TORUS PALATINUS

Posted on Updated on


Torus palatinus merupakan suatu penonjolan tulang (exostosis) yang umum terjadi di tengah palatum keras. Exostosis adalah suatu pertumbuhan benigna jaringan tulang yang menonjol keluar dari permukaan tulang. Secara khas keadaan ini ditandai dengan tertutupnya tonjolan tersebut oleh kartilago.

Gambar 1. Torus palatinus (A) Torus palatinus yang besar pada palatum keras di dalam rongga mulut.  (B) Torus palatinus multiple

A.   Etiologi dan Patogenesis

Secara anatomis terdapat pembengkakan nodular yang terdiri dari tulang lamelar normal, sekalipun lesi luas mungkin memiliki tulang cancellous pada bagian tengahnya. Patogenesis dari penonjolan (exostosis) ini masih diperdebatkan, berkisar dari faktor genetik hingga lingkungan (seperti tekanan kunyah). Penyebab exostosis ini belum diketahui tetapi pada beberapa orang diturunkan secara autosomal dominan.

Sering disebut juda tori adalah suatu nodular jinak yang tumbuh berlebihan dari tulang kortikal. Walaupun gambaran fisiknya dapat merupakan suatu alarm tanda keganasan, tetapi secara umumm tidak dibutuhkan suatu perhatian khusus. Protuberensia tulang yang terdapat di midline palatum dimana maksila menyatu. Tori bisa terdapat di mandibula, khas di sisi lingual dari gigi molar.

Tori dilapisi jaringan epitelium yang tipis, yang mudah mengalami trauma dan ulcus. Penyembuhan pada ulcus yang terjadi cenderung sangat lambat karena tori miskin vaskularisasi. Torus palatinus tumbuh sangat lambat dan terjadi pada semua umur, tetapi sebagian besar terjadi sebelum usia 30 tahun. Torus palatinus dua kali lebih sering terjadi pada wanita.

B.   Patologi

Potongan melintang pada exostosis terlihat tulang yang padat dengan gambaran lamellar atau berlapis-lapis. Selalu dengan ciri tebal, matur dan tulang lamellar dengan osteocytes yang menyebar dan ruang sumsum tulang yang kecil diisi lemak tulang atau stroma fibrovascular longgar. Beberapa lesi dengan tepi tulang kortikal yang tipis melapisi tulang cancellous yang inaktif dengan lemak dan jaringan hematopoietic.

Minimal aktivitas osteoblastic selalu terlihat, tetapi sering lesi menunjukan aktivitas periosteal yang banyak. Area yang luas pada tulang mungkin menunjukkan pembesaran lakuna yang lepas atau pyknotic osteocytes mengindikasikan terjadinya gangguan iskemi pada tulang. Perubahan iskemi seperti fibrosis sumsum dan dilatasi vena mungkin ditemukan pada susmsum tulang, dengan contoh yang jarang menunjukkan aktual infraksi dari lemak sumsum.

Gardner syndrome sulit dibedakan dengan exotosis tulang biasa, merupakan suatu osteoma-producing syndrome, pada orang dengan exotosis tulang perlu dievaluasi apakah ada sindroma ini. Apakah penderita memiliki pertumbuhan tulang multiple atau lesi tidak pada lokasi klasik torus atau bucal exostosis. Intestinal polyposis dan cutaneous cysts atau fibromas gambaran lain dari autosomal dominant syndrome. Polip pada intertinal ini memiliki kecendrungan yang kuat berubah menjadi kanker.

C.   Gambaran Klinis

Exostosis tulang tampak sebagai tumor (pembengkakan) yang kaku dengan permukaan mukosa yang normal. Tonjolan tulang yang keras di tengah-tengah palatum ini biasanya berukuran diameter kurang dari 2 cm, namun terkadang perlahan-lahan dapat bertambah besar dan memenuhi seluruh langit-langit. Kebanyakan torus tidak menyebabkan gejala. Bentuk dan ukuran dari torus palatinus bervariasi.

Ketika muncul di daerah midline pada palatum durum maka disebut torus palatinus dan ketika muncul dilateral di redio lingual premolar dari mandibula disebut torus mandibularis. Yang sangat mengherankan, torus palatinus dan torus mandibularis jarang ditemukan muncul bersama-sama pada satu individu. Prevalensi dari torus palatinus dan torus mandibularis adalah 20-25% dan 6-12% dari populasi umum. Pada wanita insidennya lebih tinggi. Biasanya pasien baru menyadari ada exostosis ini bila ada trauma.

D.   Diagnosis

Diagnosis didapatkan dari gejala klinik. Bisa dilakukan biopsi, oral radiographs dan CT scans untuk menegakkan diagnosis.

E.   Diffential Diagnosis

Gingival fibrosis, fibroma formation secondary to irritation, granuloma, abses, oral neurofibroma pada palatum, fibrous dysplasia, osteomas, dan paget’s disease.

F.   Terapi

Tidak ada menajemen aktif yang wajib dilakukan, menenangkan pasien bahwa keadaanya merupakan bukan suatu keganasan. Bila mukosa yang melapisinya tipis dan cenderung trauma, pasien mungkin membutuhkan antiseptik pencuci mulut jika terdapat ulcus. Bila tidak ada keluhan, torus palatinus tidak memerlukan perawatan. Namun pada pasien yang menggunakan gigi tiruan, torus palatinus ini dapat mengganjal basis gigi tiruan sehingga harus dihilangkan dengan tindakan bedah menggunakan conservative surgical excision.

Di bidang kedokteran gigi, penatalaksanaan torus palatinus berkaitan dengan pembutan gigi tiruan sangat penting diperhatikan. Torus palatinus merupakan tonjolan yang ditutupi oleh selapis tipis jaringan lunak yang menyebabkan tori lebih sensitif terhadap tekanan atau palpasi (perabaan) dan pada saat perabaan akan terasa sangat keras.


Gambar 2. Torus palatinus pada model gigi tiruan lengkap

Konsistensi tori pada palatum sangat keras dan tidak sama dengan jaringan fibrous yang emenutupi puncak tulang alveolar. Oleh sebab itu, penatalaksanaan tori agar tidak mengganggu stabilisasi dan retensi gigi tiruan maka harus dibebaskan dari gigitan tekanan gigi tiruan atau dibuang secara bedah. Torus palatinus yang tidak ditanggulangi akan menyebabkan garis fulkrum yang seharusnya di puncak lingir, akan berpindah di puncak torus. Hal ini menyebabkan gigi tiruan tidak stabil dan mudah retak (patah).

Metode Non Bedah

Metode non bedah dilakukan dengan cara peredaan atau pembebasan tori dari tekanan dengan cara menempatkan selapis kertas timah (alumunium foil) di atas daerah torus pada model pada saat gigi tiruan diproses (relief of chamber). Cara yang lain  adalah dengan mendesain plat akriliknya dengan melakukan pembebasan torus palatinus. Luasnya ruang pembebasan sesuai dengan luas penonjolan torus di palatum keras.

Ali Taqwim, Mahasiswa Profesi Kedokteran Gigi Universitas Jember


6 thoughts on “TORUS PALATINUS

    fatimah said:
    Desember 24, 2011 pukul 11:54 am

    berbahaya ga penyakit tersebut????

    tara said:
    Mei 31, 2012 pukul 3:09 am

    Thanks.
    Ikut PSMKGI ga?

    winda said:
    Agustus 1, 2012 pukul 10:09 pm

    ada daftar pustakanya enggak? thx before

    Sakura said:
    Januari 18, 2013 pukul 6:20 pm

    Sy merupakan pengidap torus palatinus? Adakah ia bahaya? Ape rawatannye? Ape perlu sy lakukan. Sy sangat risau. Tlong bantu sy

      Joice said:
      Juni 23, 2013 pukul 6:25 pm

      sy juga pengidap torus palatinus ..ku rahasiakan masalah ini dr keluarga ,insya allah kalau ada waktu dan kesempatan,sy akan melakukan operasi utk meratakannya dgn drill spt yg dilakukan oleh Dr.Kevin Soh dr Singapura.

    Joice said:
    Juni 23, 2013 pukul 6:28 pm

    watch this in youtube.com: Tumor/Lump/Mass on the Palate, Torus Palatinus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s