Saya Berpuisi

Posted on Updated on

 

Langit Kelabu : Sebuah Monolog Hati

by. Banyu Biru

Lama ku termenung, bersama malam yang kian menua
menanti bintang pagi kembali lagi

ku menunggu, dalam kelabu malam yang berselimut kelam

ku terpaku, dalam zaman yang tak berotasi untuk kesekian kali

ku termangu, dalam bejana semu tak terhitung waktu

ku terdiam, dalam kata yang tak terekam tanpa makna

Namun, malam ini makin keriput
seakan waktu tak berputar, namun sel-sel terus mengisut
hingga fajar kelam kembali bersinar lembut.

Saat ini, ternyata aku masih menunggu,
termenung. terpaku. termangu. dan hanya terdiam!
bersama langit yang kian kelabu.

Jember. 02:50. 02/12/2009
“Bintang meninggalkan malam, rasanya tak mau beradu. Entah selamanya atau hanya semalam. Yang ada hanya langit kelabu”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s