Hidrogen Peroksida (H2O2) 3% Sebagai Bahan Irigasi Saluran Akar

Posted on Updated on

Tahapan penting dalam perawatan saluran akar gigi yang terinfeksi adalah preparasi, sterilisasi dan pengisian. (1) Preparasi saluran akar gigi akan menunjang proses sterilisasi dan menghasilkan pengisian yang baik sehingga didapatkan hasil yang maksimal. (2) Preparasi akar akan membentuk lapisan smear pada permukaan dinding saluran akar. Lapisan smear ini mengandung bakteri sehingga menghambat desinfeksi saluran akar dan dapat menghalangi perikatan bahan pengisi. Menghilangkan lapisan smear akan meningkatkan permeabilitas dentin, desinfeksi, aksi bahan irigasi dan bahan medikasi intrakanal, dan meningkatkan penetrasi bahan pengisi ke saluran akar alteral dan tubuli dentin. (3)

Pada tahap preparasi diperlukan bahan irigasi, diharapkan semua kotoran yang berada di dalamnya akan ikut mengalir keluar bersama dengan cairan irigasi. (2,4) Pembersihan saluran akar yang baik dengan menggunakan bahan irigasi yang tepat mampu membersihkan lapisan smear dengan toksisitas minimal dan akan meningkatkan keberhasilan perawatan. (3)

Irigasi saluran akar bertujuan menghilangkan jaringan nekrotik, tumpukan serpihan dentin dan membasahi saluran akar gigi sehingga mempermudah dalam pelaksanaan preparasi serta pengurangan jumlah mikroorganisme di dalam saluran akar kemudian sisa bakteri dimatikan dengan obat-batan. (2,4) Bahan irigasi saluran akar sebaiknya bersifat antiseptik yaitu dapat merusak, dapat menghambat reproduksi atau metabolisme mikroba dan sekaligus menstrerilkan saluran akar. (1,2,4) Adapun syarat bahan antiseptik saluran akar adalah mampu membunuh mikroba organisme, mempunyai efektifitas yang cepat mampu mengadakan penetrasi yang dalam, tetap efektif dengan adanya bahan organik, tidak merubah warna gigi, secara kimia bersifat stabil, tidak berbau dan tidak berasa, ekonomis. (1,2,4)

Bahan yang dapat digunakan untuk irigasi antara lain hidrogen peroksidase (H2O2) 3%, NaOCl, 3%, EDTA 15%, Chlorhexidine, Akuades. Hidrogen peroksidase (H2O2) 3% merupakan salah satu bahan irigasi yang sering digunakan karena mudah didapat, dapat mengangkat kotoran dari hasil preparasi saluran akar.(4)

Hidrogen peroksida (H2O2) merupakan cairan asam lemah dengan pH 5. Pada kedokteran gigi biasanya digunakan larutan dengan konsentrasi 3-5%. Hidrogen peroksida amat beracun terhadap sel, bereaksi dengan gugus SH. Melalui kontak dengan enzim katalase dan gluthation-peroxidase, H2O2 melepaskan On (onascent) yang menghasilkan buih bila berkontak dengan jaringan vital, darah, atau pus (nanah). Pada irigasi saluran akar, pembentukan buih ini dapat membersihkan sisa jaringan dan sisa dentin. Dengan terlepaskan On (onascent) maka bakteri anaerob akan dihancurkan. (5)

Penggunaan larutan H2O2 3% diikuti dengan larutan irigasi lainnya misal akuades, karena sisa oksigen peroksida dalam saluran akar harus dinetralisir atau dihilangkan. (4) Irigasi dilakukan secara berselang untuk menghilangkan efek On (onascent) karena On yang terlepas dapat menyebabkan tekanan yang membesar pada saluran akar yang menutup dan pembengkakan serta rasa sakit. (5)

Hidrogen peroksida merupakan larutan yang terbentuk dari reaksi asam sulfat dan barium peroksida. (2) Hidrogen peroksida 3% apabila berinteraksi dengan darah, pus, serum, air liur dan bahan organik lainnya akan menghasilkan H2O + Onascent. (6)

2 H2O2 → 2 H2O + O2

Efek tersebut mengangkat kotoran dalam saluran akar. Berdasarkan penguraian senyawa H2O2 menjadi H2O + Onascent. Onascent yang timbul bersifat sementara, selanjutnya akan berubah menjadi O2. Gas oksigen yang terjadi akan menghasilkan gelembung udara kemudian akan membantu pengeluaran kotoran secara efektif. Gas oksigen yang terbentuk juga akan menghancurkan kuman anaerob beserta bahan yang dihasilkan. (4,6)

Hidrogen peroksidase (H2O2) 3% tidak dapat menembus struktur gigi yang lebih dalam seperti tubuli dentin dan saluran akar tambahan. (3) Namun, hidrogen peroksidase (H2O2) 3% harus dibersihkan dari kavitas gigi sebelum kavitas ditutup, karena evaluasi oksigen setelah penutupan dapat mendorong kotoran dan mikroorganisme ke jaringan periapikal. Gas oksigen yang terjebak dapat terbawa keluar menuju jaringan periapikal dan menimbulkan empisema (pembengkakan pada bagian wajah). (4, 7)

Referensi :

  1. Cohen S & Burns RC. Pathway of the pulp. 5th ed. St Louis:Mosby Co; 2002. p. 123–47.
  2. Grossman LI, Oliet S & Del Rio CE. Endodontic Practic. 12nd ed. Philadelphia: Lea and Febiger; 1995. p. 196–262.
  3. Wulandrai, E. 2007. Efektifitas Ekstrak Air Asam Jawa Dan Hidrogen Peroksida Sebagai Bahan Irigasi Terhadap Toksisitas Fibroblas Dan Pembersih Lapisan Smear Dinding Saluran Akar Gigi. Tesis. Surabaya. Pascasarjana Universitas Airlangga.
  4. Walton RE & Torabinejad M. Prinsip dan praktik ilmu endodonsia. Edisi II. Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 1996. hal. 262–81.
  5. Tarigan, R. 2004. Perawatan Pulpa Gigi Endodonti. Edisi 2. Jakarta: EGC. Hal 129.
  6. Mieke HS, Yanti M, Razak U. Usaha pemeriksaan daya anti mikroba dan ekstrak daun sirih terhadap beberapa bakteri. Denpasar: Konas XVI. PDGI; 1985.
  7. Nicholls E. Cleaning and preparation of the pulp cavity, endodontic. 3rd ed. 1988. p. 145–9.
  8.  

Ali Taqwim, Mahasiswa Profesi Kedokteran Gigi Universitas Jember


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s