Osteoporosis pada Wanita dalam Perspektif Islam

Posted on Updated on

Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian [1051] mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana”. [QS. An-Nur : 60]

Usia harapan hidup penduduk dunia semakin meningkat sebagai hasil perbaikan perawatan kesehatan. Menurut WHO (World Health Organization), pada tahun 2020 diperkirakan penduduk lanjut usia (lansia) di seluruh dunia akan melebihi 1 milyar jiwa (Alwi, 1995; Subrata, 1995; Rambulangi, 2005). Di Indonesia penduduk usia di atas 65 tahun diperkirakan meningkat 15,75 % dari jumlah penduduk (Rachman, 2004). Sedang di negara tetangga seperti Singapura, Jepang, Korea Selatan, Cina, Thailand, Vietnam dan Filipina angka tersebut meningkat dengan rata-rata 20,15% dari jumlah penduduk. Angka ini akan terus meningkat seiring dengan perkembangan jaman (Prawirohardjo, 1999; Rachman, 2004).

Peningkatan usia harapan hidup terjadi sebagai dampak keberhasilan program kesehatan nasional. Pada keadaan tersebut, populasi penduduk lansia akan meningkat dengan kecenderungan jumlah lansia wanita lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Peningkatan penduduk lansia tersebut memberikan dampak yang cukup kompleks dari segi sosial, ekonomi, maupun kesehatan (Prawirohardjo, 1999; Kusdhani et al., 2000). Di bidang kesehatan, para lansia tersebut dihadapkan dengan peningkatan penyakit menua yang menyertainya antara lain osteoporosis (Alwi, 1995; Prawirohardjo, 1999).

Penyakit osteoporosis ditandai dengan keadaan massa tulang yang rendah dan perubahan mikroarsitektur jaringan tulang yang berakibat pada peningkatan fragilitas tulang dengan risiko terjadinya peningkatan fraktur tulang (Sondakh et al., 2001). Osteoporosis merupakan penyakit yang menyertai penyakit menua seiring usia harapan hidup penduduk dunia. Di dalam Al-Quran, penyakit osteoporosis atau kerapuhan tulang yang terjadi pada lansia telah dijelaskan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :

Ia berkata, ”Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah/ rapuh dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku”.[QS. Maryam : 4]

Osteoporosis banyak diderita oleh penduduk di dunia baik laki-laki maupun wanita, hal ini didasarkan pada data statistik yang didapatkan bahwa 1 dari 2 perempuan dan 1 dari 4 laki-laki dengan usia lebih dari 50 tahun mempunyai risiko patah tulang yang disebabkan osteoporosis (Rachman, 2004; National Osteoporosis Foundation, 2006). Pada keadaan ini terjadi pengurangan massa atau jaringan tulang per unit volume tulang dibandingkan dengan keadaan tulang normal. Hal ini terutama banyak terjadi pada lansia wanita (Yatim, 2003).

Terjadinya osteoporosis pada wanita sangat berkaitan dengan kegagalan mencapai massa tulang puncak dewasa yang adekuat dan atau laju kehilangan tulang yang dipercepat berkaitan dengan menopause (Sondakh et al., 2001). Hal ini dikarenakan menurunnya dan atau hilangnya hormon estrogen dalam tubuh pada masa setelah menopause. Jika kadar estrogen dalam tubuh menurun maka dapat terjadi peningkatan aktivitas osteoklas sehingga menyebabkan resorpsi tulang yang tidak normal. Dalam jangka waktu lama, keadaan ini dapat mengakibatkan keropos tulang yang lebih dikenal sebagai osteoporosis pascamenopause (SIGN, 2003; Rachman, 2004).

Menopause biasanya terjadi pada usia 45 sampai 50 tahun yang didahului dengan tidak teraturnya siklus seksual dan tidak terjadinya ovulasi. Masa menopause dapat terjadi secara alamiah yang dialami oleh setiap wanita (Guyton & Hall, 1997; Prawiroharjo, 1999). Dalam Islam, dipahami bahwa kehidupan manusia akan mengalami tiga fase, yaitu masa bayi, masa muda dan masa tua, sehingga menopause juga harus dipahami sebagai ketentuan Allah. Di dalam Al-Quran, Allah SWT telah berfirman :

Kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah pada kedewasaan dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan ada pula di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dulunya diketahuinya. [QS. Al Hajj : 5]

Saat memasuki menopause, ada wanita yang menyambutnya dengan biasa karena menganggap kondisi ini sebagai bagian dari siklus kehidupan alamiah. Sebaliknya ada yang penuh kecemasan, karena berakhirnya masa reproduksi dimana vitalitas dan fungsi organ-organ tubuh menjadi menurun. Keadaan-keadaan seperti di atas sesungguhnya telah ditegaskan Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, Allah SWT telah berfirman :

“Dan sesungguhnya Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekuranngan harta, jiwa dan buah-buahan” [QS. al-Baqarah : 155]

Secara fisiologis, kadar estrogen menurun sampai di bawah 10% pada masa pascamenaopause. Penurunan kadar estrogen yang normal ini dihubungan dengan pengerasan ovarium, sehingga ovarium tidak dapat lagi menjawab rangsangan hormon foliclle stimulating hormone (FSH) untuk membentuk estradiol (Rachman, 2004). Pada akhirnya, penurunan estrogen dalam waktu yang lama dapat mengakibatkan osteoporosis pascamenopause pada wanita yang berusia 50 tahun ke atas (Baziad, 2002).

Akibat yang paling sering terjadi pada osteoporosis adalah fraktur tulang. Insidensi fraktur tulang ini mencapai lebih dari 1,5 juta kasus tiap tahun dan prevalensinya terus meningkat secara progresif (Alan & Gaby, 2004; National Osteoporosis Foundation, 2006). Osteoporosis merupakan salah satu kelainan yang perlu diwaspadai, karena bila terjadi komplikasi akan menambah morbiditas dan pembiayaan, bahkan dapat terjadi kematian (Sondakh et al., 2001).

Di dalam islam, penyakit merupakan musibah atau ujian yang ditetapkan Allah atas hamba-hamba-Nya, dan sesungguhnya pada musibah itu terdapat manfaat bagi kaum mukminin.

Shuhaib Ar-Rumi r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda:

“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sungguh seluruh  perkaranya adalah kebaikan. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kelapangan, ia bersyukur. Maka yang demikian itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar. Maka yang demikian itu baik baginya”. [HR. Muslim]

Sebagaimana Allah SWT menurunkan penyakit, Allah pula yang menurunkan obat bersama penyakit itu. Obat tersebut menjadi rahmat dan keutamaan dari-Nya untuk hamba-hamba-Nya, baik yang mukmin maupun yang kafir. Rasulullah SAW bersabda :

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan untuk penyakit itu obatnya”. [HR. Bukhari]

Hal ini menjadi dasar bagi setiap muslim untuk selalu berusaha mencari obat dari setiap penyakit yang ada.

Copyright ©2010, Ali Taqwim [dentistalit@yahoo.co.id]

4 thoughts on “Osteoporosis pada Wanita dalam Perspektif Islam

    karina said:
    Juni 30, 2011 pukul 2:32 am

    boleh minta referensinya dari artikel osteoporosis pada wanita dalam perspektif islam..
    thx

      dentosca responded:
      Juni 30, 2011 pukul 3:34 am

      Silakan, Semoga bermanfaat🙂

        karina said:
        Juni 30, 2011 pukul 4:02 am

        referensinya bisa tolong dikirimin ke email saya?soalnya ini kan gak ada referensinya thx
        referensi lengkapnya gitu
        thx

    chubbychoi23dy said:
    September 1, 2013 pukul 12:44 pm

    boleh tau referensinya apa aj ga? soalnya dicari ga nemu nih….
    makasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s