Manajemen Perawatan Diastema Sentral Pasca Pencabutan Gigi Mesiodens

Posted on Updated on

Pendahuluan

Dalam kedokteran gigi terdapat beberapa anomali geligi, baik akibat sistemik maupun lokal. Salah satu anomali geligi adalah julah gigi lebih dari normal atau supernumerary teeth. Gigi supernumerari memepunyai bentuk dan lokasi yang bervariasi, baik yang terjadi pada geligi sulung maupun geligi permanen (Hattab et al., 1994). Gigi supernumerai yang lebih sering dijumpai adalah mesiodens, yang berbentuk konus dapat satu atau dua gigi, terletak pada daerah midline rahang atas (Almeida et al., 1995).
Penampakan mesiodens dapat mengakibatkan gangguan klinis, terutaa pada masa awal geligi pergantian (Huang et al., 1992). Gangguan klinis yang paling sering terjadi adalah terbentuknya diastema sentral, erupsi gigi yang abnormal serta gangguan perkembangan oklusi (Indriyati et al., 2001). Pencabutan mesiodens pada periode gigi sulung sangat dianjurkan untuk menghindari komplikasi lebih lanjut. Biasanya gigi mesiodens yang dicabut akan menyebabkan diastema. Maxillary midline diastema (MMD) relatif sering terjadi pada maloklusi gigi dengan ciri khasnya terdapat jarak di antara insisif sentralis maksila yang memberikan konsekuensi fungsional dan estetis (Purnomo, 2007).
Diastema menyebabkan gangguan estetik bagi sebagian orang, terutama diastema yang terdapat di anterior. Oleh karena bagi sebagian orang diastema sentral ini merupakan suatu gangguan estetik terhadap penampilannya, maka banyak orang yang mencari dan meminta pertolongan dari dokter gigi untuk mengkoreksi kelainan tersebut. Dengan telah dikoreksinya kelainan tersebut, mereka berharap akan lebih menambah baik penampilannya dan akan meningkatkan rasa percaya dirinya (Moyers, 1988; Bishara, 2001).
Banyak cara dilakukan untuk menghilangkan diastema sentral ini, dalam banyak kasus dengan hanya perawatan ortodonti sudah dapat menyelesaikan masalah, tetapi pada beberapa kasus perlu perawatan tambahan baik dari segi konservasi, prostodonti ataupun dari bagian bedah mulut. Pada kondisi normal, biasanya diastema dapat menutup dengan sendirinya seirimg dengan erupsi gigi insisif lateral dan kaninus. Namun diastema yang terjadi karena pencabutan mesiodens perlu dirawat dengan pemakaian alat ortodonsi yang berfungsi untuk menutup celah di antara gigi (Foster, 1999).
Diastema Sentral
Diastema adalah suatu ruang yang terdapat diantara dua buah gigi yang berdekatan. Diastema ini merupakan suatu ketidaksesuaian antara lengkung gigi dengan lengkung rahang (Proffit & Fields, 2000). Diastema sentral rahang atas, merupakan suatu maloklusi yang sering muncul dengan ciri khas yaitu berupa celah yang terdapat diantara insisif sentral rahang atas (Moyers, 1988).

Banyak faktor sebagai penyebab terjadinya suatu diastema sentral. Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan bahwa prevalensi terjadinya diastema sentral berkisar antara 1,6% – 25,4% pada orang dewasa dan lebih sering lagi pada anank-anak, mendekati 98% pada usia 6 tahun, 49% pada usia 11 tahun dan 7% pada usia 11-18 tahun. Lebih sering terdapat pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Berdasarkan pada ras lebih banyak pada orang kulit hitam dibandingkan dengan kulit putih, asia dan hispanik (Moyers, 1988; Proffit & Fields, 2000; Campbell & Kindelan, 2006).

Diastema sentral yang terjadi pada rahang atas bisa disebabkan oleh : (1) ukuran gigi insisif lateral kecil, (2) rotasi dari gigi insisif, (3) perlekatan frenulum yang abnormal, (4) gigi sepernumerari di median line, (5) kehilangan gigi insisif lateral secara congenital, (6) diastema pada saat pertumbuhan normal, dan (7) penutupan median line yang tidak sempurna (Moyers, 1988).

Gigi Mesiodens
Mesiodens adalah suatu kelainan jumlah dan bentuk
gigi (konus), biasanya terjadi pada gigi anterior dan terlatak pada garis tengah maksila (Purnomo, 2007). Mesiodens bersifat bawaan dan tidak ada faktor  lingkungan yang ditemukan sebagai penyebab keadaan ini (Foster 1999).

Mesiodens biasanya berjumlah tunggal atau berpasangan dan kadang-kadang terlihat lebih dari dua buah (Foster, 1999). Mesiodens gigi sulung biasanya berbentuk normal atau konus sedangkan mesiodens gigi permanent mempunyai variasi dalam bentuk, yaitu : konus (kecil berbentuk peg shaped), tuberkel (pendek,berbentuk tong), supplement (mirip insisid lateral) dan odontoma (satu bagian dari kelompok) (Andlaw & Rock, 1992; Russell & Folwarczna, 2003 ).

Mesiodens tuberkel terdapat pada premaksila tetapi berbeda
dengan konus baik dalam posisi, waktu perkembangan dan efeknya terhadap gigi yang lain. Mesiodens tuberkel berkembang lebih lambat dibandingkan konus, pembentukan akarnya terlihat lebih lama setelah insisif sentral permanent erupsi.  Pada umumnya mesiodens tuberkel muncul pada permukaan palatal dari insisif sentral permanent, dapat unilateral maupun bilateral (Foster, 1999; Russell & Folwarczna, 2003).

Erupsi yang terlambat, dilaserasi, crowding dan displacement (malposisi) gigiyang bersebelahan, serta diastema yang abnormal berhubungan dengan adanya mesiodens. Masalah oklusal yang disebabkan mesiodens biasanya terbatas pada ketidakteraturan susunan gigi insisif atas yang terlokalisir. Khususnya gigi insisif terotasi atau terdapat midline diastema pada rahang atas (Purnomo, 2007).

Pembahasan

Perawatan diastema sentral sebelum
nya harus diketahui dahulu faktor penyebab utamanya. Apabila semua faktor penyebabnya telah diketahui secara pasti, baru kemudian dilakukan penutupan diastema sentral dengan menggerakkan gigi insisif sentral rahang atas ke median line baik mempergunakan alat cekat berupa breket ataupun dengan mempergunakan alat lepasan berupa pegas koil. Setelah itu baru dilanjutkan dengan perawatan lainnya bila memang diperlukan, misalnya bedah, konservasi dan atau prostodonti (Moyers, 1988; Bishara, 2001).

Manajemen gigi mesiodens bergantung pada jenis dan posisi gigi serta  pengaruh yang potensial terjadi pada gigi-geligi yang berdekatan. Pencabutan mesiodens dapat dilakukan sampai gigi tersebut erupsi hampir semua mesiodens yang konus dan tidak terbalik dapat diharapkan erupsi. Kebanyakan mesiodens tuberkel dan tipe konus yang terbalik, serta odontoma harus dicabut. Waktu perawatan perlu dipertimbangkan secara bijak dengan melihat keuntungan dan kerugian perawatan awal (sebelum usia 6 tahun) dan perawatan yang ditunda (sebelum usia 8-10 tahun) (Foster, 1999).

Pencabutan gigi mesiodens tersebut s
ecepat mungkin sejak saat diketahui, sebelum menimbulkan malposisi atau untuk meminimalisasi bila telah terjadi malposisi dari gigi lainnya. Bila terdiagnosis secara radiografi, maka harus dilakukan operasi untuk mengeluarkan gigi mesiodens tersebut (Moyers, 1988; Proffit & Fields, 2000; Bishara, 2001). Kadang mesiodens tidak bererupsi dan tidak menimbulkan masalah oklusal. Dalam hal ini, mesiodens bisa dibiarkan tetapi pada posisinya, khususnya jika gigi ini terletak tinggi di dalam rahang dan terbalik atau jika tindakan pencabutan bisa merusak gigi yang lain (Foster, 1999).

Usia yang dianjurkan oleh beberapa peneliti untuk pencabutan atau tindakan besah adalah 8-10 tahun setelah pertumbuhan akar insisif sentral hampir selesai dengan demikian gangguan yang mungkin terjadi diharapkan seminimal mungkin. Apabila tindakan pembedahan segera maka dapat mengakibatkan erupsi gigi insisif terganggu karena gigi mengalami rotasi dan terjadi pergeseran midline (Indriyati et al., 2001).

Gambar 1. (A) Terjadi pergeseran garis median apabila diastema sentral pasca pencabutan mesiodes tidak segera dilakukan. (B) Gambaran radiografisnya.
Sumber : Russell & Folwarczna, 2003
Pencabutan mesiodens secara dini memberi kesempatan baik pada gigi normal yang  sedang berkembang untuk erupsi pada posisi normalnya, akan tetapi terdapat resiko kerusakan gigi di sebelahnya yang sedang berkembang selama pembedahan. Penundaan perawatan (Gambar 1) dapat menyebabkan gigi yang normal bergeser atau mengalami rotasi dan menyebabkan gigi disebelahnya bergeser pada ruang yang ada sewaktu erupsi (Russell & Folwarczna, 2003). Makin lama mesiodens dibiarkan makin berkurang kemampuan erupsi gigi yang normal. Masing-masing kasus harus dipertimbangkan sendiri tetapi sebaiknya waktu paling tepat untuk pencabutan gigi mesiodens  (Gambar 2) adalah sewaktu gigi insisif lateral akan mulai erupsi (Foster, 1999).
Gambar 2. (A) Kondisi klinis adanya diastema sentral pasca pencabutan mesiodens. (B) Gambaran radiografis tampak adanya distema dan terdapat kerusakan tulang alveolar.
Sumber: Campbell & Kindelan, 2006
Diastema dengan ukuran yang kecil (<2 mm) bukan merupakan indikasi untuk dilakukan perawatan ortodonsi. Jarak akan menutup secara spontan ketika gigi kaninus erupsi dan akar serta mahkota insisif berubah posisi. Tetapi bila distema kecil (<2 mm) sangat menggangu dari segi estetik dan diperlukan koreksi lebih cepat maka dapat menggunakan alat ortodonsi lepasan yang dilengkapi dengan claps dan fingerspring untuk menggerakkan gigi secara tipping (Purnomo, 2007).
Gambar 3.  (A) Alat ortodonsi cekat dengan power chin untuk menggerakkan gigi ke arah diastema. (B) Diastema sentral sudah terkoreksi.
Sumber : Sumber: Campbell & Kindelan, 2006.

Pada distema yang lebar (>2mm), penggunaan alat ortodonsi cekat sangat penting karena diperlukan pergerakan gigi secara bodily. Bracket dengan slot kecil dipasang pada gigi insisif sentral maksila yang dilengkapi dengan arch wire 16×22 mm SS. Kekuatan untuk menggerakkan gigi insisif sentral secara bersamaan dapat didukung dengan penggunaan power chain
(Gambar 3) atau coil spring (Purnomo, 2007).
Penutup
Manajemen perawatan mesiodens pada periode gigi pergantian harus dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan. Penutupan diastema sentral dapat dilakukan sedini mungkin dengan menggunakan alat ortodonsi lepasan maupun cekat pasca pencabutan mesiodens pada periode gigi pergantian.

Daftar Pustaka

Alameida, JD. Cabral, LAG. Gomez, APM. Moraes, E. 1995. Supernumerary Mesiodens With Familial Character : A Clinical Report. Quintessence Int. 26: 343-5.
Andlaw, RJ. Rock, WP. 1992. Perawatan Gigi Anak. Jakarta: Widya Medika.
Bishara, SE. 2001. Textbook of Orthodontics. Philadelphia: W.B. Saunders Company.
Campbell, A. Kindelan. J. 2006. Maxillary Midline Diastema: a Case Report Involving a Combined Orthodontic/Maxillofacial Approach. Journal of Orthodontics. 33(1):22-27.
Foster, TD. 1999. Buku Ajar Ortodonsi. Edisi ke 3. Jakarta: EGC.
Hattab, NF. Yassin, GM. Rawashdeh, MA. 1994. Supernumerary Teeth: Report of Three Cases and Review of the Literature. J Dent Child. 61: 382-93.
Huang, WH. Tsai, TP. Su, HL. 1992. Mesiodens in the Primary Dentition Starge: A Radiographic Study. J Dent Child. 59(3): 186-9.
Indriyati, R. Sutadi, H., Soenawan, H. 2001. Mesiodens Penyebab Malposisi Gigi Insisif Sentral pada Periode Geligi Bercampur. JKGUI. 8(2). 4-7.
Moyers, RE. 1988. Handbook of Orthodontics. 4th ed. Chicago: Year Book Medical Publisher Inc.
Proffit, WR. Fields, HW. 2000. Contemporary Orthodontics. 3rd ed. St Louis, Missouri: Mosby Inc.
Purnomo, TPH. 2007. Manajemen Diastema Pasca Pencabutan Mesiodoens. Jurnal PDGI. Edisis Khusus PIN IKGA II. 100-102.
Russell, KA. Folwarczna, MA. 2003. Mesiodens – Diagnosis and Management of a Common Supernumerary Tooth. J Can Dent Assoc. 69(6):362-366.Copyright ©2011, Ali Taqwim [dentistalit@yahoo.co.id]

2 thoughts on “Manajemen Perawatan Diastema Sentral Pasca Pencabutan Gigi Mesiodens

    intan rawit said:
    April 24, 2011 pukul 9:36 am

    giginya ngeri amat ya lit…hiiiiiiiiiii…

      dentosca responded:
      April 24, 2011 pukul 2:45 pm

      serem gimana ya bunda?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s