi gigi permanen bila didapatkan pengurangan lengkung rahang (Wibowo & Nuraini, 2008).

Perawatan pada tanggal prematur gigi sulung memerlukan perhatian bagi para klinisi sebab perawatan yang tidak baik akan memberikan pengaruh pada perkembangan sampai remaja (Proffit & Fieids, 1999). Penanganan pada waktu yang tepat akan mempertahankan ruang untuk pertumbuhan gigi permanen (Mc Donald et al., 2004). Apabila tidak didapatkan space loss setelah tanggal prematur, space maintainer adalah perawatan yang tepat karena erupsi gigi permanen penggantinya masih lama. Bila sudah terjadi space loss, diperlukan evaluasi untuk menentukan apakah diperlukan perawatan dengan space maintainer, space regainer atau tidak dilakukan perawatan (space control) (Wibowo & Nuraini, 2008).

Tanggal Prematur Gigi Sulung

Tanggal prematur pada gigi sulung dapat disebakan oleh adanya karies gigi ataupun karena pencabutan. Gigi sulung yang tanggal prematur berarti gigi tersebut tanggal sebelum waktu tanggalnya secara kronologis. Perawatan yang diperlukan akibat adanya gigi sulung tanggal prematur tergantung pada jenis gigi yang tanggal, waktu tanggal dan berapa banyak kekurangan tempat yang timbul akibat tanggalnya gigi sulung tersebut (Andlaw & Rock, 1992; Rahardjo, 2009).

Tanggal prematur gigi sulung menyebabkan gigi permanen yang akan tumbuh tidak mempunyai petunjuk sehingga sering salah arah dan mengakibatkan migrasi gigi tetangga. Rahang juga akan mengalami penyempitan, akibatnya tidak cukup untuk menampung semua gigi dalam susunan yang teratur. Hal ini menyebabkan gigi menjadi berjejal atau susunan gigi menjadi tidak beraturan. Selain itu, tanggal prematur juga dapat mengakibatkan terjadinya perubahan hubungan oklusi. Jika gigi sulung tanggal terlalu dini, maka gigi permanen penggantinya juga akan erupsi lebih cepat atau lebih lambatt karena mengerasnya gingival (Andlaw & Rock, 1992).

Tanggal prematur pada gigi sulung akan mengakibatkan gigi tetangganya bergeser. Ggi akan cenderung bergeser ke arah mesial karena adanya fenomena “mesial drifting tendency” dan gaya dari gigi posterior yang akan erupsi pada anak yang sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan. Akibat dari kehilangan gigi sulung juga dapat menyebabkan terjadianya pergeseran midline, gigi berjejal, perubahan pada lengkung rahang dan kehilangan ruangan untuk gigi permanen pengganti gigi sulung (Poerwanto, 2009).

http://youtu.be/Fj7cs8xWyzc

Space Maintainer

Space maintainer merupakan alat yang digunakan untuk menjaga ruang akibat kehilangan dini gigi sulung, alat ini yang dipasang diantara dua gigi. Ruang yang terjadi akibat gigi tanggal prematur perlu dipertahankan sebelum gigi tetangga bergeser ke diastema. Untuk mencegah agar ruangan tersebut tidak ditempati gigi-gigi yang berdekatan perlu dipasang piranti yang disebut space maintainer (AAPD, 2009; Rahardjo, 2009).

Fungsi dari space maintener adalah: (a) mencegah pergeseran dari gigi ke ruang yang terjadi akibat pencabutan dini; (b) mencegah ekstrusi gigi antagonis dari gigi yang dicabut dini; (c) memperbaiki fungsi pengunyahan akibat pencabutan dini; dan (d) memperbaiki fungsi estetik dan bicara setelah pencabutan dini (Moyers, 1972).

Ada berbagai macam tipe space maintainer, yang secara umum bisa dikelompokkan menjadi dua katagori, lepasan dan cekat (Foster, 1997). Klasifikasi space maintainer menurut Snawder 1980 adalah (a) space maintainer cekat dengan band, (b) space maintainer cekat tanpa band atau dengan etsa asam, (c) space maintainer lepasan dengan band atau semi-cekat, (d) space maintainer lepasan tanpa band, (e) space maintainer fungsional atau dapat dikunyah, dan (f) space maintainer non fungsional (Hprimaywati, 2008; AAPD, 2009).

Menurut Finn (1962), tipe space maintainer dapat dikelompokkan menjadi 5 (lima) jenis space maintainer yaitu;

  1. Space maintainer lepasan (removable), cekat (fixed) dan semi cekat (semi-fixed)
  2. Space maintainer dengan band dan tanpa band
  3. Space maintainer fungsional dan non fungsional
  4. Space maintainer aktif dan pasif
  5. Space maintainer kombinasi dari tipe di atas

Moyers menyatakan bahwa kehilangan dini gigi sulung terjadi apabila gigi sulung tanggal sebelum waktu erupsi gigi permanen. Tulang terbentuk kembali di atas gigi permanen yang belum erupsi sehingga menunda erupsi gigi permanen. Pada umumnya semakin dini gigi sulung dicabut, semakin besar kemungkinan pergerakan gigi geligi. Namun erupsi lebih lanjut dari gigi-gigi antagonis akan membatasi pergerakan tersebut (Andlaw & Rock, 1992).

Tanggal prematur gigi sulung insisif akan mempengaruhi estetik dan hanya sedikit berpengaruh terhadap gigi permanen. Tanggal prematur gigi kaninus dan molar akan menyebabkan terjadinya mesial drift pada gigi sebelahnya dan distal drift pada gigi depan, sehingga mengakibatkan gigi permanen tumbuh tidak pada tempatnya (Poerwanto, 2009). Menurut Hofding dan Kisling (1978), kehilangan dini pada gigi molar satu sulung pada maksila akan menyebabkan berjejalnya gigi posterior dan kehilangan ruang pada mandibula, sedangkan kehilangan gigi molar dua sulung baik pada maksila maupun mandibula akan mengakibatkan perubahan arah horizontal dari hubungan molar permanennya (Poerwanto, 2009).

Gigi yang paling sering tanggal prematur adalah molar kedua sulung terutama rahang bawah akibat karies. Dampak yang ditimbulkan adalah gigi-gigi yang berdekatan bergeser ke arah diastema, molar pertama permanen bergeser ke mesial dengan cepat dan kadang-kadang dapat menempati seluruh ruangan bekas molar kedua sulung. Akibat selanjutnya adalah ruangan bekas molar kedua sulung akan menyempit sehingga mungkin tidak cukup tempat untuk premolar kedua. Premolar kedua biasanya erupsi ke arah lingual karena benihnya ada di lingual atau kalau tempatnya sangat sedikit premolar kedua tidak bisa erupsi (Ngan et al., 1999; Rahardjo, 2009).

Gigi sulung merupakan space maintainer yang paling baik, ketika space maintainer alami ini mengalami tanggal prematur, maka perawatan dengan menjaga ruang tersebut (management space) untuk perkembangan lengkung rahang harus segera dilakukan. Perawatan kehilangan prematur pada gigi sulung dilakukan dengan memperhatikan ada atau tidaknya kelebihan ruangan dalam lengkung gigi. Pada lengkung gigi dengan ruangan yang cukup, perawatan kehilangan prematur gigi sulung dilakukan dengan pemasangan space maintainer atau gigi tiruan. Waktu yang tepat untuk penggunaan space maintainer adalah segera setelah kehilangan gigi sulung. Hal ini disebabkank kebanyakan kasus terjadi penutupan ruang setelah 6 bulan kehilangan gigi (Sungkar & Hayati, 2007; Bratanata & Hayati, 2009).

Space maintainer digunakan untuk mempertahankan ruang bekas pencabutan, tetapi penggunaan space maintainer terkadang menimbulkan kerusakan pada jaringan lunak mulut terutama pada penggunaannya dalam waktu yang lama Karena itu, indikasi dan kontra indikasinya harus diperhatikan dengan baik agar perawatan dapat berhasil sesuai dengan yang diharapkan (Andlaw & Rock, 1992; Hprimaywati, 2008).

Ali Taqwim, Mahasiswa Profesi Kedokteran Gigi Universitas Jember

Perawatan Pulpotomi pada Gigi Sulung

Pendahuluan

Karies dan cedera akibat trauma pada gigi masih sangat umum ditemukan pada anak dan perawatan kerusakan yang luas yang ditimbulkannya masih merupakan bagian utama dari praktik kedokteran gigi anak. Tujuan utama perawatan operatif pada anak adalah mencegah meluasnya penyakit gigi dan memperbaiki gigi yang rusak sehingga dapat berfungsi kembali secara sehat, sehingga integritas lengkung geligi dan kesehatan jaringan mulut dapat dipertahankan (Whitworth & Nunn, 1997).

Perawatan pulpa pada gigi sulung dapat dianggap upaya preventif karena gigi yang telah dirawat dengan berhasil dapat dipertahankan dalam keadaan nonpatologis sampai saat tanggalnya yang normal. Dengan demikian, lengkung geligi dapat dipertahankan dalam keadaan utuh, fungsi pengunyahan dipertahankan, infeksi dan peradangan kronis dapat dihilangkan sehingga kesehatan jaringan mulut yang baik dapat dipertahankan. Untuk mencapai tujuan ini, telah dikembangkan beberapa perawatan endodontik konservatif sebagai perawatan alternatif selain pencabutan gigi (Budiyanti, 2006). Salah satu perawatan pulpa konservatif pada gigi sulung adalah pulpotomi.

Definisi Pulpotomi

Pulpotomi adalah pembuangan pulpa vital dari kamar pulpa kemudian diikuti oleh penempatan obat di atas orifise yang akan menstimulasikan perbaikan atau memumifikasikan sisa jaringan pulpa vital pada akar gigi (Curzon et al.,1996). Pulpotomi disebut juga pengangkatan sebagian jaringan pulpa. Biasanya jaringan pulpa di bagian mahkota yang cedera atau mengalami infeksi dibuang untuk mempertahankan vitalitas jaringan pulpa dalam saluran akar (Bence, 1990, Welbury, 2001).

Pulpotomi bertujuan untuk melindungi bagian akar pulpa, menghindari rasa sakit dan pembengkakan, dan pada akhirnya untuk mempertahankan gigi (Kennedy, 1992). Pulpotomi dapat dipilih sebagai perawatan pada kasus yang melibatkan kerusakan pulpa yang cukup serius namun belum saatnya gigi tersebut untuk dicabut. Pulpotomi juga berguna untuk mempertahankan gigi tanpa menimbulkan simtom-simtom khususnya pada anak-anak (Koch dan Poulsen, 2001).

Keuntungan dari pulpotomi antara lain (1) dapat diselesaikan dalam waktu singkat satu atau dua kali kunjungan, (2) pengambilan pulpa hanya di bagian korona hal ini menguntungkan karena pengambilan pulpa di bagian radikular sukar, penuh ramikasi dan sempit, (3) iritasi obat – obatan instrumen perawatan saluran akar tidak ada, dan (4) jika perawatan ini gagal dapat dilakukan pulpektomi (Tarigan, 1994).

Pulpotomi dapat dibagi 3 bagian yaitu : (1) pulpotomi vital, (2) pulpotomi devital/ mumifikasi (devitalized pulp amputatio), dan (3) pulpotomi non vital/ amputasi mortal. Pulpotomi vital atau amputasi vital adalah tindakan pengambilan jaringan pulpa bagian koronal yang mengalami inflamasi dengan melakukan anestesi, kemudian memberikan medikamen di atas pulpa yang diamputasi agar pulpa bagian radikular tetap vital. Pulpotomi vital umunya dilakukan pada gigi sulung dan gigi permanen muda. Pulpotomi gigi sulung umunya menggunakan formokresol atau glutaraldehid (Andlaw dan Rock, 1993; Kennedy, 1992).

Pulpotomi devital atau mumifikasi adalah pengembalian jaringan pulpa yang terdapat dalam kamar pulpa yang sebelumnya di devitalisasi, kemudian dengan pemberian pasta anti septik, jaringan dalam saluran akar ditinggalkan dalam keadaan aseptik. Untuk bahan devital gigi sulung dipakai pasta para formaldehid (Tarigan, 1994).

Pulpotomi non vital (mortal) adalah amputasi pulpa bagian mahkota dari gigi yang non vital dan memberikan medikamen/ pasta antiseptik untuk mengawetkan dan tetap dalam keadaan aseptik. Tujuan dari pulpotomi non vital adalah untuk mempertahankan gigi sulung non vital untuk space maintainer (Andlaw dan Rock, 1993; Kennedy, 1992).

Indikasi dan Kontraindikasi Pulpotomi

Indikasi Pulpotomi

Secara umum Indikasi perawatan pulpotomi adalah perforasi pulpa karena proses karies atau proses mekanis pada gigi sulung vital, tidak ada pulpitis radikular, tidak ada rasa sakit spontan maupun menetap, panjang akar paling sedikit masih dua pertiga dari panjang keseluruhan, tidak ada tanda-tanda resorpsi internal, tidak ada kehilangan tulang interradikular, tidak ada fistula, perdarahan setelah amputasi pulpa berwarna pucat dan mudah dikendalikan (Budiyanti, 2006). Selain itu indikasinya adalah anak yang kooperatif, anak dengan pengalaman buruk pada pencabutan, untuk merawat pulpa gigi sulung yang terbuka, merawat gigi yang apeks akar belum terbentuk sempurna, untuk gigi yang dapat direstorasi (Bence, 1990, Andlaw dan Rock, 1993).

Secara terperinci, untuk masing-masing jenis pulpotomi adalah sebagai berikut.

a. Pulpotomi Vital

1)      Gigi sulung dan gigi tetap muda vital, tidak ada tanda – tanda gejala peradangan pulpa dalam kamar pulpa.

2)      Terbukanya pulpa saat ekskavasi jaringan karies / dentin lunak prosedur pulp capping indirek yang kurang hati – hati, faktor mekanis selama preparasi kavitas atau trauma gigi dengan terbukanya pulpa.

3)      Gigi masih dapat dipertahankan / diperbaiki dan minimal didukung lebih dari 2/3 panjang akar gigi.

4)      Tidak dijumpai rasa sakit yang spontan maupun terus menerus.

5)      Tidak ada kelainan patologis pulpa klinis maupun rontgenologis.

b. Pulpotomi Devital

1)      Gigi sulung dengan pulpa vital yang terbuka karen karies atau trauma.

2)      Pada pasien yang tidak dapat dilakukan anestesi.

3)      Pada pasien yang perdarahan yang abnormal misalnya hemofili.

4)      Kesulitan dalam menyingkirkan semua jaringan pulpa pada perawatan pulpektomi terutama pada gigi posterior.

5)     Pada waktu perawatan pulpotomi vital 1 kali kunjungan sukar dilakukan karena kurangnya waktu dan pasien tidak kooperatif.

c. Pulpotomi Non-vital

1)      Gigi sulung non vital akibat karies atau trauma.

2)      Gigi sulung yang telah mengalami resorpsi lebih dari 1/3 akar tetapi masih diperlukan sebagai space maintainer.

3)      Gigi sulung yang telah mengalami dento alveolar kronis.

4)    Gigi sulung patologik karena abses akut, sebelumnya abses harus dirawat dahulu.

Kontraindikasi Pulpotomi

Secara umum kontraindikasi pulpotomi adalah sakit spontan, sakit pada amlam hari, sakit pada perkusi, adanya pembengkakan, fistula, mobilitas patologis, resorpsi akar eksternal patologis yang luas, resorpsi internal dalam saluran akar, radiolusensi di daerah periapikal dan interradikular, kalsifikasi pulpa, terdapat pus atau eksudat serosa pada tempat perforasi, dan perdarahan yang tidak dapat dikendalikan dari pulpa yang terpotong (Budiyanti, 2006). Selain itu, kontraindikasinya adalah pasien yang tidak kooperatif, pasien dengan penyakit jantung kongenital atau riwayat demam rematik, pasien dengan kesehatan umum yang buruk, kehilangan tulang pada apeks dan atau di daerah furkasi (Kennedy, 1992; Andlaw dan Rock, 1993).

Secara terperinci, untuk masing-masing jenis pulpotomi adalah sebagai berikut.

a. Pulpotomi Vital

1)      Rasa sakit spontan.

2)      Rasa sakit terutama bila diperkusi maupun palpasi.

3)      Ada mobiliti yang patologi.

4)      Terlihat radiolusen pada daerah periapikal, kalsifikasi pulpa, resorpsi akar interna maupun eksterna.

5)      Keadaan umum yang kurang baik, di mana daya tahan tubuh terhadap infeksi sangat rendah.

6)      Perdarahan yang berlebihan setelah amputasi pulpa.

b. Pulpotomi Devital

1)      Kerusakan gigi bagian koronal yang besar sehingga restorasi tidak mungkin dilakukan.

2)      Infeksi periapikal, apeks masih terbuka.

3)      Adanya kelainan patologis pulpa secara klinis maupun rontgenologis.

Prosedur Perawatan Pulpotomi

Prosedur pulpotomi meliputi pengambilan seluruh pulpa bagain korona gigi dengan pulpa terbuka karena karies yang sebagaian meradang, diikuti dengan peletakkan obat-obatan tepat di atas pulpa yang terpotong. Setelah penempatan obat, selanjutnya dapat dilakukan penumpatan permanen. Pada gigi sulung, prosedur pulpotomi dapat dilakukan dalam satu kali kunjungan (Budiyanti, 2006).

Pada gigi sulung, prosedur pulpotomi dapat dilakukan dalam satu kali kunjungan jika dibantu dengan penggunaan anastesi lokal. Dalam hal ini tekniknya merupakan amputasi pulpa vital (Kennedy, 1992). Prinsip dasar perawatan endodontik gigi sulung dengan pulpa non vital adalah untuk mencegah sepsis dengan cara membuang jaringan pulpa non vital, menghilangkan proses infeksi dari pulpa dan jaringan periapikal, memfiksasi bakteri yang tersisa di saluran akar (Mathewson & Primosch,1995).

Gambar 1. Langkah-langkah perawatan pulpotomi vital formokresol satu kali kunjungan. (1). Ekskavasi karies, (2). Buang atap kamar pulpa, (3). Buang pulpa di kamar pulpa dengan ekskavator, (4). Pemotongan pulpa di orifis dengan bor bundar kecepatan rendah, (5). Pemberian formokresol selama 5 menit, (6). Pengisian kamar pulpa dengan campuran zinc oxide dengan formokresol dan eugenol, (7). Gigi yang telah di restorasi

Sumber: Curzon et al.,1996

Perawatan pulpotomi dinyatakan berhasil apabila kontrol setelah 6 bulan tidak ada keluhan, tidak ada gejala klinis, tes vitalitas untuk pulpotomi vital (+) dan pada gambaran radiografik lebih baik dibandingkan dengan foto awal. Tanda pertama kegagalan perawatan adalah terjadinya resorpsi internal pada akar yang berdekatan dengan tempat pemberian obat. Pada keadaan lanjut diikuti dengan resorpsi eksternal (Budiyanti, 2006).

Pada molar sulung, radiolusensi berkembang di daerah apeks bifurkasi atau trifurkasi, sedangkan pada gigi anterior di daerah apeks atau di sebelah lateral akar (Camp et al., 2002). Apabila infeki pulpa sampai melibatkan benih gigi pengganti, atau gigi mengalami resopsi internal atau eksternal yang luas, maka sebaiknya dicabut (Whitworth & Nunn, 1997).

Ali Taqwim, Mahasiswa Profesi Kedokteran Gigi universitas Jember

Kegawatdaruratan Medis di Bidang Kedokteran Gigi Anak

Kegawatdaruratan di bidang kedokteran gigi anak adalah kasus-kasus kegawatdaruratan yang terjadi pada anak saat dilakukan perawatan gigi. Kejadian kegawatdaruratan merupakan kasus yang jarang terjadi di tempat praktek namun kejadian ini sangat tidak diharapkan terjadi. Beberapa kasus kegawatdaruratan terjadi pada dewasa namun ternyata dapat pula terjadi pada anak-anak (Riyanti, 2008).

Beberapa penelitian yang dilakukan oleh Committee for the Prevention of Systematic Complications During Dental Treatment of The Japanesse Dental Society antara tahun 1980-1984 di Jepang menunjukkan sekitar 19-44% dokter gigi mendapatkan kasus kegawatdaruratan setiap tahun. Sekitar 90% merupakan kasus ringan namun sekitar 8% merupakan kasus yang cukup berat (Haas, 2006). Kasus kegawatdaruratan paling sering didapatkan adalah saat dan setelah dilakukan anestesi lokal, dimana lebih dari 60% adalah kasus sinkop dan 7% disertai hiperventilasi (Melamed, 2003).

Kegawatdaruratan pasien anak merupakan hal yang jarang dalam perawatan kedokteran gigi tetapi jika hal ini terjadi maka dapat mengancam nyawa. Kegawatdaruratan dapat terjadi sehubungan dengan berbagai penyebab (Melamed, 2003). Dokter gigi secara umum harus siap untuk menangani secara menyeluruh dan efektif jika kegawatdaruratan ini terjadi.

Penanganan Dasar pada Kegawadaruratan

Di dalam merawat pasien, dokter gigi akan berhadapan dengan pasien dengan populasi dan variasi status kesehatan pasien yang berbeda-beda. Oleh karena itu, persiapan dalam menghadapi pasien-pasien dengan status kesehatan medically compromised patient merupakan hal utama yang harus dilakukan. Anamnesa lengkap sebelum tindakan harus dilakukan oleh setiap dokter gigi. Anamnesa tidak hanya mengenai gigi yang menjadi keluhan utama, namun kesehatan umum dan riwayat perawatan gigi terdahulu juga merupakan hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Orang tua kadang tidak menyadari kelainan sistemik yang dialami oleh anaknya, oleh karena itu dokter gigi harus dapat mengarahkan pertanyaan yang diberikan agar segala kelainan sistemik yang dialami anak dapat terungkap saat perawatan gigi akan dilakukan (Riyanti, 2008).

Beberapa pertanyaan awal di bawah ini sangat membantu saat akan merawat pasien yaitu, apakah ada efek samping dan jika ada bagaimana perawatan umumnya, apakah efek perawatan gigi akan menyebabkan penyakit secara umum, dan bagaimana reaksi obat yang akan timbul serta interaksinya dan bagaimana mengantisipasinya. Tindakan yang dilakukan seorang dokter gigi harus mengacu pula pada clinical risk management yaitu proses sistematik untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengontrol kejadian ataupun reaksi yang akan muncul setelah tindakan medis (Field & Longman, 2004).

Sebagai seorang dokter gigi, kita harus memiliki ilmu dan keterampilan dalam menghadapi keadaan gawat darurat tersebut. Pada pasien anak, keadaan kegawatdruratan yang paling umum terjadi adalah biasanya sehubungan dengan pemberian obat-obatan, yang paling sering adalah anestesi lokal dan/atau penggunaan depresan sistem saraf pusat sebagai sedasi, selain itu juga disebabkan oleh adanya riwayat penyakit sistemik dari anak tersebut. Sebelum melakukan perawatan, maka seorang dokter gigi harus bias mendapatkan informasi riwayat kesehatan pasien tersebut, sehingga dokter gigi dapat memberikan perawatan yang sesuai dan bertindak hati-hati terhadap adanya kemungkinan dari kondisi sistemik pasien tersebut.

Tindakan yang cepat dan benar merupakan kunci utama penatalaksanaan kegawatdaruratan. Kecekatan operator di dalam mengambil tindakan harus dilatih dengan benar, agar kesalahan pengambilan keputusan dapat dihindari. Perlu pula ditentukan apakah pasien dalam keadaan sadar atau tidak, bila pasien tidak sadar maka tidak ada respons terhadap stimulasi. Penatalaksanaan dasar dalam kegawatdaruratan yaitu position, airway, breathing, circulation, dan definitive care (pada basic life support biasa disebut dengan defibrillation) (Gambar 1) (Melamed, 2003; Frush et al., 2008).

Gambar 1. Diagram penatalaksanaan kegawadaruratan medis. Sumber: Melamed, 2008

Pada saat terjadi kegawadaruratan media pasien anak di dalam ruang praktek, maka tindakan penanganannya adalah mengacu pada penatalaksanaan dasar dalam kegawatdaruratan yaitu position, airway, breathing, circulation, dan definitive care.

Position

Penyebab utama hilangnya kesadaran adalah hipotensi. Segera letakkan pasien tidak sadar pada tempat yang rata dengan posisi supine dimana kaki lebih tinggi daripada badan. Posisi ini akan menghasilkan peningkatan aliran darah di daerah kepala dengan sedikit hambatan dalam sistem respirasi. Pada pasien dengan penyebab acute respiratory distress seperti acute asthmatic bronchospasm maka posisi yang paling nyaman adalah tegak lurus agar ventilasi dapat meningkat (Melamed, 2003; Melamed 2007; Frush et al., 2008).

Airway and Breathing

Tindakan airway dan breathing pada pasien sadar dilakukan dengan heimlich maneuver dan pasien tidak sadar dilakukan dengan menerapkan posisi tilt-chin lift maneuver (Gambar 2) kemudian diikuti dengan pemeriksaan ventilasi melalui look, listen, feel. Perhatikan dan pastikan apakah penderita dapat bernafas spontan ataukah penderita mencoba untuk dapat bernafas. Cara ini dilakukan dengan mendengarkan dan merasakan pertukaran udara yang keluar melalui mulut ataupun hidung. Apabila tidak ada usaha respirasi spontan yang ditandai dengan tidak ada pergerakan pundak maka kontrol ventilasi harus menggunakan bantuan nafas (Melamed, 2003; Melamed 2007).

Gambar 2. Teknik chin lift-head tilt (kiri). Mouth-to-mask ventilation (kanan). Sumber: Melamed, 2003

Penggunaan full face mask dan positive pressure oxygen bagi pasien di atas usia delapan tahun yaitu dengan memberikan ventilasi kira-kira satu hembusan nafas untuk setiap lima detik, dan satu kali nafas tiap tiga detik untuk bayi dan anak (Frush et al., 2008). Apabila ventilasi spontan sudah terjadi yaitu ditandai dengan adanya gerakan spontan pada dada maka tindakan ventilasi harus dihentikan oleh karena dapat mengakibatkan gastric distension dan regurgitation (Melamed, 2003; Melamed 2007).

Definitive Care

Tindakan definitive care dilakukan sesuai dengan diagnosis yang telah ditegakkan. Tentukan dengan benar diagnosis penyebab terjadinya kegawatdaruratan agar tindakan definitive care bisa berhasil (Melamed, 2003; Melamed 2007).

Copyright ©2011, Ali Taqwim [dentistalit@yahoo.co.id]

Ulcus Decubitus pada Rongga Mulut Anak

 

Di sebuah tempat praktek dokter gigi, seorang pasien membawa anaknya yang sudah beberapa hari kesulitan makan. Bunda anak tersebut mengeluh bahwa anaknya merasa sakit di bagian gusinya.

“Dok gigi seri anak saya sudah tumbuh di atas sini, ini kelihatan putih di atas gigi susu.” kata seorang ibu kepada dokter gigi.

“Anak ibu usianya berapa, Bu?”

“Empat tahun dok, kasihan itu ada luka gara-gara putih-putih itu, seperti sariawan.”

Setelah diperika, gigi susu anak kelihatan sudah habis mahkotanya, meninggalkan sisa akar gigi. Di daerah perbatasan gusi dan bibir ada luka mirip sariawan dan sebuah ”putih-putih”.

Apakah putih-putih tadi? Betulkah itu gigi tetap yang hendak tumbuh?

Gigi susu yang telah habis mahkotanya, menyisakan akar gigi di dalam gusi dan tulang penyangga. Tekanan kunyah pada sisa akar gigi tersebut sering membuat kemiringan akar gigi atau inklinasinya berubah. Ujung akar bisa berubah miring ke arah langit-langit {palatum) atau ke arah bibir dan menyembul ke arah gusi. Tajamnya ujung akar seringkali membuat luka pada panggkal bibir bagian dalam yang terkena. Luka inilah yang disebut sebagi ulcus decubitus.

Secara umum, ulcus decubitus (ulkus kulit, bedsores) adalah kerusakan kulit yang terjadi akibat kekurangan aliran darah dan iritasi pada kulit yang menutupi tulang yang menonjol, dimana kulit tersebut mendapatkan tekanan. Kulit kaya akan pembuluh darah yang mengangkut oksigen ke seluruh lapisannya. Jika aliran darah terputus lebih dari 2-3 jam, maka kulit akan mati, yang dimulai pada lapisan kulit paling atas (epidermis). Penyebab dari berkurangnya aliran darah ke kulit adalah tekanan. Jika tekanan menyebabkan terputusnya aliran darah, maka kulit yang mengalami kekurangan oksigen pada mulanya akan tampak merah dan meradang lalu membentuk luka terbuka (ulkus).

Dari Medical Dictionary (thefreedictionary.com);
decubital ulcer , decubitus ulcer (bedsore)an ulceration due to an arterial occlusion or prolonged pressure, as when a patient is confined to a bed or a wheelchair.
ulcer, decubitus
1. a bedsore.
2. older term for a traumatic ulcer of the oral mucosa. More commonly called traumatic ulcer.

Di bidang kedokteran gigi, ulcus decubitus dapat terjadil seperti pada kasus di atas. Gigi susu atau gigi sulung adalah gigi-geligi yang pertama kali tumbuh pada periode tumbuh kembang anak. Pertumbuhannya sendiri diawali dengan gigi seri bawah, pada usia rata-rata 6 bulan, kemudian dikuti dengan pertumbuhan gigi seri atas, kemudian gigi taring dan gigi geraham. Biasanya gigi susu sudah lengkap pada usia 2 tahun. Gigi susu pada anak bila telah mencapai usia 6 tahun, maka akan digantikan oleh gigi tetap. Pergantian inilah yang memerlukan perhatian khusus dari orang tua, karena jika tidak ditangani dengan baik akan menyebabkan kelaianan disaat anak tumbuh dewasa nanti.

Kelainan tersebut bisa terjadi anatara lain susunan lengkung gigi anak tumbuh tidak baik saat dewasa nanti, gigi dapat tumbuh lebih maju atau lebih mundur dari lengkung yang seharusnya, bisa juga menyebabkan pertumbuhan gigi yang tumpang tindih, dan resistensi gigi susunya, sehingga bila dicabut pada usia dewasa akan menyebabkan celah pada daerah tersebut. Selain itu, akar gigi susu akan terdorong oleh gigi tetap dan keluar dari gusi, kondisi ini disebut dengan ulkus decubitus.

Bedanya dengan Gigi Tetap yang akan Tumbuh
Ujung akar gigi ini bisa dibedakan dari gigi tetap yang baru tumbuh. Selain dokter gigi melihat usia anak seperti pada kasus di atas. Anak baru berusia 4 tahun, berarti belum masanya tumbuh gigi seri tetap atas yang baru akan muncul pada usia sekitar 7 tahun. Hal lain yang dapat dibedakan adalah dari bentuknya, bila gigi tetap umunya bentuknya halus, lebarnya melebihi ukuran lebar gigi susu. Ujung akar gigi susu yang muncul dari gusi umumnya kecil, runcing dan tajam.

Penanganannya
Penanganann kasus ulcus decubitus adalah dengan pencabutan sisia akar gigi susu tersebut, sehingga ujung akar tidak lagi melukai gusi. Alangkah baiknya bila orang tua telah melihat ujung akar gigi keluar dari gusi, dan anak segera dibawa ke dokter gigi untuk dilakukan pencabutan sebelum sempat melukai gusi dan pangkal selaput bibir bagian dalam. Untuk anak yang takut giginya dicabut, bisa dilakuakn tindakan darurat dengan memotong ujung yang tajam tadi, sehingga tidak lagi melukai gusi, dengan suatu alat khusus.

Jadi apabila orang tua menemukan “putih-putih” di daerah ujung akar gigi yang telah kehilanghan mahkotanya, terlihat runcing kecil dan tajam, apalagi sudah menimbulkan luka seperti sariawan. Maka, segeralah ke dokter gigi untuk mencari pertolongan, karena luka ulcus decubitus menimbulkan rasa perih, sakit, dan tidak nyaman bagi anak untuk makan dan minum.

 

Ali Taqwim, Mahasiswa Profesi Kedokteran Gigi Universitas Jember