“PERAN KAFEIN TERHADAP PENINGKATAN RESORPSI TULANG ALVEOLAR”

Posted on Updated on

Kopi merupakan minuman yang cukup dikenal umat manusia. Tak seorangpun tak mengenal kopi. Minuman ini sudah dikenal di mana-mana sejak ratusan tahun lalu. Begitu terkenalnya kopi sampai timbul istilah coffee break atau “rehat kopi” di setiap acara resmi seperti seminar, lokakarya, rapat, dll.

Saat itu para tamu atau peserta beristirahat sebentar untuk menikmati kue-kue sambil minum secangkir kopi atau Teh. Sementara dalam kehidupan sehari-hari, kopi seringkali dijadikan pendamping sarapan pagi. Sekalipun demikian mungkin jarang kita mengamati apa manfaat atau dampak negatif kopi bagi kesehatan.


Kurang lebih 80 % orang di seluruh dunia setiap harinya mengkonsumsi kopi dan teh yang sudah terbukti mangandung kafein, disamping coklat dan makanan lain yang mangandung kafein seperti soft drink dan orange juice. Efek dari kafein ini telah diketahui secara umum sebagai perangsang sistem saraf pusat sehingga orang mendapatkan kesan tidak mudah lelah dan selalu bertenaga serta diduga dapat meningkatkan kecerdasan (1).

Kafein juga mempunyai efek yang lain yaitu menghambat proliferasi sel-sel pembentuk tulang atau osteoblas. Adanya hambatan tersebut diduga dapat menyebabkan osteoporosis (2). Osteoporosis merupakan penyakit tulang sistemik yang dapat mengenai keseluruhan tulang termasuk tulang alveolar (3).

Tulang alveolar merupakan struktur yang penting dalam rongga mulut karena berfungsi menyangga gigi geligi dan merupakan bagian dari jaringan periodontal (4). Prosentase populasi di Indonesia mengalami kerusakan jaringan periodontal sebesar 90 % (5). Salah satu manifestasi kerusakan jaringan periodontal adalah resorpsi tulang alveolar (6).

Resorpsi tulang alveolar tidak selalu dihubungkan dengan adanya infeksi bakteri yang mengeluarkan produk LPS (LipoPolysaccharide) untuk mengadakan destruksi pada tulang tetapi juga rendahnya intake kalsium (3). Kurangnya intake kalsium dapat mengakibatkan labilnya tulang alveolar. Adanya jaringan osteoid yang tidak terkalsifikasi dalam sumsum tulang alveolar dan terjadinya penanggalan gigi disebabkan adanya resorpsi tulang alveolar sehingga ligamen periodontal lepas dari perlekatannya (7).

Struktur dasar tulang alveolar lebih banyak mengandung substansia spongiosa dibandingkan substansia kompakta (8). Tulang alveolar bagian spongiosa mengandung banyak rongga sumsum tulang yang aktif dalam hal metabolisme karena pada daerah inilah banyak terdapat pembuluh darah yang akan membawa nutrisi untuk jaringan, hal inilah yang membedakan metabolisme tulang alveolar dengan tulang yang lain (9). Sedangkan lapisan luar tulang yang dibentuk oleh substansia kompakta yang jauh lebih padat dan kurang aktif secara metabolik (10).

Efek dari konsumsi kafein terhadap tulang, melibatkan penghambatan aktivitas osteoblas secara langsung maupun tidak langsung (11). Keseimbangan mineral tulang diatur oleh aktivitas dari osteoblas (10). Pada tahap resorpsi tulang, peran utama osteoblas tidak hanya meretraksi untuk memaparkan mineral terhadap osteoklas dan preosteoklas, tetapi juga melepas faktor pelarut yang akan mengaktifkan sel-sel tersebut. Sedangkan pada tahap akhir resorpsi tulang diketahui bahwa osteoblas melepas kolagenase, khususnya dalam menanggapi agen resorpsi seperti hormone parathyroid. Adanya sintesis kolagenase oleh osteoblas ini memperlihatkan bahwa osteoblas turut berperan dalam degradasi matriks, yaitu dengan mendigesti lapisan non materialisasi osteoid pada permukaan tulang agar memungkinkan terjadinya aktivitas osteoklas (12).

Kafein yang terkandung dalam berbagai makanan yang kita konsumsi akan diserap usus kemudian dibawa ke seluruh tubuh termasuk jaringan saraf. Mekanisme perangsangan saraf oleh kafein masih belum jelas, tetapi ditemukan bahwa gugus metil yang terdapat pada substruktur kafein ketika bereaksi dengan membran sel akan lepas. Gugus metil ini akan berdifusi diantara dua lapisan membran dan menambah kandungan metil pada lemaknya, selanjutnya menyebabkan terjadinya perubahan tegangan permukaan. Tegangan permukaan yang turun, menyebabkan membran lebih mudah dibasahi oleh air dan zat-zat terlarut, sehingga ion-ion mudah berdifusi dan mendorong terjadinya pertukaran ion secara selektif. Hal inilah yang menimbulkan eksitasi antar sinaps menjadi lebih aktif. Keaktifan eksitasi ini merupakan stimulator listrik bagi lepasnya zat neurotransmitter sentral seperti GABA (Gama Amino Butirat Acid) atau asetil kolin yang menimbulkan respons pascasinaps yang kuat dan secara aktif menstimulasi sistem saraf pusat (13).

Terjadinya stimulasi sistem saraf pusat tersebut merangsang permukaan sel untuk melepaskan enzim fosfolipase A2. Fosfolipase A2 ini akan memacu pelepasan asam arakidonat dari lipida membran dan kemudian dan kemudian dikonversi menjadi derivat siklik PGE2 melalui kerja siklooksigenase. PGE2 yang telah dihasilkan memberikan efek-efek tertentu pada tubuh diantaranya menghambat resorpsi elektrolit pada tubuli proksimal dan menyebabkan air yang masuk tidak diabsorbsi ulang sehingga cenderung dieksresikan dalam jumlah tetap. Akibatnya terjadilah diuresis, yaitu produksi urin meningkat melebihi normal (10).

Zat-zat yang diekskresikan dalam urin, selain garam-garam nitrogen juga kalsium. Jika intake kalsium kurang maka kadar kalsium dalam darah menurun karena dikeluarkan secara terus-menerus melalui urin. Untuk menjaga konsentrasi kalsium lebih konstan, maka kalsium dalam tulang dirombak dan dimobilisasi ke dalam darah. Jika kalsium tulang terus-menerus dikurangi, maka tulang menjadi tidak cukup memiliki kalsium untuk proses kalsifikasinya dan menyebabkan kepadatan tulang berkurang disertai berkurangnya massa tulang (13).

Peningkatan PGE2 tidak hanya menyebabkan diuresis, tetapi kadar PGE2 yang tinggi juga dapat secara langsung mempengaruhi diferansiasi osteoklas melalui peningkatan aktivitas prekursor mononuklear menjadi preosteklas dan osteoklas matur. Selain itu PGE2 juga meningkatkan aktivitas osteoklas matur untuk meresorpsi tulang dan membentuk matriks ekstra seluler (14). Pengaruh ini dihubungkan dengan meningkatnya derajat cAMP dalam tulang melalui aktivasi adenilat siklase yang menyebabkan peningkatan jumlah, aktivitas dan mobilisasi osteoklas (15).

Osteoklas meresorpsi tulang dengan mekanisme sebagai berikut : mula-mula osteoklas menjulurkan perpanjangan seperti villi ke tulang dan dari villi ini dieksresikan beberapa macam bahan yaitu (1) enzim proteolitik yang mengandung kolagenase dan carbonic anhydrase II (CA II) beberapa macam asam seperti asam sitrat dan asam laktat. Enzim kolagenase akan mendestruki kolagen tulang sedangkan enzim CA II mengkatalisis perubahan CO2 menjadi H2CO3 intra sel, kemudian CA II juga mengkatalisis perubahan H2CO3 menjadi H+ dan HCO3. Kadar H+ yang tinggi menyebabkan terlarutnya ion kalsium dalam tulang. Selanjutnya ion kalsium dan kolagen tulang akan difagositosis oleh villi dan dicernakan dalam osteoklas (16).

Tingginya PGE2 juga dapat menurunkan diferensiasi osteoblas, melalui reseptor spesifik yang akan meningkatkan aktivitas enzim fosfodiesterase dalam osteoblas. Enzim ini merangsang degradasi cAMP sehingga kadar cAMP menurun dan mengakibatkan aktivitas osteoblas menurun (14).

Peningkatan PGE2 oleh kafein berpengaruh terhadap peningkatan aktivitas osteoklas dan dapat memicu adanya resorpsi tulang alveolar. Hal ini sesuai dengan penelitian Kamagata et.al (1999) kadar 0,1 mg/ml kafein sudah dapat meningkatkan produksi PGE2 sehingga menghambat aktivitas osteoblas. Efek lain yang dapat ditimbulkan PGE2 tersebut adalah mengaktifkan osteoklas yang berperan dalam terjadinya resorpsi tulang (2).

 

copyright: Ali Taqwim, dentistalit@yahoo.co.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s