Restorasi Preventif Resin pada Pit dan Fisur

Posted on Updated on

Usaha Pencegahan terhadap Perkembangan Karies pada Pit dan Fisur

Karies gigi merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi yaitu pada email, dentin, dan sementum, yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik dalam suatu karbohidat yang diragikan. Tandanya adalah adanya demineralisasi jaringan keras gigi yang kemudian diikuti oleh kerusakan bahan organiknya. Akibatnya terjadi invasi bakteri dan kematian pulpa serta penyebaran infeksinya ke jaringan periapeks yang dapat menyebabkan nyeri. Namun, mengingat mungkinnya remineralisasi terjadi, pada stadium yang sangat dini penyakit ini dapat dihentikan (Kidd & Bechal, 1992).

Pada anak-anak, proses demineralisasi pada karies gigi berjalan lebih cepat dibanding orang tua, hal ini disebabkan : (1) email gigi yang baru erupsi lebih mudah diserang selama belum selesai maturasi setelah erupsi (meneruskan mineralisasi dan pengambilan flourida) yang berlangsung terutama satu tahun setelah erupsi; (2) remineralisasi yang tidak memadai pada anak-anak, bukan karena perbedaan fisiologis, tetapi sebagai akibat pola makannya (sering makan makanan kecil); (3) lebar tubuli pada anak-anak mungkin menyokong terjadinya sklerotisasi yang tidak memadai; dan (4) diet yang buruk dibandingkan dengan orang dewasa, pada anak-anak terdapat jumlah ludah dari kapasitas buffer yang lebih kecil, diperkuat oleh aktivitas proteolitik yang lebih besar di dalam mulut (Schuurs, 1993).

Berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan prevalensi karies pada gigi molar satu permanen pada anak-anak. Upaya tersebut mengingat bahwa pentingnya fungsi gigi molar permanen dalam sistem stomatognatik. Gigi molar satu permanen mudah diserang karies gigi karena bentuk anatomisnya, permukaannya memiliki pit dan fisur yang memudahkan retensi makanan dan merupakan tempat ideal bagi pertumbuhan bakteri karies. Selain itu, sulit bagi anak untuk membersihkan secara baik daerah pit dan fisur gigi molarnya dengan sikat gigi, karena sebagian besar bagian dalam pit dan fisur tidak dapat dicapai dengan bulu sikat gigi. Dengan demikian gigi molar satu permanen paling mudah terkena karies dibandingkan gigi permanen lainnya (Andlaw & Rock, 1993).

Mengingat prevalensi karies pada pit dan fisur cukup tinggi, maka dilakukan berbagai upaya untuk mengubah permukaan oklusal gigi molar satu permanen menjadi lebih tahan terhadap serangan karies. Sejak tahun 1923, Hyatt telah menerapkan tehnik prophylactic odontotomy yaitu memakai prinsip extension for prevention yaitu melakukan preparasi kavitas pada fisur dalam yang belum terkena karies, kemudian menambalnya dengan amalgam untuk tujuan profilaksis. Bodecker pada tahun 1929 melakukan fissure eradication yaitu menghilangkan fisur dan menghaluskannya tetapi tidak diikuti dengan penambalan. Tehnik ini tidak berkembang dan kemudian ditinggalkan. Walaupun kemudian sejak tahun 1950 perkembangan fluoridasi secara topikal dan sistemik berpengaruh besar terhadap prevalensi karies pada gigi anak, tetapi ternyata kurang efektif untuk permukaan oklusal (Yoga, 1997).

Sampai kemudian pada tahun 1950 Buonocore memperkenalkan metode perlekatan resin pada permukaan email yang dietsa asam. Metode ini potensial untuk tindakan pencegahan terhadap karies dan dapat diaplikasikan langsung ke permukaan oklusal. Sejak saat itu banyak penelitian dilakukan diantaranya ditemukan bahwa semen glass ionomer dapat digunakan sebagai bahan penutup permukaan oklusal dengan tehnik dan manipulasi lebih sederhana daripada resin komposit karena dapat berikatan langsung dengan email, dentin dan sementum secara fisik. Walaupun telah diupayan semaksimal mungkin untuk mencegah terjadinya karies pada permukaan oklusal gigi molar satu permanen, tetapi banyak ditemukan lesi karies kecil pada pit dan fisur yang dalam (Waggoner, 1991; Kilpatrick, 1996; Yoga, 1997).

Restorasi Preventif Resin sebagai Alternatif Restorasi Pencegahan Karies pada Pit dan Fisur

Restorasi pencegahan adalah suatu perawatan pencegahan yang merupakan pengembangan dari pemakaian sealant pada permukaan oklusal, yaitu integrasi dari pencegahan karies dengan sealant dan penambalan karies dengan resin komposit pada permukaan yang sama. Lesi awal pada pemukaan gigi dihilangkan dengan preparasi seminimal mungkin, ditambal kemudian untuk mencegah terjadinya karies di masa mendatang permukaan tambalan diberi sealant (Mathewson & Primosch, 1995).

Tujuan dari restorasi pencegahan adalah untuk menghentikan proses karies awal yang terdapat pada pit dan fisur, terutama pada gigi molar permanen yang memiliki pit dan fisur, seklaigus melakukan tindakan pencegahan terhadap karies pada pit dan fisur yang belum terkena karies pada gigi yang sama. Pit dan fisur yang dalam dan sempit atau pit dan fisur yang memiliki bentuk seperti leher botol, secara klinis merupakan daerah yang sangat mudah terserang karies, karena sewaktu gigi disikat bagian dalam pit dan fisur tidak dapat dijangkau oleh bulu sikat gigi (Yoga, 1997).

Preventive resin restoration merupakan suatu prosedur klinik yang digunakan untuk mengisolasi pit dan fisur dan sekaligus mencegah terjadinya karies pada pit dan fisur dengan memakai tehnik etsa asam. Tehnik ini diperkenalkan pertama kali oleh Simonsen pada tahun 1977, meliputi pelebaran daerah pit dan fisur kemudian pembuangan email dan dentin yang telah terkena karies sepanjang pit dan fisur. Menurut Simonsen, terdapat tiga tipe bahan restorasi pencegahan dengan resin (tipe A, tipe B dan tipe C) yang diklasifikasikan berdasarkan pada perluasan dan kedalaman karies. Klasifikasi ini untuk menentukan bahan restorasi yang akan dipakai (Simonsen 1980; Yoga, 1997).

Awalnya, bahan yang dipakai adalah bahan sealant tanpa partikel pengisi (unfilled) untuk tipe A, resin komposit yang dilute untuk tipe B dan filled resin komposit untuk tipe C. Dengan perkembangan tehnologi ditemukan bahan yang lebih tahan terhadap pemakaian, pengerasannya diaktivasi sinar yakni resin komposit untuk gigi posterior. Generasi baru dari bahan tersebut akan mempertinggi keberhasilan restorasi resin pencegahan. Selain resin komposit, dipakai juga bahan tambal lain agar dapat didapat kekuatan yang lebih besar. Seperti pada tehnik glass ionomer resin preventive restoration, glass ionomer preventive restoration dan sealant-amalgam preventive restoration (Yoga, 1997).

Efek peletakan sealant terhadap kelangsungan hidup mikroorganisme dan perkembangan karies di bawah restorasi sealant telah banyak didokumentasikan. Menurut Handelman et al. Menyatakan bahwa terdapat penurunan yang signifikandalam jumlah mikroorganisme yang dapat hidup setelah 2 minggu penempatan sealant, dan setelah 2 tahun terjadi penurunan 99,9% mikroorganisme dapat hidup. Prosedur etsa sendiri juga dapat mengurangi jumlah mikroorganisme yang dapat hidup sebanyak 75%. Bahan sealant juga efektif mengisolasi bakteri yang terperangkap di kedalaman fisur dari sumber nutrisi karbohidrat yang berasal dari lingkungan mulut (Hicks & Flaitz, 1992; Octiara, 2002). Aplikasi sealant juga telah diketahui dapat menghentikan perkembangan lesi karies dengan bahan sealant dari lingkungan mulut dapat memudahkan odontoblast untuk membentuk dentin reparatif pada daerah yang didemineralisasi oleh serangan karies. Hasil respon biologis ini akan menahan dan memineralisasi kembali lesi dentin (Hicks, 1984; Octiara, 2002).

Banyak metode yang digunakan untuk mempersiapkan restorasi resin pencegahan diterangakn dalam literatur. Namun pada dasarnya menggunakan urutan perawatan sebagai berikut: isolasi, preparasi, restorasi dan aplikasi sealant. Pada tahap awal, permukaan oklusal gigi dibersihkan memakai rubber dam atau dapat juga dengan gulungan kapas (cotton roll) disertai saliva ejektor (Yoga, 1997).

Permukaan yang kering sangat penting untuk retensi bonding. Kontaminasi salivadan cairan harus dihindarkan selama aplikasi sealant dan polimerisasi. Menurut Ferguson dan Ripa pada tahun 1980 mengindikasikan bahwa isolasi dengan rubber dam menghasilkan retensi yang lebih baik untuk sealant yang diaktivasi dengan sinar, tetapi tidka untuk bahan sealant autopolimerisasi yang tanpa dilakukan tanpa bantuan asisten. Namun, menurut penelitian Eidelman et al. (1983), tidak ada perbedaan yang bermakna antara pemakaian rubber dam dengan gulungan kapas terhadap retensi fisur silen, yakni pemakaian rubber dam silen yang beretensi penuh rata-rata antara 97% setelah 6 bulan dan 96% setelah 24 bulan sedangkan isolasi dengan emmakai gulungan kapas rata-rata 99% silen yang beretensi penuh untuk 6 bulan dan 88% untuk 24 bulan.

Gambar 1. Tahapan tehnik restorasi preventif resin. (1) pemberian rubber dam, (2) hasil preparasi kavitas, (3) pemberian etsa asam berupa gel selama 15 detik, (4) pemberian dentin/enamel primer, (5) selapis tipis resin adhesive, (6) aplikasi resin komposit pada kavitas Sumber : Strassler & Goodman, 2002

Pada pembuangan jaringan karies, maka daerah pit dan fisur yang buang adalah daerah yang mengalami dekalsifikasi atau yang dicurigai telah terjadi karies dengan menggunakan round bur kekuatan rendah. Daerah retnsi tidak diperlukan karena restorasi ini mendapatkan perlekatan ke jaringan dengan tehnik etsa asam. Tujuannya adalah untuk membuang seluruh jaringan karies dan struktur gigi seminimal mungkin. Selanjutnya dilakukan profilaksi dengan pumis yang tidak mengandung fluor sehingga permukaan email benar-benar bersih dan dibur sebelum dietsa. Sebagai alternatif untuk memperoleh tujuan yang sama, dapat menggunakan sikat gigi dan pasta gigi. Dengan metode ini nilai retensi yang diperoleh sebanding dengan metode menggunakan profilaksis pumis (Yoga, 1997).

Tahap selanjutnya adalah penetsaan asam menggunakan asam fosfat 37% yang diletakkan pada permukaan email di oklusal gigi (pit dan fisur). Pengetsaan ini menghasilkan pori-pori yag memungkinakan infiltrasi mikroskopis resin ke dalam permukaan gigi yang kemudian resin akan berpolimerisasi dan membentuk ikatan dengan gigi (Simonsen 1980; Yoga, 1997). Bentuk bahan etsa asam fosfat ada dua macam ayaitu larutan dan gel. Menurut Brown (1988) bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna pada penetrasi asam fosfat yang berbentuk larutan atau gel pada pit dan fisur sehingga sama efektifnya karena mempunyai pola etsa yang mirip dan keduanya tidak efektif membuang sisa debris dari pit dan fisur. Tetapi sehubungan dengan kualitas panganan klinis yang lebih baik dianjurkan penggunaan bahan etsa bentuk gel untuk aplikasi sealant.

Selanjutnya diletakkan selapis tipis bonding resin atau bonding dentin ke dalam preparasi kavitas, kemudian diikuti dengan komposit posterior yang dicairkan untuk kavitas tipe B atau bahan komposit posterior untuk tipe C yang dilanjtkan dengan penyinaran selama 60 detik. Aplikasikan bahan sealant di atas daerah restorasi dan pit dan fisur sekitarnya yang telah dietsa, kemudian disinar selama 40 detik. Untuk restorasi preventif resin tipe A hanya bahan silen yang diaplikasikan pada permukaan oklusal termasuk enamel yang dipreparasi (Octiara, 2002).

Gambar 2. Hasil perawatan menggunakan tehnik restorasi preventif resin. (A) Gambaran klinis lesi karies pada gigi premolar pertama rahang atas dan molar pertama (sebelum perawatan), (B) folow up selama 5 tahun menujukkan hasil yang baik (sesudah perawatan) Sumber : Strassler & Goodman, 2002

Pada ketiga tipe bahan di atas yaitu tipe A, tipe B dan tipe C sebagiman halnya sealant memerlukan pemeriksaan ulangan setiap 6 bulan, karena walaupun terlihat baik tetapi beberapa bulan kemudian kemungkinan terlihat lepasnya bahan tambal dari gigi, baik sebagian amupun seluruhnya. Kontaminasi cairan adalah alasan yang paling sering menyebabkan kegagalan bonding. Selain itu penyebab lainnya adalah berkurangnya resin karena pemakaian. Keadaan ini dapat ditutupi dengan penambahan material pada kunjungan ulang (Mathewson & Primosch, 1995).

Perbedaan Sealant pada Restorasi Preventif Resin dengan Restorasi Amalgam

Restorasi pencegahan dengan resin merupakan jawaban terhadap filosofi extension for prevention pada teori preparasi amalgam kelas I, dimana bentuk preparasi kavitas harus mencapai tepi lesi karies serta menyertakan pit dan fisur yang kemungkinan akan terkena karies di masa yang akan datang. Perluasan ini menyebabkan pembuangan jaringan sehat gigi yang cukup banyak dan ternyata preparasi amalgam konservatif justru melemahkan struktur gigi (Mathewson & Primosch, 1995).

Perlekatan restorasi amalgam sebagai pengganti sealant pada permukaan oklusal disukai lebih dari dua pertiga dokter gigi, alasan utamanya karena percaya bahwa amalgam sebagai bahan restorasi permanen sedangkan sealant hanya restorasi sementara. Namun beberapa penelitian menunjukkan bahwa amalgam sering membutuhkan penggantian restorasi. Restorasi amalgam pada bagian oklusal yang bertahan selama 5 tahun pada gigi molar satu permanen yaitu sebanyak 30% untuk pasien berusia 5-7 tahun dan 43% pada usia 7-9 tahun. Kerusakan amalgma yang perlu penggantian karena terbentuknya kavitas perifer meningkat secara signifikan. Hal ini disebabkan pada restorasi amalgam terbentuk celah mikro kira-kira 3 µm di antara restorasi dengan dinding kavitas, sehingga menghasilkan kebocoran di sekitar restorasi yang akhirnya menyebabkan terbentuknya karies (Hicks, 1984; Octiara, 2002).

Penelitian Houpt et al. (1982) menghasilkan 92% restorasi preventif resin beretensi sempurna setelah 18 bulan dan 6% beretensi sebagian, insiden karies dilaporkan kurang dari 1% pada gigi yang direstorasi selama 3 tahun. Retensi bahan resin sealant ini didapat dari kontak yang rapat antara bahan resin dengan enamel yang dietsa (hubungan resin tag dan enamel yang dietsa) sehingga dapat mengurangi kebocoran mikro sepanjang permukaan antara enamel dan resin yang akhirnya dapat menurunkan insiden akries sekunder (Houpt et al., 1982; Hicks, 1984; Octiara, 2002).

Ali Taqwim (dentistalit@yahoo.co.id)

6 thoughts on “Restorasi Preventif Resin pada Pit dan Fisur

    wasilah said:
    Juli 7, 2011 pukul 3:47 am

    oalah mas..mas……tnyata ini bikinanmu tah,,thx2 infox

    dentosca responded:
    Juli 7, 2011 pukul 7:40 pm

    hahhahahhaaha….🙂

    drg.Ivonne said:
    November 11, 2011 pukul 9:28 am

    Salam kenal yah, blog nya menarik banyak pengetahuan disini, maju terus dan sukses🙂

    dentosca responded:
    November 14, 2011 pukul 8:10 am

    salam kenal juga dok, terima kasih atas kunjungannya🙂

    semoga bermanfaat,,,

    sal said:
    Oktober 23, 2013 pukul 7:38 am

    sumber nya darimana ajjaa ? makasih

    Windy said:
    Juni 3, 2015 pukul 1:35 am

    mas alit, bedanya preventive rsin restoration ini sama fissure sealant apa ya mas? pada kasus yang bagaimana / indikasinya masing2 gmn ya mas? di Pedo kita kan adanya fissure sealant yg bahan GI sama yg komposit itu. di ujian ada yg soal pilihannya ada keduanya. jadi bingung..hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s