Oral Bad Habbit

Posted on

Kebiasaan Jelek Menghisap Jari

Suatu kebiasaan yang berdurasi sedikitnya 6 jam sehari, berfrekuensi cukup tinggi dengan intensitas yang cukup dapat menyebabkan maloklusi. Kebiasaan menghisap jari atau benda-benda lain dalam waktu yang berkepanjangan dapat menyebabkan maloklusi. Dari beberapa faktor ini yang paling berpengaruh adalah durasi atau lama kebiasaan berlangsung (Raharjo, 2009).

Pada usia balita, rahang anak masih dalam proses pembentukan, tulang rahang anak belum kuat. Rahang anak dapat dengan mudah berubah susunannya karena tekanan akibat hisapan ibu jari. Menghisap ibu jari berlebihan dapat menyebabkan kelainan pada langit-langit mulut. Langit-langit mulut dapat menjadi terlalu sempit dan berakibat gigi tumbuh karena sempitnya rahang (Priyess, 2009).

Aktivitas menghisap jari sangat berkaitan dengan otot-otot rongga mulut. Kebiasaan ini dapat menggangu pertumbuhan gigi dan kemampuan bicara. Efek kebiasaan menghisap terhadap perkembangan oklusal sangat bervariasi, dan sampai batas tertentu, tergantung dari pola aktivitas kebiasaan yang sesungguhnya. Kebiasaan menghisap jari hanya benar-benar merupakan masalah jika kebiasaan berlanjut sampai periode gigi geligi permanen atau gigi permanen telah tumbuh (Foster, 1997; Raharjo, 2009; Priyess, 2009).

Selain kebiasaan menghisap jari, terdapat kebisaan menghisap mainan (dummy) yang menjadi kebiasaan buruk anak. Kebisaan ini pada kebanyakan kasus menyebabkan gigitan terbuka anterior pada gigi-gigi susu atau menimbulkan malposisi gigi lainnya (Foster, 1997).

Menghilangkan Kebiasaan Jelek 

Kebiasaan menghisap jari dapat menggangu pertumbuhan gigi dan kemampuan bicara. Begitu juga dengan makanan, anak bisa mempunyai masalah gizi jika ia lebih menyukai ibu jarinya ketimbang makanan. Apalagi jika kebiasaan ini berlanjut hingga saat gigi permanen mulai tumbuh. Jika pada usia ini anak masih menghisap ibu jari, dapat menyebabkan gigi bagian atas mencuat ke depan (tonggos), dan gigi bagian bawah akan mengarah ke dalam mulut. Susunan gigi seperti ini akan membuat pemiliknya kesulitan untuk menggigit makanan, karena jarak antara gigi atas dengan gigi bawah berjauhan (Priyess, 2009).

Kebiasan menghisap jari atau ibu jari pada anak, sebenarnya bukan sesuatu yang harus dirisaukan orang tua, selama anak menghisap ibu jari hanya pada waktu-waktu tertentu, karena ada anak yang menghisap jari sepanjang waktu, sehingga membuat ibu jarinya pucat dan keriput. Walaupun demikian menghisap jari sebaiknya disikapi dengan tenang oleh orang tua, karena sikap orang tua yang berlebihan, hanya akan membuat anak semakin tidak nyaman dan tertekan (Priyess, 2009).

Larsson (1988) melaporkan bahwa cukup banyak anak yang berusia 9 tahun ke atas  yang berhenti menghisap jari atau ibu jari setelah satu tahun dirawat baik dengan dorongan verbal maupun dengan pesawat intraoral, dibandingkan dengan anak berusia sama yang tidak mendapat perawatan semacam itu. Menghisap mainan atau benda penenang lain biasanya dilakukan sampai anak usia 3 atau 4 tahun, dan sesudah itu sama sekali berhenti pada usia yang lebih muda dibandingkan kebiasaan menghisap ibu jari  (Foster, 1997).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s