Menulis Karya Ilmiah Kreatif (I)

Posted on Updated on


“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” — Pramoedya Ananta Toer

Proses Kreatif Penulisan Karya Ilmiah

Seluruh aktivitas menulis, baik menulis puisi, novel, komentar di facebook, maupun karya ilmiah merupakan suatu proses kreatif. Selama mengerjakan tulisannya, penulis menggali ide-ide yang terdapat dalam pikirannya serta memperkaya ide-ide tersebut dengan mengolah ide dan fakta-fakta yang relevan, yang diperoleh dari berbagai referensi. Ide-ide tersebut kemudian dipilah-pilah, dikombinasikan, diorganisasikan, dan kemudian diungkapkan secara tertulis dengan menerapkan sistematika dan metode atau teknik penulisan tertentu agar tulisan tersebut dapat dipahami secara jelas serta mampu memenuhi tujuannya. Dengan mengkombinasikan kedua kemampuan ini, barulah seseorang dapat menghasilkan sebuah tulisan, baik kategori ilmiah maupun non ilmiah. Dengan kata lain, hanya orang-orang kreatiflah yang akan dapat menjadi penulis yang baik. 

Menulis merupakan aktivitas yang tahapan prosesnya berbeda-beda di antara seorang penulis dengan penulis lain. Meskipun demikian, terdapat beberapa tahapan logis yang perlu ditempuh untuk menghasilkan tulisan yang bagus. Dalam praktik penulisan, tahapan-tahapan itu tidak ditempuh secara linier, melainkan melompat-lompat dengan gerakan maju dan mundur dari satu tahapan ke tahapan lain. Oleh karena itu, Gardner dan Johnson (1997) menggambarkan aktivitas menulis sebagai suatu proses yang cair yang terdiri dari delapan tahapan dan berlangsung — disadari atau tidak oleh penulis — bolak- balik atau melompat-lompat ke depan dan ke belakang.

Tahapan Penulisan Karya Ilmiah 

Kedelapan tahapan menulis yang diusulkan Gardner dan Johnson (1997) adalah sebagai berikut.

  1. Pra-menulis (prewriting), yang terdiri dari dua jenis aktivitas, yaitu: (a) tahapan penggalian dan pengayaan ide yang dapat dilakukan melalui perenungan (brainstorming), membaca bahan pustaka yang relevan, pembuatan peta pikiran; dan (b) penentuan karakteristik pembaca target, tujuan dan bentuk tulisan,
  2. Pembuatan draf awal, atau penuangan ide ke atas kertas. Dalam tahapan ini penulis tidak perlu merisaukan konvensi atau kaidah-kaidah penulisan. Draf awal tidak perlu harus ditulis rapi. Yang penting ide-ide yang telah terakumulasi dalam pikiran dapat mengalir dan dituangkan ke lembaran kertas.
  3. Pembacaan ulang, yang dilakukan untuk mengoreksi draf awal dan menuliskannya ke dalam bentuk yang memenuhi kaidah-kaidah penulisan.
  4. Pemeriksaan mitra bestari (share with a peer revisor), yang dilaksanakan dengan meminta seseorang membaca naskah yang sudah ditulis ulang untuk mengidentifikasi kelemahan (struktur, kosa kata, pengutipan, kejelasan ide, tatabahasa) untuk melakukan perbaikan.
  5. Revisi (revise), atau perbaikan ulang terhadap naskah dengan cara menambah atau mengurangi detil pendukung dan hal-hal lain yang teridentifikasi melalui pemeriksaan mitra bestari.
  6. Pengeditan (editing) atau perbaikan teknik penulisan dan ejaan.
  7. Penulisan naskah akhir (final draft), atau penulisan naskah akhir.
  8. Penerbitan (publishing), atau pengiriman naskah ke redaktur jurnal untuk diterbitkan.

Sebagai sebuah proses yang berlangsung tidak linier, melainkan bolak balik, tahapan penulisan dapat diilustrasikan dengan gambar berikut:

Dilihat dari tahapan proses penulisan di atas, jelaslah bahwa penulisan karya ilmiah melibatkan dua aktivitas tama: berpikir dan menulis. Aktivitas berpikir merupakan aktivitas utama dalam tahapanprewriting, yang didominasi oleh perenungan, membaca, dan meneliti dalam rangka menggali dan mengembangkan ide. Sedangkan aktivitas menulis mendominasi tahapan kedua hingga ketujuh (meskipun kegiatan berpikir juga terlibat dalam seluruh tahapan ini). Dengan demikian, tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa menulis karya ilmiah pada hakikatnya merupakan rangkaikan kegiatan “pikirkan-tulis-pikirkan-tulis!” (Think-write-think-write).

Membaca : Langkah Awal Menulis Kreatif 

Aktivitas berpikir yang paling praktis (namun ampuh) dalam rangka menggali dan mengembangkan ide adalah membaca. Semakin banyak seseorang membaca, semakin banyak pula ide yang dimilikinya, dan semakin mampu pula dia memilah ide yang perlu dan relevan, atau ide yang tidak perlu, usang atau kadaluwarsa. Selain itu, membaca juga memberikan dua keuntungan lain. Pertama, membaca memungkinkan seseorang memahami selera pembaca. Pemahaman ini akan memampukannya mengarahkan tulisannya sesuai selera dan keinginan pembaca. Kedua, dengan banyak membaca, seseorang dapat belajar mengenai bagaimana seorang penulis menyampaikan dan mengorganisasikan ide atau gagasan, menyusun kalimat yang efektif, dan sebagainya. Oleh sebab itu, untuk dapat menjadi seorang penulis yang baik, langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperbanyak membaca.

* Dari artikel “Penulisan Karya Ilmiah” oleh Parlindungan Pardede (2010).

Semoga Bermanfaat!

“Menulis adalah sebuah keberanian…”— Pramoedya Ananta Toer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s