Parameter Pengukuran Pembengkakan dan Trismus Pasca Odontektomi

Posted on Updated on

Ekstraksi gigi atau pencabutan gigi merupakan suatu tindakan pembedahan yang melibatkan jaringan tulang dan jaringan lunak dari rongga mulut, tindakan tersebut dibatasi oleh bibir dan pipi dan terdapat faktor yang dapat mempersulit dengan adanya gerakan dari lidah dan rahang bawah. Tindakan dengan teknik yang cermat dengan didasari pengetahuan serta ketrampilan merupakan faktor yang utama dalam melakukan tindakan pencabutan gigi. Jaringan hidup harus ditangani dengan hati-hati tindakan yang kasar dalam penanganan akan mengakibatkan kerusakan atau bahkan kematian jaringan. Pencabutan gigi dapat dilakukan bilamana keadaan lokal maupun keadaan umum penderita (physical status) dalam keadaan yang sehat. Kemungkinan terjadi suatu komplikasi yang serius setelah pencabutan, mungkin saja dapat terjadi walaupun hanya dilakukan pencabutan pada satu gigi.

Odontektomi merupakan suatu pencabutan gigi yang tidak tumbuh dan tumbuh terhalang atau gigi yang akarnya tertahan sehingga pengambilannya memerlukan pengambilan tulang bukal dengan cara pembedahan (Soelistiono & Widiastuti, 2003). Menurut Endrajana (2005) odontektomi merupakan suatu tindakan pembedahan untuk mengambil gigi molar ketiga rahang bawah (yang paling sering mengalami impaksi) yang mempunyai posisi impaksi total ataupun yang erupsi sebagian dengan berbagai kategori klasifikasi.

Evaluasi klinis pasca ekstraksi gigi dan odontektomi meliputi : (a) pemeriksaan subjektif dan (b) pemeriksaan objektif. Pemeriksaan subjektif dilakukan untuk memperoleh data tentang keluhan-keluhan post ekstraksi gigi dan odontektomi. Pemeriksaan objektif dilakukan untuk memperoleh data tentang komplikasi post ekstraksi dan odontektomi yang memerlukan pemeriksaan secara fisik, antara lain : kontrol perdarahan, kontrol rasa sakit, evaluasi keadaan ekstra oral dan intra oral. Keadaan ekstra oral dilihat apakah terdapat pembengkakan dan ada tidaknya trismus, sedangkan pada intra oral dilihat proses penyembuhan dari gingival, soket tulang alveolar dan jaringan lunak disekitar lokasi ekstraksi atau odontektomi.

Parameter Pembengkakan (Edema)

Pembengkakan (edema) sebagai akibat trauma setempat seperti odontektomi terjadi sebagai tanda proses radang dengan disertai kemerahan dan rasa sakit. Edema dapat melibatkan jaringan di dalam rongga mulut dan melibatkan otot-otot pipi dan sekitarnya yang mengakibatkan pembengkakan pipi (Asmordjo, 1992). Pembengkakan merupakan kelanjutan normal dari setiap pencabutan dan pembedahan gigi, serta merupakan reaksi normal dari jaringan terhadap cedera. Hal ini merupakan reaksi individual, yaitu trauma yang besarnya sama, tidak selalu mengakibatkan derajat pembengkakan yang sama baik pada pasien yang sama atau berbagai pasien (Pedersen, 1996).

Pengukuran pembengkakan diukur melalui jarak horizontal dan vertikal dengan menggunakan penggaris fleksibel. Pengukuran pada wajah dengan menghubungkan sudut mentalis dan 4 titik wajah yang berhubungan dengan angulus mandibula yaitu tragus, bagian luar kantus mata, hidung dan pipi. Pengukuran pembengkakan diukur melalui jarak horizontal antara sudut mulut dan tragus dan jarak vertikal antara bagian luar kantus mata dan angulus mandibula (Filho et al., 2008).

Persentase pembengkakan wajah ditentukan dengan perhitungan sebagai berikut :

%   Pembengkakan wajah = (ukuran postoperatif – ukuran preoratif ) 100% / ukuran preoperatif

Pembengkakan akibat trauma ekstraksi gigi maksimum berlangsung selama 24-48 jam. Normalnya pembengkakan akan mulai berkurang setelah 48 jam (Filho et al., 2008).

Parameter Trismus

Trismus dapat disebabkan oleh edema pasca bedah. Hal ini didukung pendapat Osmani (2001), edema sekitar bekas pembedahan molar ketiga akan meyebabkan perubahan jaringan sekitarnya dan muskulus pengunyahan mengalami kontraksi sehingga akan menimbulkan trismus. Menurut Vriezen, trismus terjadi bukan karena meningkatnya volume dari muskulus karena edema dan infiltrate tetapi lebih disebabkan karena reaksi atas rasa sakit yang disebabkan oleh gerakan rahang (Dwipayani et al., 2009).

 

Gambar 1. Pengukuran trismus dengan tongue blade (Fragiskos, 2007)

Pengukuran trismus menggunakan metode Maximum Interincisal Opening Distance (MID) (Gambar 1) yaitu mngukur jarak antara insisal gigi insisif RA dan gigi insisif RB. Menurut Osmani (2001), parameter derajat trismus adalah sebagai berikut (Tabel 1).

Tabel 1. Derajat trismus

Derajat trismus

Jarak interinsisal (cm)

Keterangan

I

0,09

II

1-1,9

III

2-3

IV

+ 3

normal

Copyright ©2011, Ali Taqwim (dentistalit@yahoo.co.id)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s