Kegawatdaruratan Medis di Bidang Kedokteran Gigi Anak

Posted on Updated on

Kegawatdaruratan di bidang kedokteran gigi anak adalah kasus-kasus kegawatdaruratan yang terjadi pada anak saat dilakukan perawatan gigi. Kejadian kegawatdaruratan merupakan kasus yang jarang terjadi di tempat praktek namun kejadian ini sangat tidak diharapkan terjadi. Beberapa kasus kegawatdaruratan terjadi pada dewasa namun ternyata dapat pula terjadi pada anak-anak (Riyanti, 2008).

Beberapa penelitian yang dilakukan oleh Committee for the Prevention of Systematic Complications During Dental Treatment of The Japanesse Dental Society antara tahun 1980-1984 di Jepang menunjukkan sekitar 19-44% dokter gigi mendapatkan kasus kegawatdaruratan setiap tahun. Sekitar 90% merupakan kasus ringan namun sekitar 8% merupakan kasus yang cukup berat (Haas, 2006). Kasus kegawatdaruratan paling sering didapatkan adalah saat dan setelah dilakukan anestesi lokal, dimana lebih dari 60% adalah kasus sinkop dan 7% disertai hiperventilasi (Melamed, 2003).

Kegawatdaruratan pasien anak merupakan hal yang jarang dalam perawatan kedokteran gigi tetapi jika hal ini terjadi maka dapat mengancam nyawa. Kegawatdaruratan dapat terjadi sehubungan dengan berbagai penyebab (Melamed, 2003). Dokter gigi secara umum harus siap untuk menangani secara menyeluruh dan efektif jika kegawatdaruratan ini terjadi.

Penanganan Dasar pada Kegawadaruratan

Di dalam merawat pasien, dokter gigi akan berhadapan dengan pasien dengan populasi dan variasi status kesehatan pasien yang berbeda-beda. Oleh karena itu, persiapan dalam menghadapi pasien-pasien dengan status kesehatan medically compromised patient merupakan hal utama yang harus dilakukan. Anamnesa lengkap sebelum tindakan harus dilakukan oleh setiap dokter gigi. Anamnesa tidak hanya mengenai gigi yang menjadi keluhan utama, namun kesehatan umum dan riwayat perawatan gigi terdahulu juga merupakan hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Orang tua kadang tidak menyadari kelainan sistemik yang dialami oleh anaknya, oleh karena itu dokter gigi harus dapat mengarahkan pertanyaan yang diberikan agar segala kelainan sistemik yang dialami anak dapat terungkap saat perawatan gigi akan dilakukan (Riyanti, 2008).

Beberapa pertanyaan awal di bawah ini sangat membantu saat akan merawat pasien yaitu, apakah ada efek samping dan jika ada bagaimana perawatan umumnya, apakah efek perawatan gigi akan menyebabkan penyakit secara umum, dan bagaimana reaksi obat yang akan timbul serta interaksinya dan bagaimana mengantisipasinya. Tindakan yang dilakukan seorang dokter gigi harus mengacu pula pada clinical risk management yaitu proses sistematik untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengontrol kejadian ataupun reaksi yang akan muncul setelah tindakan medis (Field & Longman, 2004).

Sebagai seorang dokter gigi, kita harus memiliki ilmu dan keterampilan dalam menghadapi keadaan gawat darurat tersebut. Pada pasien anak, keadaan kegawatdruratan yang paling umum terjadi adalah biasanya sehubungan dengan pemberian obat-obatan, yang paling sering adalah anestesi lokal dan/atau penggunaan depresan sistem saraf pusat sebagai sedasi, selain itu juga disebabkan oleh adanya riwayat penyakit sistemik dari anak tersebut. Sebelum melakukan perawatan, maka seorang dokter gigi harus bias mendapatkan informasi riwayat kesehatan pasien tersebut, sehingga dokter gigi dapat memberikan perawatan yang sesuai dan bertindak hati-hati terhadap adanya kemungkinan dari kondisi sistemik pasien tersebut.

Tindakan yang cepat dan benar merupakan kunci utama penatalaksanaan kegawatdaruratan. Kecekatan operator di dalam mengambil tindakan harus dilatih dengan benar, agar kesalahan pengambilan keputusan dapat dihindari. Perlu pula ditentukan apakah pasien dalam keadaan sadar atau tidak, bila pasien tidak sadar maka tidak ada respons terhadap stimulasi. Penatalaksanaan dasar dalam kegawatdaruratan yaitu position, airway, breathing, circulation, dan definitive care (pada basic life support biasa disebut dengan defibrillation) (Gambar 1) (Melamed, 2003; Frush et al., 2008).

Gambar 1. Diagram penatalaksanaan kegawadaruratan medis. Sumber: Melamed, 2008

Pada saat terjadi kegawadaruratan media pasien anak di dalam ruang praktek, maka tindakan penanganannya adalah mengacu pada penatalaksanaan dasar dalam kegawatdaruratan yaitu position, airway, breathing, circulation, dan definitive care.

Position

Penyebab utama hilangnya kesadaran adalah hipotensi. Segera letakkan pasien tidak sadar pada tempat yang rata dengan posisi supine dimana kaki lebih tinggi daripada badan. Posisi ini akan menghasilkan peningkatan aliran darah di daerah kepala dengan sedikit hambatan dalam sistem respirasi. Pada pasien dengan penyebab acute respiratory distress seperti acute asthmatic bronchospasm maka posisi yang paling nyaman adalah tegak lurus agar ventilasi dapat meningkat (Melamed, 2003; Melamed 2007; Frush et al., 2008).

Airway and Breathing

Tindakan airway dan breathing pada pasien sadar dilakukan dengan heimlich maneuver dan pasien tidak sadar dilakukan dengan menerapkan posisi tilt-chin lift maneuver (Gambar 2) kemudian diikuti dengan pemeriksaan ventilasi melalui look, listen, feel. Perhatikan dan pastikan apakah penderita dapat bernafas spontan ataukah penderita mencoba untuk dapat bernafas. Cara ini dilakukan dengan mendengarkan dan merasakan pertukaran udara yang keluar melalui mulut ataupun hidung. Apabila tidak ada usaha respirasi spontan yang ditandai dengan tidak ada pergerakan pundak maka kontrol ventilasi harus menggunakan bantuan nafas (Melamed, 2003; Melamed 2007).

Gambar 2. Teknik chin lift-head tilt (kiri). Mouth-to-mask ventilation (kanan). Sumber: Melamed, 2003

Penggunaan full face mask dan positive pressure oxygen bagi pasien di atas usia delapan tahun yaitu dengan memberikan ventilasi kira-kira satu hembusan nafas untuk setiap lima detik, dan satu kali nafas tiap tiga detik untuk bayi dan anak (Frush et al., 2008). Apabila ventilasi spontan sudah terjadi yaitu ditandai dengan adanya gerakan spontan pada dada maka tindakan ventilasi harus dihentikan oleh karena dapat mengakibatkan gastric distension dan regurgitation (Melamed, 2003; Melamed 2007).

Definitive Care

Tindakan definitive care dilakukan sesuai dengan diagnosis yang telah ditegakkan. Tentukan dengan benar diagnosis penyebab terjadinya kegawatdaruratan agar tindakan definitive care bisa berhasil (Melamed, 2003; Melamed 2007).

Copyright ©2011, Ali Taqwim [dentistalit@yahoo.co.id]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s