Pengaruh Kondisi Kesehatan Gigi dan Mulut terhadap Kesehatan secara Menyeluruh

Posted on

Oleh: Ali Taqwim

Selain keadaan sistemik yang dapat mempengaruhi keadaan rongga mulut, keadaan pada rongga mulut pun dapat mempengaruhi keadaan sistemik. Sejak dahulu telah diketahui hubungan antara kesehatan rongga mulut dengan kesehatan sistemik, sehingga kejadian pada rongga mulut tidak dapat dipisahkan dengan keadaan sistemik (Supriyatno & Darmawan, 2002).

Status kesehatan gigi-mulut sangat bermakna pada anak. Riset telah membuktikan adanya hubungan antara kesehatan mulut dengan kesehatan umum. Gangguan kesehatan mulut berdampak lebih luas daripada sekadar gangguan lokal mulut dan sekitarnya. Keadaan seperti labiopalatoskisis akan mengganggu nutrisi dan proses bicara. Berbagai kelainan gigi-mulut dapat mengganggu kesehatan umum pada anak, di antaranya: (1) gangguan pertumbuhan struktur maksilofasial – bawaan/didapat; (2) trauma wajah dan mulut; (3) kebiasaan oral yang mengganggu pertumbuhan rahang; (4) keganasan rongga mulut; dan (5) infeksi oral (karies dentis) (Supriyatno & Darmawan, 2002).

Rongga mulut merupakan tempat berkumpulnya bakteri. Rongga mulut memberi kontribusi yang cukup berarti dalam menimbulkan bakteremia. Pada keadaan penurunan imunitas, bakteri rongga mulut yang semula komensal dapat berubah menjadi patogen sehingga dapat menyebabkan bakteremia dan infeksi sistemik. Misalnya, pada keadaan penyakit jantung bawaan, infeksi pada rongga mulut dapat menyebabkan endokarditis bakterialis yang merupakan penyakit yang cukup serius. Infeksi gigi secara perkontinuitatum dapat menjalar ke mastoid dan akhirnya menyebabkan meningitis purulenta yang dapat berakibat fatal (Peterson &Thomson, 1999).

Pada keadaan mulut yang sakit, proses nutrisi mengalami gangguan. Demikian pula komunikasi. Keadaan gangguan mulut yang sering terjadi adalah karies dentis yang berhubungan dengan higiene mulut dan kurangnya fluor. Kedua hal tersebut harus menjadikan perhatian dokter, baik dokter anak maupun dokter gigi. Akibat gangguan tersebut, proses tumbuh kembang anak akan terganggu, terutama pada anak balita. Karies dentis, selain banyak dijumpai pada anak balita, juga pada anak sekolah di mana sakit gigi merupakan kejadian sehari-hari yang sering dijumpai (Supriyatno & Darmawan, 2002).

Infeksi saluran napas atas akut (ISPA) seperti faringitis dan common cold (influensa) merupakan infeksi rongga mulut yang paling sering dijumpai. Gejala utama faringitis adalah batuk, demam, nyeri saat menelan, dan rasa tidak nyaman di mulut. Faringitis karena bakteri biasanya dengan demam mendadak tinggi, sakit menelan, terdapat detritus pada farings, dan pembesaran kelenjar getah bening sekitarnya. Gejala common cold hampir sama dengan radang tenggorok. Pada yang ringan, gejala panas tidak timbul. Gejala yang dapat timbul adalah batuk, pilek, dan hidung tersumbat. Tampak bahwa infeksi sekitar rongga mulut dapat menyebabkan kelainan sistemik berupa demam, nyeri otot, dan rasa tidak nyaman pada pasien (Supriyatno & Darmawan, 2002).

Pada faringitis, pemeriksaan laboratorium terdapat lekositosis dengan netrofil yang meningkat. Jika dijumpai keadaan di atas, kemungkinan infeksi oleh Streptokokus â hemolitikus sangat besar. Infeksi kuman tersebut dapat menimbulkan kelainan di kemudian hari, yaitu penyakit jantung rematik dan glomerulonefritis pasca-streptokokus yang menjadi masalah cukup serius (Supriyatno & Darmawan, 2002).

Infeksi endokarditis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme pada katub jantung atau endokardium, seringkali pada kelainan jantung kongenital atau didapat. Penyebab pada umunya kuman, tetapi bisa juga jamur. Apabila penyebabnya adalah bakteri maka disebut bakterial endokarditis. Patogenesis infeksi endokarditis adalah penyakit jantung kongenital atau kelainan katup terjadi aliran darah abnormal di dalam jantung. Arus-arus turbulasi ini akan menimbulkan trauma pada endokardium, sehingga terjadi lesi pada jnatung. Dengan adanya bakterimia walapun sifatnya sementara akan menimbulkan vegetasi kuman (Sarsito, 2000).

Bakteri endokarditis dapat bersifat akut atau subakut. Pada yang akut bersifat sudden onset, jika tidak dirawat maka fatal dalam beberapa minggu. Penyebabnya biasanya Streptokokus aureus. Pada yang subakut bersifat slower onset, jika tidak dirawat maka fatal dalam beberapa bulan. Penyebabnya biasanya Streptokokus viridans (Sarsito, 2000).

Bakterial endokarditis seringkali dihubungkan dengan adanya foci infeksi di mulut. Hal ini karena adanya persamaan penyebab diantara keduanya dan gejala yang dapat timbul segera setelah manipulasi di mulut. Lesi-lesi di mulut yang dapat merupakan foci infeksi adalah lesi-lesi periapikal seperti granuloma, kista dan abses; gigi dengan infeksi saluran akar; dan penyakit periodontal (Sarsito, 2000).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s