Between Oral and Systemic Health in Children : Adakah Hubungannya?

Posted on Updated on

Tumbuh kembang merupakan proses yang khas pada anak, yang tidak dijumpai lagi pada orang dewasa. Tumbuh adalah bertambahnya jumlah/ ukuran dari sel/ organ tubuh, sedangkan berkembang adalah bertambah matangnya suatu organ/ individu. Untuk menjalani proses tersebut secara optimal, diperlukan kondisi kesehatan yang baik, termasuk kesehatan rongga mulut (Supriyatno & Darmawan, 2002).

Mengetahui status keadaan rongga mulut pada anak sangat penting. Ada dua status kesehatan mulut, yaitu sehat dan sakit. Diharapkan nutrisi yang baik, kesehatan secara umum dapat lebih baik sehingga proses tumbuh kembang anak tidak terganggu. Pada keadaan mulut yang sakit, masukan nutrisi mengalami gangguan. Demikian pula komunikasi. Akibatnya, proses tumbuh kembang anak terganggu. Selain itu, rongga mulut merupakan salah satu tempat yang pertama diperiksa pada anak dengan keluhan batuk, demam, atau nyeri saat menelan (Casamassimo, 2000).

Pada keadaan mulut yang sakit, proses nutrisi mengalami gangguan, demikian pula komunikasi. Keadaan gangguan mulut yang sering terjadi adalah karies gigi yang berhubungan dengan higiene mulut dan kurangnya fluor. Kedua hal tersebut harus menjadikan perhatian dokter, baik dokter anak maupun dokter gigi. Akibat gangguan tersebut, proses tumbuh kembang anak akan terganggu, terutama pada anak balita. Karies gigi, selain banyak dijumpai pada anak balita, juga pada anak sekolah di mana sakit gigi merupakan kejadian sehari-hari yang sering dijumpai (Supriyatno & Darmawan, 2002).

Infeksi saluran napas atas akut (ISPA) seperti faringitis dan common cold (influensa) merupakan infeksi rongga mulut yang paling sering dijumpai. Gejala utama faringitis adalah batuk, demam, nyeri saat menelan, dan rasa tidak nyaman di mulut. Faringitis karena bakteri biasanya dengan demam mendadak tinggi, sakit menelan, terdapat detritus pada farings, dan pembesaran kelenjar getah bening sekitarnya. Gejala common cold hampir sama dengan radang tenggorok. Pada yang ringan, gejala panas tidak timbul. Gejala yang dapat timbul adalah batuk, pilek, dan hidung tersumbat. Tampak bahwa infeksi sekitar rongga mulut dapat menyebabkan kelainan sistemik berupa demam, nyeri otot, dan rasa tidak nyaman pada pasien (Supriyatno & Darmawan, 2002).

Banyak sekali gangguan kesehatan yang sifatnya sistemik akan berdampak terhadap kesehatan mulut, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Kelainan sistemik ini bisa mengenai sistem neurologi, respirologi, kardiologi, infeksi sistemik, dan berbagai gangguan kesehatan lain. Dalam hubungan antara keadaan pada rongga mulut yang dipengaruhi oleh keadaan sitemik dibagi menjadi 3 hal penting, yaitu: (a) kedaan sistemik yang dapat mempengaruhi fisiologi rongga mulut dan bermanifestasi oral; (b) keadaan sistemik yang merupakan faktor risiko terjadinya infeksi rongga mulut; dan (c) keadaan sistemik yang berpengaruh terhadap tindakan rongga mulut (dental management) (Casamassimo, 2000).

Status kesehatan gigi-mulut sangat bermakna pada anak. Riset telah membuktikan adanya hubungan antara kesehatan mulut dengan kesehatan umum. Gangguan kesehatan mulut berdampak lebih luas daripada sekadar gangguan lokal mulut dan sekitarnya. Tidak jarang penyakit sistemik didahului dengan infeksi pada rongga mulut. Seperti diketahui bahwa infeksi pada rongga mulut (faringitis) dapat menimbulkan kelainan jantung di kemudian hari. Pada anak, infeksi rongga mulut yang tersering adalah faringitis, karies gigi, gingivitis, dan sinusitis. Infeksi paru (pneumonia) merupakan lanjutan infeksi saluran nafas akut bagian atas. Bahkan menurut penelitian, serangan asma dapat terjadi dengan cetusan infeksi pada saluran nafas atas (rongga mulut) (Kargul et al., 1998). Selain keadaan sistemik yang dapat mempengaruhi keadaan rongga mulut, keadaan pada rongga mulut pun dapat mempengaruhi keadaan sistemik. Sejak dahulu telah diketahui hubungan antara kesehatan rongga mulut dengan kesehatan sistemik, sehingga kondisi pada rongga mulut tidak dapat dipisahkan dengan keadaan sistemik (Supriyatno & Darmawan, 2002).

Urgensinya kepedulian para profesi kedokteran gigi (dokter gigi umum dan dokter gigi spesialis) untuk mewaspadai adanya kemungkinan salah satu indikator adanya kelainan sistemik dapat dikatakan sangat mendesak, karena adanya kemungkinan bahwa dokter gigi berada pada posisi terdepan atau sebagai ujung tombak dan mungkin sebagai pendeteksi utama dalam menemukan gejala awal penyakit sistemik. Adanya kewaspadaan yang tinggi akan banyak membantu pasien untuk mendapatkan perawatan yang lebih dini dan akan terhindar dari bahaya komplikasi tindakan di bidang kedokteran gigi itu sendiri (Sumariyah, 2000). Dengan demikian akan dapat direncanakan penatalaksanaan yang lebih aman dengan melihat kondisi sistemik pasien sebelum melakukan tindakan di bidang kedokteran gigi khususnya bedah kedokteran gigi.

* Catatan kecil sewaktu ko-ass di klinik pedodonsia RSGM Universitas Jember
   yang tak kan terlupakan dan tak tergantikan ^^
   dentistalit@yahoo.co.id 

Related articles:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s