Maafkan saya, yang telah kasar pada anda …

Posted on Updated on


Teruntuk makhluk yang diciptakan dari tulang rusuk…

Malam ini, setelah saya membaca buku “Agar Bidadari Cemburu Padamu” oleh Salim A. Fillah, ada perasaan berbeda. Berkali-kali saya baca hingga sudah tak terkira. Saya bolak-balik halaman bukunya yang sudah tidak karuan bentuknya. Hingga malam ini saya menemukan kembali, dan mungkin mengingatkan saya pada suatu hal. Bagaimana saya harus memperlakukan makhluk Tuhan pendamping pria itu, wanita. Dan saya menemukan hadist berikut ini:

“Selalu wasiatkan kebaikan kepada para wanita. Karena mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari jalinan tulang rusuk ialah tulang rusuk bagian atas. Jika kalian paksa diri untuk meluruskan, ia akan patah. Tetapi jika kalian mendiamkannya ia akan tetap bengkok. Karena itu, wasiatkanlah kebaikan kebaikan kepada para wanita.” 
(Al Bukhari, dari Abu Hurairah)

Dulu pernah saya berfikir dan berteori sendiri. Jika RA Kartini telah membawa banyak perubahan pada kaum wanita yang diberi nama “emansipasi”, yang artinya kurang lebiih adalah kesetaraan dengan pria. Saya artikan “emansipasi” itu dengan membabi buta dengan menyamaratakan mereka dengan kaum saya. Saya akui, mereka “wanita” mempunyai kekuatan dan pemikiran yang sama, apalagi di jaman sekarang. Oleh sebab itu, saya juga memperlakukan wanita seperti halnya kaum saya sendiri, pria.

Namun, seiring berjalannya waktu. Teori saya itu salah. Saya kemudian tak memiliki banyak alasan untuk menyangkalnya. Beberapa peristiwa telah saya lihat dan saya alami sendiri. Walaupun “emansipasi” wanita itu telah melekat begitu kuat. Namun, arti “emansipasi” itu berubah dari persamaan yang mengacu kepada keadilan. Keadilan di sini bukanlah diartikan “sama rata”. Tetapi keadilan adalah menempatkan sesuatu pada porsinya masing-masing. Tak bisa dielakkan lagi kodrat mereka “para wanita” adalah makhluk yang memiliki perasaan halus. Makhluk yang lebih terbiasa menggunakan hati dan perasaan.

Walaupun, menurut kodratnya pria lebih kuat fisiknya dari pada hatinya. Namun wanita sebaliknya lebih kuat hatinya dari pada fisiknya.

Dan saya pun sedikit mengerti, bagaimana kita (pria) memperlakukan kaum yang telah kesusahan mengandung dan melahirkan anak ke dunia, termasuk kita. Para pria seharusnya juga tahu bagaimana memperlakukan wanita. Menjaga tanpa mengekang, menghormati kebebasan namun tetap melindungi, serta memberikan rasa nyaman sekaligus aman.

Dengan segenap hati, maafkan saya. Saya yang pernah memperlakukan anda dengan kasar wahai para wanita.

Bukan dari tulang ubun ia dicipta
Sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja

Tak juga dari tulang kaki
Karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak

Tetapi dari rusuk kiri
Dekat ke hati untuk dicintai
Dekat ke tangan untuk dilindungi

[BanyuBiru]
Istana Danau Toba, 11-05-2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s