Nursing Mouth Caries (2) : Prevention!

Posted on Updated on

Pengaturan Diet

Terlalu sering mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula adalah penyebab balita terkena karies. Karena itu, mengurangi makanan dan minuman yang mengandung gula adalah peran tentang diet yang disampaikan kepada orang tua. Agar pesan tersebut menjadi efektif, harus disampaikan dengan cara yang dapat dimengerti dan memperhitungkan beberapa kesulitan yang mungkin dihadapi oleh orang tua dalam membuat perubahan terhadap diet atau makan mereka (Fayle, 2001).

Frekuensi mengkonsumsi sukrosa yang tinggi meningkatkan keasaman plak dan mempertinggi pembentukan dan pertumbuhan sterptococcus mutans. Banyak penelitian menemukan suatu hubungan antara frekuensi mengemil dan karies gigi. Hal ini mendukung anjuran diet dengan membatasi waktu mengemil di antara anak-anak dan meningkatkan waktu makan yang teratur. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko terjadinya nursing mouth caries (karies pada anak karena pola pengasuhan) yaitu  anak tidak boleh dibiarkan tidur dengan botol yang berisi cairan lain kecuali air putih. Anak juga diajarkan untuk minum menggunakan gelas sebelum mencapai usia 1 tahun dan mulai dihentikan menggunakan botol pada usia 12-14 bulan serta pada usia 4-6 bulan mulai diberikan makanan tambahan yang padat.  Pembersihan gigi setelah menyusui merupakan preventif yang baik untuk mencegah terjadinya karies karena bakteri dan subsrat membutuhkan waktu yang lama untuk terjadinya demeneralisasi dan proses karies.

Pengendalian Plak Gigi

Ketika gigi pertama anak mulai erupsi, gigi dan mulut anak harus dibersihkan dengan kain basah atau dengan sikat gigi kecil, hal ini memungkinkan prosedur perawatan rongga mulut dianjurkan segera setelah erupsi gigi sulung. Prosedur standar ini dijumpai pada sebagaian besar anak-anak di negara-negara bagian Eropa dan USA. Orang tua harus diajarkan bagaimana harus menyikat gigi bayi mereka, baik dengan menyandarkan bayi ataupun membaringkan bayi tersebut dipangkuannya dengan kepala bayi diantara kakinya. Posisi ini membuat orang tua dapat mengendalikan anaknya untuk menyelesaikan tugas tersebut (Kendelman, 2006).

Pada bayi dapat dilakukan dengan menggunakan kapas yang dibasahi air hangat. Saat bayi tersebut  mencapai usia satu tahun, gigi disikat dua kali sehari dengan sebuah sikat gigi kecil, air dan pasta gigi fluor (seukuran biji kacang polong). Antara usia 18 da 24 bulan, anak tersebut dapat belajar untuk menyikat giginya sendiri di bawah pengawasan orang dewasa. Selain itu, orang tua hendaknya membersihkan gigi anak mereka sampai mereka mencapai usia sekolah (Mohhebbi et al, 2008). Hal tersebut untuk melatih anak agar dapat melakukannya sendiri serta mendidik dan membiasakan anak untuk menyikat gigi secara teratur dengan frekuensi dan waktu yang tepat. Hal ini selain dimaksudkan untuk pembersihan giginya sendiri juga bertujuan agar anak terbiasa dengan adanya orang lain yang mengerjakan sesuatu di dalam mulutnya sehingga bila perlu perawatan gigi di kemudian hari anak tidak merasa asing lagi (McDonald et al., 2000; Chemiawan et al., 2005).

Faktor usia mulai menyikat gigi dan orang tua yang bertanggung jawab terhadap kesehatan maka memiliki hubungan yang signifikan dengan karies pada anak. Dalam penelitian Mazhari et al (2002), menyatakan bahwa anak yang mulai menyikat gigi pada usia lebih tua memiliki prevalensi karies yang lebih tinggi. Penentuan ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan di Australia. Jadi, promosi kepedulian harus ditingkatkan karena perilaku kebersihan mulut yang dibentuk pada usia satu tahun dapat bertahan sampai masa awal anak-anak.

Penggunaan Fluor

Fluor melindungi gigi katika gigi tersebut mulai pertama kali erupsi sampai gigi tersebut berkembang selama beberapa waktu. Fluor berikatan dengan enamel yaitu permukaan luar gigi sehingga membuat gigi tersebut lebih tahan terhadap gula, plak atau invasi koloni bakteri yang menyebabkan demineralisasi dan kerusakan gigi. Penggunaan aplikasi topikal fluor seperti pasta gigi fluor, fluoride vanish, atau berkumur dengan fluor dapat membantu dalam remineralisasi, oleh karena fluor dapat mencegah dan memperbaiki kerusakan gigi pada tahap awal (Chu, 2008).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s