Artikel Jurnal (1)

Posted on Updated on

HUBUNGAN LEBAR MESIODISTAL GIGI TERHADAP KECEMBUNGAN PROFIL JARINGAN LUNAK PADA POPULASI CINA (Studi Cross Sectional pada SMA Katolik Santo Paulus Jember)

Fatihatur Rohmah, Ernita Netiani, Ali Taqwim

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember

ABSTRACT

Orofacial growth and development are varied in each individual. This differences are affected by sex and ethnic. This study investigate the correlation between mesiodistal teeth width to the curve of soft tissue profile in Jember Chinese ethnic. The study use cross sectional approach on Chinese students of Santo Paulus Senior High School in Jember. The subject was 50 student (25 male and 25 female) taken by purposive sampling method.

The analyzed result by independent t-test showed that there was significant differences (p<0.05) between teeth mesiodistal width in male and female. The curve degree of soft tissue profile was not significant differences (p>0.05). The correlation test showed that there was correlate  between teeth mesiodistal width to the curve of soft tissue profile (p<0.05) with the R-Square=0.12.

The conclusion are (a) mesiodistal teeth width in male is bigger than female, (b) teeth mesiodistal width affected the curve of face soft tissue profile in Chinese-Jember as much as 12.2% and (c) the curve degree of soft tissue in male and female Chinese-Jember almost equal with the face profile that concave or flat.

Key words: Mesiodistal teeth width, curve of soft tissue profile, Chinese ethnic

ABSTRAK

Pertumbuhan dan perkembangan orofacial sangat bervariasi pada setiap individu. Perbedaan ini dipengaruhi oleh jenis kelamin dan etnis. Penelitian ini  mengkaji hubungan antara lebar mesiodistal gigi dengan kecembungan profil jaringan lunak dari etnis Cina-Jember. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional pada pelajar etnis Cina dari SMA Katolik St. Paulus di Jember. Subyek penelitian adalah 50 orang pelajar (25 laki-laki dan 25 perempuan) yang diambil secara puposive sampling.

Hasil analisis uji-t independent menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna (p<0.05) antara lebar mesiodistal gigi pada laki-laki dan perempuan. Derajat kecembungan profil jaringan lunak tidak terdapat perbedaan (p>0,05). Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan  antara lebar mesiodistal gigi terhadap kecembungan profil jaringan lunak (p<0.05) dengan nilai R-Square 0.12.

Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut; (a) lebar mesiodistal gigi pada laki-laki lebih besar dibanding pada perempuan, (b) lebar mesiodistal gigi berpengaruh terhadap kecembungan profil jaringan lunak wajah orang Cina-Jember sebesar 12.2 %, dan (c) derajat kecembungan jaringan lunak pada laki-laki dan perempuan orang Cina-Jember hampir sama yaitu dengan tipe profil cekung atau datar.

Kata kunci: Lebar mesiodistal gigi, kecembungan profil jaringan lunak, Cina

PENDAHULUAN

Prevalensi maloklusi di Indonesia sangat tinggi yaitu lebih dari 80% maloklusi dan jika tidak diperbaiki dapat menyebabkan gangguan terhadap sendi tempuromandibular, fungsi pengunyahan, jaringan penyangga gigi dan estetika (1). Terdapat bukti bahwa prevalensi maloklusi meningkat terutama pada negara berkembang. Peningkatan ini sebagian mencerminkan kecenderungan evolusi ke rahang yang lebih pendek dan gigi yang lebih sedikit tetapi mungkin juga berasal dari peningkatan variasi genetik masyarakat karena pencampuran kelompok ras (2).

Pada penduduk yang heterogenus dan terdiri dari banyak macam ras maka penduduk atau bangsa itu lebih mudah mengalami maloklusi. Maloklusi juga terdapat pada golongan yang dianggap masih asli atau murni. Beberapa golongan bangsa menunjukkan maloklusi tertentu (3). Faktor keturunan dan ras mempunyai peranan penting dalam bentuk dan ukuran gigi (4). Selain itu, setiap ras mempunyai oklusi, bentuk wajah, ciri, dan ukuran gigi tertentu (5).

Informasi mengenai ukuran gigi sangat penting dalam melakukan diagnosis dan perawatan maloklusi dalam bidang ortodonsi, karena pertumbuhan dan perkembangan orofasial sangat bervariasi pada setiap individu. Perbedaan ini dipengaruhi oleh jenis kelamin dan etnis selain itu terdapat faktor keturunan, lingkungan, dan pengaruh pertumbuhan (6). Bukti penelitian yang telah dilakukan pada kelompok etnis yang berbeda juga memberikan dasar normalitas pada kelompok tertentu, sedangkan pada kelompok Indonesia hanya sedikit dilakukan penelitian (1). Indonesia yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, mempunyai beberapa kelompok etnis suku bangsa. Di Jember, tiap ras dan suku termasuk populasi Jawa (deutro melayu), Madura, Cina, dan Arab mempunyai kecepatan dan macam perubahan yang berlainan.

Penelitian yang mengkaji antara lebar mesiodistal gigi dengan kecembungan profil jaringan lunak dari etnis tertentu belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian mengenai hubungan antara lebar mesiodistal gigi rahang atas dan bawah pada laki-laki dan perempuan dengan kecembungn profil jaringan lunak pada etnis tertentu, seperti etnis keturunan Cina di Jember yang kemurnian rasnya masih terjaga.

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan mengenai rata-rata lebar mesiodistal gigi orang Cina di Jember dan rata-rata derajat kecembungn profil jaringan lunak wajah sehingga dapat membantu dalam menegakkan diagnosa dan menunjang rencana perawatan ortodontik dengan baik dan benar.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan secara deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional pada pelajar etnis Cina SMA Katolik Santo Paulus di Jember pada bulan Desember 2008 sampai dengan Februari 2009. Pada penelitian ini besar jumlah keseluruhan subyek penelitian adalah 50 orang pelajar yang terdiri dari 25 laki-laki dan 25 perempuan.

Pengambilan subyek penelitian menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria inklusi sebagai berikut; (a) usia 17 tahun ke atas, (b) kedua orang tua adalah keturunan Cina, (c) kondisi gigi permanen tidak karies, restorasi dan atrisi, (d) tidak ada kelainan bentuk, ukuran maupun jumlah gigi, (e) tidak ada trauma dentofasial dan (f) bersedia dan menandatangani informed consent.

Bahan dan Alat Penelitian

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah gips biru (Dental Stone), alginat (Kromopon), dan air bersih. Alat-alat penelitian yang digunakan antara lain; penggaris, penggaris busur, spatula, bowl, sendok cetak, kaca mulut, handscoon, masker, pensil tinta, jangka, dan kamera digital (SONY).

Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian didahului dengan pengisian kuesioner oleh subyek penelitian dan menyetujui tindakan pada tahapan penelitian dengan mencantumkan tanda tangan pada lembar informed consent.

Pencetakan Rahang Subyek Penelitian

Subyek diinstruksikan berkumur dan dilakukan pemeriksaan pada gigi yang akan dilakukan pencetakan. Pencetakan dilakukan dengan menggunakan bahan cetak alginat yang telah dibuat adonan dan diletakkan pada sendok cetak yang sesuai dengan rongga mulut subyek penelitian. Hasil pencetakan ini berfungsi untuk mendapatkan cetakan negatif rahang.

Pengecoran Hasil Cetakan Rahang

Gips biru dan air diaduk di dalam bowl hingga homogen dengan memakai spatula kemudian dituangkan dalam cetakan negatif hingga mengeras. Hasil pengecoran diberi identitas berupa nama, jenis kelamin dan nomor sesuai urutan pencetakan.

Pengambilan Foto Tipe Profil dan Pengukuran Lebar Mesiodistal Gigi

Pengambilan foto tipe profil subyek dilakukan dari arah samping dengan jarak ± 60 cm, subyek berdiri tegak dengan kepala bagian belakang dan punggung menempel pada dinding supaya posisi mandibula sejajar dengan bidang horizontal. Pengukuran derajat kecembungan profl jaringan lunak wajah diperoleh dari sudut yang terbentuk antara perpotongan garis imaginer glabella-lip contour-sympisis(7) yang diukur melalui hasil foto profil menggunakan penggaris busur (Gambar 1).

Gambar 1. Pengukuran derajat (sudut) kecembungan profil jaringan lunak wajah

Hasil pengecoran cetakan rahang yang sudah diberi identitas dilakukan pengukuran lebar mesiodistal gigi insisivus pertama sampai molar pertama pada lengkung terbesar (Gambar 2) dengan menggunakan jangka (8). Pengukuran lebar mesiodistal gigi ini digunakan dalam kedokteran gigi untuk menghitung tempat yang tersedia dalam perawatan ortodonsia (9).

Gambar 2. Pengukuran lebar mesiodistal gigi

Analisis Statistik

Data hasil penelitian ini ditabulasi, dan diuji dengan uji-t independent untuk mengetahui perbedaan lebar mesiodistal gigi serta derajat kecembungan profil jaringan lunak antara subyek laki-laki dan perempuan. Analisis data mengunakan uji korelasi untuk mengetahui hubungan antara lebar mesiodistal gigi dengan kecembungan profil jaringan lunak wajah. Selanjutnya dilakukan uji regressi untuk mengetahui besar pengaruh dari lebar mesiodistal dengan kecembungan profil jaringan lunak wajah dengan derajat kemaknaan 95 % (p<0,05).

HASIL PENELITIAN

Hasil dari pengamatan dari penelitian ini didapatkan data yang ditunjukkan pada tabel berikut ini :

Tabel 1. Perbedaan rerata lebar mesiodistal gigi geligi rahang atas dan rahang bawah antara laki-laki dan perempuan (Uji-t independent)

* Nilai signifikansi p<0.05 pada level (2-tailed) ; N = jumlah sampel; SD = Standar Deviasi

Hasil rerata lebar mesiodistal gigi (Tabel 1) pada subyek laki-laki adalah 99.14 mm untuk rahang atas, rahang bawah sebesar 97.79 mm, sedangkan pada perempuan untuk rahang atas dan rahang bawah adalah 96.16 mm ; 94.99 mm. Nilai probabilitasnya 0.02 ; 0.04 (rahang bawah) (p<0.05) yang artinya terdapat perbedaan yang bermakna antara lebar mesiodistal gigi baik pada rahang atas maupun rahang bawah pada laki-laki dan perempuan.

Tabel 2. Perbedaan rerata derajat kecembungan profil jaringan lunak wajah pada laki-laki dan perempuan (Uji-t independent)

* Nilai signifikansi p<0.05 pada level (2-tailed) ; N = jumlah sampel; SD = Standar Deviasi

Besar rerata derajat kecembungan profil jaringan lunak wajah (Tabel 2) pada perempuan lebih besar dibanding pada laki-laki yaitu 155.68º ; 154.88º dengan nilai probabilitas 0.74 (p>0.05) yang artinya tidak terdapat perbedaan yang bermakna.

Tabel 3. Hubungan antara lebar mesiodistal gigi rahang atas dan rahang bawah dengan derajat kecembungan profil jaringan lunak wajah

* Nilai signifikansi p<0.05 pada level (2-tailed) ; N = jumlah sampel

Hasil uji korelasi (Tabel 3) antara derajat kecembungan profil jaringan lunak wajah dengan lebar mesiodistal gigi rahang atas sebesar -0.35 dan rahang bawah -0.34 dengan nilai signifikansi 0.01 ; 0.02 (p<0.05) yang artinya terdapat hubungan antara lebar mesiodistal gigi baik pada rahang atas maupun rahang bawah terhadap kecembungan profil jaringan lunak wajah dengan nilai R-Square0.122 atau persentasenya sebesar 12.2 %.

PEMBAHASAN

Hasil penelitian ini didapatkan bahwa rerata lebar mesiodistal gigi rahang atas dan rahang bawah pada laki-laki lebih besar dibanding pada perempuan (p<0.05). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Kuswandari (2005) yang menyatakan jumlah lebar mesiodistal gigi pada anak laki-laki lebih besar daripada perempuan (10). Hasil penelitian ini juga didukung Hasyim dan Ghamdi (2005) yang menyatakan gigi laki-laki mempunyai lebar mesiodistal gigi lebih besar daripada gigi perempuan pada rahang atas maupun bawah (11). Hal ini disebabkan anak laki-laki secara genetik memiliki fisik yang lebih besar dibandingkan dengan anak perempuan (12).

Besar rerata derajat kecembungan profil jaringan lunak wajah pada perempuan lebih besar dibanding pada laki-laki dengan nilai signifikansi p>0.05, yang artinya tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Subtelny (13) yang menyebutkan rerata derajat kecembungan jaringan lunak pada laki-laki dan perempuan adalah hampir sama. Derajat kecembungan profil jaringan lunak wajah orang Cina-Jember memiliki rata-rata  154.88º dan 155.68º yang berarti bahwa tipe profil muka orang Cina-Jember adalah cekung atau datar. Hasil penelitian Dewanto (1992) juga mendukung hasil dari penelitian ini yang menyebutkan bahwa profil muka orang Cina adalah cekung atau datar (14).

Perbedaan yang tidak bermakna tersebut disebabkan karena jenis kelamin bukan merupakan faktor yang mempengaruhi profil wajah atau kecembungan profil jaringan lunak wajah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Yamaoka (2001) bahwa profil wajah dipengaruhi oleh bentuk dan ukuran rahang, panjang ramus, prognasi dentoalveolar, dimensi mesiodistal gigi, ukuran dari sudut gonion, jarak dari insisivus mandibula ke garis wajah, dan distribusi serta jumlah jaringan subkutan halus pada wajah (13).

Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara lebar mesiodistal gigi terhadap kecembungan profil jaringan lunak wajah dengan pengaruh sebesar 12.2%, sedangkan 87.8 % dipengaruhi faktor lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Yamaoka (2001) yang menyebutkan bahwa lebar mesiodistal gigi merupakan salah satu faktor yang ikut mempengaruhi profil wajah bersamaan dengan faktor-faktor lainnya (13).

Nilai korelasi (Pearson correlation) negatif yaitu -0.35 dan -0.34 mempunyai arti lebar mesiodistal berbanding terbalik dengan derajat kecembungan profil jaringan lunak wajah. Jika lebar mesiodistal semakin besar maka nilai derajat kecembungan profil wajah semakin kecil, begitu juga sebaliknya. Selain itu nilai korelasi negatif ini menunjukkan bahwa ukuran lebar mesiodistal gigi tidak berdampak langsung pada kecembungan profil jaringan lunak wajah, sehingga didapatkan hubungan yang lemah antara lebar mesiodistal gigi terhadap kecembungan profil jaringan lunak wajah.

Terdapatnya hubungan yang lemah ini disebabkan karena kecembungan profil jaringan lunak lebih ditentukan oleh posisi atau inklinasi gigi geligi insisivus ke arah labial daripada posisi gigi-gigi lain. Apabila ukuran lebar mesiodistal relatif lebih besar dibanding lengkung rahang, tidak selalu menyebabkan kecondongan atau inklinasi gigi insisivus ke labial, tetapi bisa juga akan menyebabkan gigi berdesakan dalam arah mesiodistal (13).

KESIMPULAN

Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut; (a) lebar mesiodistal gigi rahang atas dan rahang bawah pada laki-laki lebih besar dibanding pada perempuan, (b) lebar mesiodistal gigi berpengaruh terhadap kecembungan profil jaringan lunak wajah orang Cina-Jember sebesar 12.2%, dan (c) derajat kecembungan jaringan lunak pada laki-laki dan perempuan orang Cina-Jember hampir sama yaitu dengan tipe profil muka cekung atau datar.

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih kepada Kepala Sekolah SMA Katolik Santo Paulus Jember yang telah membantu penelitian ini berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

[Copyright @ dentistalit@yahoo.co.id]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s