Peran Menyusui ASI dan Implikasi Penyapihan Dini Terhadap Perkembangan Motorik Oral Anak (Kajian Medis dan Al-Qur’an)

Posted on Updated on

PERAN MENYUSUI ASI DAN IMPLIKASI PENYAPIHAN DINI TERHADAP PERKEMBANGAN MOTORIK ORAL ANAK (KAJIAN MEDIS DAN AL-QUR’AN) *

Ali Taqwim, Wasilah Yahya, Putri Kharisma Dewi
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember

ABSTRACT
The World Health Organization (WHO) urges member states to support exclusive breasfeeding for the first 6 month as a global public health recommendation and to provide safe and appropriate complementary foods, with continued breasfeeding for up to 2 years or more. In Islam, breasfeeding has been mentioned in Qur’an (2:233) that command for the mothers to suckle (breastfeed) their children for a period of 2 years. Benefit of breasfeeding besides the nutritional, immunological, emotional and socioeconomic, also have positive effects in craniofacial and oral motor growth and development. The important sucking mechanism during breasfeeding helps the speech organs and the development of breathing, chewing, swallowing and articulation of speech sound. Early weaning may lead to a proper oral motor development rupture, which may cause negative consequences to swallowing,breathing and speaking activities as well as malocclusion, oral breathing and oral motor disorders.

Keywords: Breastfeeding, early weaning, oral motor development, malocclusion

* Dipresentasikan dalam “Islamic Medical Science Festival 3rd” 2011.

Latar Belakang

Angka kematian bayi (AKB) sebesar 23 per 1.000 kelahiran hidup menjadi salah satu dari delapan target Millenium Development Goals (MDGs) yang mesti dicapai hingga tahun 2015. AKB di Indonesia pada tahun 2000 sebesar 35 per 1.000 kelahiran hidup, angka ini lebih tinggi dibanding dengan negara-negara di Asia Tenggara. Tingginya AKB di Indonesia, disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah rendahnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) segera setelah bayi lahir (inisiasi ASI) dan pemberian ASI ekslusif. Inisiasi ASI dan pemberian ASI ekslusif berperan penting dalam mengurangi angka kematian bayi di Indonesia, hingga diharapkan target MDGs pada tahun 2015 dapat tercapai.

ASI adalah suatu anugerah yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia, sebagai makanan utama pada awal periode kehidupannya di dunia. ASI sangat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan tubuh bayi yang diperkaya dengan zat kekebalan dan anti infeksi, serta menentukan kelancaran tahap awal tumbuh kembang seorang anak. Menurut Neiva et al. (2003), selain kandungan gizinya, manfaat menyusui ASI ternyata dapat membantu perkembangan organ-organ bicara terhadap pergerakannya, kekuatannya dan perkembangan organ-organ pernafasan, pengunyahan, penelanan, dan artikulasi suara serta mengurangi kebiasaan buruk pada rongga mulut dan beberapa kelainan berbicara. Terdapat kebiasaan pada anak yang dapat menyebabkan maloklusi. Kebiasaan menghisap jari umumnya merupakan kebiasaan kebiasaan buruk pada anak yang tidak mendapatkan ASI.

Penyusuan yang ideal secara ekslusif adalah selama 6 bulan hingga 2 tahun. Secara normal proses penyapihan tetap terjadi karena kebutuhan bayi akan ASI sedikit demi sedikit akan berkurang sehingga produksi ASI juga berkurang. Namun, banyak para ibu dengan berbagai alasan melakukan penyapihan yang terlalu awal, sehingga dapat berakibat buruk bagi perkembangan motorik oralnya dikarenakan ketiadaan fisiologi mengisap ASI.

World Health Organization (WHO) mendefinisikan ASI ekslusif yaitu pemberian ASI secara ekslusif pada bayi sejak lahir sampai dengan bayi berumur 6 bulan dan dianjurkan sampai anak berusia 2 tahun dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai. Ternyata pernyataan tersebut sesuai dengan firman Allah pada Q.S Al Baqarah (2 : 233), yang memberi perintah kepada para ibu untuk menyusui bayinya, penentuan periode ideal ASI yaitu dua tahun penuh dan penegasan bahwa hal tersebut sebagai periode yang sempurna. Menurut tafsir Ibnu Katsir, hal ini merupakan petunjuk dari Allah SWT kepada para ibu agar mereka menyusui anak-anaknya dengan penyusuan yang sempurna yaitu 2 tahun.

Allah SWT telah berfirman : “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya …” (QS. Al Baqarah, 2: 233).

Selain itu Allah berfirman dalam ayatnya yang lain yaitu Q.S Luqman, 31:14. “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.

Sampai saat ini, permasalahan seputar ASI dan menyusui ASI masih banyak merebak di kalangan masyarakat kita. Tingkat kesadaran masyarakat masih rendah mengenai betapa pentingnya menyusui ASI. Para orang tua memberikan susu pengganti ASI berupa susu formula. Namun akhir-akhir ini, semenjak maraknya pemberitaan efek resiko produk susu formula yang terkontaminasi bakteri Enterobacter sakazakii membuat para orang tua resah. Hal tersebut telah mendorong para orang tua untuk lebih cerdas dalam hal pemberian makanan bagi bayi dan anak. Solusi yang paling tepat adalah kembali pada perintah Allah SWT dengan menggalakkan gerakan agar para ibu memberikan ASI secara ekslusif.

Fakta-Fakta Ilmiah Peran Menyusui ASI terhadap Perkembangan Motorik Oral

  • Pada tahun 1987, Labbok dan Hendershot menerbitkan sebuah studi kohort retrospektif dari 9.698 anak-anak antara 3 dan 17 tahun. Pengkajian tersebut menilai hubungan antara menyusui dan maloklusi. Data menunjukkan anak-anak yang diberi ASI selama tiga bulan atau kurang memiliki tingkat maloklusi sebesar 32,5%. Anak ASI lebih dari dua belas bulan memiliki tingkat maloklusi hanya 15,9%. Dalam penelitian tersebut, anak-anak yang diberi makan botol adalah 1,84 kali lebih mungkin untuk memiliki maloklusi daripada anak-anak yang ASI. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa setiap bulan tambahan menyusui berkontribusi terhadap penurunan indeks maloklusi.
  • Penelitian yang dilakukan Viggiano et al. (2004) pada 1.130 balita (usia 3-5 tahun) menunjukkan persentase terkena cross-bite pada anak ASI yang menyusu langsung 13% lebih kecil dibandingkan mereka yang menyusu dari botol. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa semakin awal bayi menyusu dari botol dua kali lebih besar terkena risiko maloklusi atau kerusakan pada gigi dibandingkan bayi yang menyusu langsung atau tidak menyusu dari botol.
  • Penelitian Peres et al. (2007), menyebutkan bahwa kemunginan terjadinya open bite anterior dan crossbite posterior akan meningkat seiring dengan berkurangnya waktu menyusui.
  • Luz et al. (2006) meneliti tentang lama menyusui dengan kemungkinan terjadinya retrusi mandibula, hasil penelitiannya menunjukkan bahwa waktu menyusui kurang dari 6 bulan, resiko terjadinya maloklusi lebih besar dibanding yang menyusui lebih lama atau lebih dari 6 bulan. Selain maloklusi, pengaruh negatif akibat penyapihan dini adalah bernafas melalui mulut.
  • Penelitian yang dilakukan oleh Leite et al. yang menganalisis 100 anak-anak berusia antara 2 dan 11 tahun membuktikan bahwa botol susu merupakan salah satu penyebab pernafasan oral sebesar 40%. Akibat dari pernafasan oral ini juga akan bisa menyebabkan atau memperparah maloklusi .
  • Dari hasil penelitian Chaimay (2011) mengisap ASI dapat mengurangi atau mempercepat waktu untuk mengekspresikan kata pertama sekitar 2%. Janquiera membuktikan bahwa menyusui mendukung perangsangan otot lidah, yang mendorong kekuatannya dan konsekuensinya menghasilkan suara yang benar.
  • Barbosa dan Schnonberger membuktikan antara anak yang tidak menyusui atau disapih terlalu awal dimana 34% memperlihatkan perubahan artikulasi bahasa dan 30% terjadi gangguan menelan.

Beberapa visualisasi tentang menyusui ASI dan peran menyusui ASI terhadap tumbuh kembang anak termasuk perkembangan motorik oral anak (maaf jika terdapat gambar yang kurang berkenan, tujuannya hanya sebatas edukasi dan ilmu pengetahuan)


Video 1. Proses menyusui ASI



Video 2. Peran menyusui ASI terhadap rahang, lidah, gigi dan otot-oto wajah

Kesimpulan
  1. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama hingga sampai bayi berusia 2 tahun telah direkomendasikan oleh WHO. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT pada QS. Al-Baqarah (2:233) dan Q.S Luqman (31:14) yang memerintahkan para ibu untuk menyusui ASI hingga sempurna yaitu 2 tahun penuh.
  2. Menyusui ASI dapat mengembangkan aktivitas otot-otot wajah, memicu terjadinya perkembangan mandibula, mempercepat waktu untuk mengekspresikan kata pertama dan mendukung otot lidah menghasilkan suara yang benar.
  3. Penyapihan yang terlalu dini dapat memberikan efek yang buruk terhadap perkembangan motorik oral berupa terjadinya maloklusi, gangguan pernafasan oral serta gangguan motorik oral.

Informasi pada artikel di atas adalah pengggalan dari karya tulis ilmiah yang kami buat saat mengikuti kompetisi ilmiah kedokteran islam tingkat nasional pada tahun 2011 “Islamic Medical Science Festival 3rd” . Informasi lebih lanut dapat menghubungi saya di dentistalit@yahoo.co.id atau twitter saya di @dentistalit ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s