Prosthodontic

Anatomi Landmark Rongga Mulut

Posted on Updated on

Dokter gigi bertanggungjawab untuk memahami dan mengenali adanya kelainan pada gigi, membran mukosa dan tulang rahang. Hal ini berdasarkan pada dasar-dasar patologi yang berhubungan dengan kepala, leher, dan struktur rongga mulut. Pemeriksaan secara rutin dapat mengenali kondisi normal maupun abnormal. Berbagai kondisi dapat diiperiksa pada saat pertama kali diamati. Penemuan dan pengamatan seharusnya dicatat dan diserahkan untuk membuat pertimbangan yang tepat terhadap diagnosis atau perawatan penyakit.

Oleh sebab itu, sebelumnya harus mengenal letak dan nama anatomi landmarknya terlebih dahulu. Saya tidak akan menjelaskan detail, saya mengupload gambar ini semoga dapat dipergunakan dengan baik. Seingat saya, saya men-scan gambar ini saat mendapatkan tugas review di klnik Prostodonsia. Semoga bermanfaat ^^


Menentukan Jenis Penahan (Retainer)

Posted on Updated on

Menentukan Jenis Penahan (Retainer)

Terdapat dua macam retainer untuk geligi tiruan yaitu penahan langsung (direct retainer) dan penahan tak langsung (indirect retainer). Untuk menentukan penahan mana yang akan dipilih, maka perlu diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut (Gunadi et al., 1995).

  1. Dukungan sadel. Hal ini berkaitan dengan indikasi darimacam cengkeram yang akan dipakai dan gigi penyangga yang atau diperlukan.
  2. Stabilitas geligi tiruan. Hal ini berhubungan dengan jumlah dan macam gigi pendukung yang ada dan yang akan dipakai.
  1. Estetika. Hal ini berhubungan dengan bentuk atau tipe cengkeram serta lokasi gigi penyangga.

Salah satu penahan langsung (direct retainer) pada geligi tiruan adalah adanya cengkeram. Cengkeram biasanya terletak pada permukaan gigi di luar kontur normal mahkota anatomis, tetapi juga terletak pada preparasi mahkota tiruan atau restorasi gigi-gigi pendukung. Selain cengkeram, terdapat pula  attachment buatan pabrik dan perluasan basis geligi tiruan ke undercut (Watt & McGregor, 1992). Pemakaian cengkeram sebagai penahan langsung dapat dikelompokkkan berdasarkan dukungan sadel, paradental saddle atau free end saddle.

Macam bentuk penahan tak langsung (indirect retainer) pada bagian anterior antara lain gigi sandaran oklusal, daerah modifikasi batang lingual sekunder cumner arm, palatum dukungan rugae, batang anterior posterior, batang horse shoe. Sedangkan penahan tak langsung pada bagian posterior antara lain: gigi sandaran oklusal sekunder, palatum batang palatal posterior, perluasan basis/plat, dan lingir sisa relasi direct-indirect.

Pada penahan tak langsung (indirect retainer), prinsip kerjanya dapat terlihat pada kasus Kennedy kelas I rahang bawah, bila dibuat protesa dengan cengkeram dan sandaran oklusal ditempatkan pada gigi premolar dua dan basis pada kedua sisi dihubungkan dengan plat lingual. Pada saat basis bergerak menjauhi linger, plat lingual akan bergerak kea rah dasar mulut. Bila gerakan ini ditahan, gerakan basis bertahan pula. Inilah prinsip kerja penahan tak langsung, yang berfungsi melawan gaya perpindahan ke arah oklusal dan bekerja pada basis. Gaya ini bisa berupa aksi yang ditimbulkan makanan lengket, atau aksi otot pada tepi geligi tiruan pada saat membuka mulut (Suryatenggara et al., 1991).

Sumbu rotasi adalah garis imajiner yang ditarik melalui sandaran oklusal yang ada pada gigi penyangga utama. Sumbu ini juga disebut sebagai garis fulkrum atau garis rotasi.

Gambar . Garis fulkrum klasifikasi Kennedy pada rahang tak bergigi sebagian.

Sumber: Loney, 2008.

Pada kasus Kennedy kelas I, garis fulkrum adalah garis yang melalui sandaran pada gigi penyangga paling posterior dari kedua sisi. Pada kasus Kennedy kelas II, garis ini ditarik melalui sandaran-sandaran oklusal gigi penyangga pada sisi berujung bebas dan gigi penyangga paling distal dari sisi lainnya. Bila pada sisi ini terdapat daerah modifikasi, maka gigi penyangga sekunder yang letaknya jauh dari garis fulkrum, dianggap sebagai pendukung penahan tak langsung (Suryatenggara et al., 1991).

Pada kasus Kennedy kelas IV, garis ini melalui kedua sandaran pada gigi penyangga yang membatasi daerah tak bergigi. Pada kasus Kennedy kelas III, terdapat gigi yang tidak sanggup menahan tekanan kunyah, maka gigi ini dianggap tidak ada dan dianggap sebagai kasus berujung bebas (Suryatenggara et al., 1991).

Copyright ©2011, Ali Taqwim (dentistalit@yahoo.co.id)

Aplikasi Valplast Pada Gigi Tiruan Sebagian Lepasan

Posted on Updated on

APLIKASI VALPLAST PADA GIGI TIRUAN SEBAGIAN LEPASAN*

Pendahuluan

Kehilangan gigi merupakan masalah yang sering ditemukan. Hilangnya satu atau beberapa gigi dapat mengakibatkan terganggunya keseimbangan susunan gigi geligi. Bila hal tersebut tidak segera diatasi, maka akan terjadi gangguan pada fungsi bicara, pengunyahan maupun estetik, yang mana hal tersebut dapat berdampak pada kesehatan tubuh secara umum. Untuk mengatasi hal tersebut ada beberapa pilihan perawatan antara lain dapat dibuatkan gigi tiruan jembatan, implant atau gigi tiruan sebagian lepasan.

Pada beberapa kasus yang tidak memungkinan dibuatkan gigi tiruan jembatan dan implant, maka gigi tiruan sebagian lepasan merupakan pilihan yang terbaik.Terdapat 3 jenis gigi tiruan sebagian lepasan yang dibedakan menurut bahan basis gigi tiruannya yaitu gigi tiruan kerangka logam, gigi tiruan dengan basis akrilik dan gigi tiruan dengan basis berbahan dasar nilon termoplastik atau sering disebut dengan flexi (valplast).

Nilon termoplastik adalah gigi tiruan fleksibel yang pertama di dunia. Bahan ini tidak mempunyai cengkeram logam dan bersifat ringan. Bahannya bersifat tembus pandang sehingga gusi pasien terlihat jelas, menghasilkan penampilan alami dan memberikan estetika yang memuaskan. Nilon termoplastik adalah basisi gigi tiruan yang bebas monomer, bersifat hipoalergenik sehingga dapat menjadi alternatif yang berguna bagi pasien yang sensitif terhadap resin akrilik konvensional, nikel atau kobalt. Nilon termoplastik yang disebut juga nylon injection molded, adalah basis gigi tiruan yang ideal untuk gigi tiruan sebagain dan restorasi unilateral. Termoplastik merupakan bahan yang akan menjadi plastik di bawah tekanan dan panas, tetapi sangat kuat pada suhu ruangan.

Penggunaan nilon sebagai bahan basis gigi tiruan telah dibahas pada literatur pada tahun 1950. Walaupun nilon tidak direkomendasikan untuk penggunaan umum pada saat itu. Beberapa kerugian yang dilaporkan mengenai bentuk awal nilon termasuk kerentanan warna basis bahan untuk berubah, mengalami stain, penyerapan air yang tinggi dan pembentukan permukaan yang kasar setelah jangka waktu yang pendek. Nilon adalah nama generik untuk beberapa tipe polimer termoplastik yang masuk ke dalam kelas yang dikenal sebagai poliamid. Bahan ini merupakan famili dari polimer kondensasi yang berasal dari reaksi diacid dengan diamine. Nilon menghasilkan variasi poliamid dengan sifat fisik dan mekanik yang tergantung pada kelompok ikatan antara kelompok acid dengan kelompok amine. Penggunaan nilon dental pertama kali tidak sukses karena penyerapana air yang berlebihan, sehingga menyebabkan pemuaian yang berlebihan. Penyerapan air yang lebih rendah pada nilon glass reinforced telah menghasilkan produksi yang lebih dapat diharapkan. Nilon ini terutama diisi dengan cotton glass beads atau chopped glass fibers.

Cara penggunaan atau insersi valplast adalah dengan menyediakan air panas dalam gelas, sebelum insersi valplast direndam beberapa menit. Hal ini akan menambah flexibilitas dan adaptasi pasien terhadap valplast. Menambah kenyamanan pasien dan mudah di pasang.

Indikasi dan Kontra Indikasi Valplast

• Indikasi

Valpalst dapat digunakan dalam berbagai kondisi seperti pemakaian GTSL umumnya. Contohnya pada pasien yang tidak dapat dibuatkan bridge tetapi memprioritaskan penampilan atau estetik, keuangan pasien yang terbatas. Pasien tidak menginginkan prosedur yang invasif, pasien tidak menyukai kunjuangan rutin untuk pemeliharaan gigi tiruan. Untuk splint temporo mandibular joint (TMJ) jika digunakan dalam bentuk tidak diberi pigmen. Dapat juga digunakan pada venner koemetik untuk menutupi resesi gingiva. Indikasi lainnya adalah bila pasien alergi terhadap akrilik. Material yang ideal untuk gigi tiruan lepasan pada kasus pasien rentan terhadap patahnya gigi tiruan.

• Kontra Indikasi

Kontra indikasi pemakaian valplast adalah jarak interoklusal pada bagian posterior kurang dari 4 mm karena dengan GTSL valplast perlu dipastikan adanya occlusal clearance yang cukup antara RA dan RB untuk pemasangan gigi. Tidak seperti GTSL akrilik konvensional yang ikatan antara elemen gigi tiruan dan basis adalah ikatan kimia, ikatan GTSL valplast adalah secara mekanik. Jika tidak ada ruang yang cukup untuk menempatkan lubang retensi pada gigi, elemen gigi tiruan dapat berubah tempat.Ruang yang dibutuhkan kira-kira 5 mm atau lebih dari posterior interocclusal clearance, yaitu antara gigi dan bridge lawan, untuk memaksimalkan retensi elemn gigi.

Kontra indikasi lainnya adalah bila ada torus mandibula atau maksila serta bentuk ridge yang knife edge pada bilateral free-end, flat ridge, deep overbite (4 mm atau lebih) dimana gigi anterior dapat menghalangi dalam pergerakan-pergerakan yang tidak teratur, juga tidak dianjurkan pada penggunaan immediate.

Jenis Pilihan Valplast

Valplast dapat digunakan bilamana mempertimbangkan gigi tiruan sebagaian lepasan. Menurut Keller terdapat 3 pilihan dasar jika memilih valpalst yaitu : (1) gigi tiruan sebagian valplast bilateral, (2) gigi tiruan sebagian valplast unilateral/ boomer bridge, (3)kombinasi valplast dengan kerangka logam vitalium 2000.

• Gigi tiruan sebagain valplast bilateral

Tanpa logam, gigi tiruan sebagain fleksibel valplast memberikan banyak kegunaan dan estetik pada gigi tiruan sebagaian lepasan rahang atas. Pasien yang pernah menggunakan gigi tiruan sebagain konvensional logam dan sekarang menggunakan valplast melaporkan bahwa valplast terasa alami di dalam mulut karena ketipisannnya dan sifat bahan yang ringan. pasien juga merasa percaya diri jika amkan, tersenyum dan berada di depan publik karena retensi yang sangat baik disain cengkeram yang tipis.

• Gigi tiruan sebagian valplast unilateral/ boomer bridge

Restorasi valplast unilateral dengan disain cengkeram yang tipis memberikan retensi maksimal, stabilitas dan estetik. Valplast nesbit merupakan valplast yang ideal untuk penggantian 1 gigi posterior dan valplast flipper merupakan valplast yang ideal untuk penggantian 1 gigi anterior.

• Kombinasi valplast dengan kerangka logam vitalium 2000

Gigi tiruan valplast juga dapat digunakan dengan vitalium 2000 cast metal framework agar estetik terlihat alami dan meningkatkan stabilitas, karena rest oklusal dan rest lingual terbuat dari logam. Untuk kekuatan maksimum, valplast dapat dibuat dengan cast metal frame seperti Vitalium 2000 dengan kekuatan tensil lebih dari 855 Mpa untuk meningkatkan ketahanan terhadap fraktur. Vitalium 2000 merupakan kekerasan vikers yang meminimalkan abrasi pada gigi antagonisnya dan menghasilkan kekuatan lebih dari 600 Mpa membantu dalam menahan deformasi permanen.

Valplast yang dikombinasikan dengan metal dan berbahan plastik pada cengkeramnya dapat meningkatkan kekuatan dan dukungan yang lebih. Cengkeram yang terbuat dari dari bahan nilon termoplastik ini tampak alami sehingga mendukung faktor estetik. Kombinasi valplast dan vitalium, memaksimalkan sifat fisik dari gigi tiruan sebagaian dan membuatnya menjadi pilihan yang baik untuk daeraha edentulous yang luas, khususnya pada rahang bawah.

* Disarikan dari “Aplikasi dan Disain Valplast Pada Gigi Tiruan Sebagian Lepasan” oleh Ignatia Wurangian, JITEKGI 2010, 7(2): 63-68

Copyright ©2011, Ali Taqwim (dentistalit@yahoo.co.id)

Menentukan Macam Dukungan Sadel

Posted on Updated on

Bentuk daerah tak bergigi ada dua macam yaitu daerah tertutup (paradental) dan daerah berujung bebas (free end). Sesuai dengan sebutan ini, bentuk sadel dari geligi tiruan dibagi dua macam juga dan dikenal dengan sebutan serupa, yaitu sadel tertutup (paradental saddle) dan sadel  berujung bebas (free end saddle) (Gunadi et al., 1995).

Dukungan untuk protesa sebagian lepasan dapat diperoleh dari mukosa yang didukung tulang di bawahnya dan dari gigi (ligamen periodontal). Bila hanya dari mukosa saja disebut mucosa borne support seperti protesa lengkap, bila dari gigi saja disebut tooth borne support seperti pada kasus kehilangan gigi Kennedy kelas III. Kedua macam dukungan ini juga dapat dipakai bersamaan dan kontribusi masingmasing disesuaikan dengan kemampuannya (equitable), sehingga dapat tetap memelihara kesehatan jaringan tersisa (Ardan, 2007b).

Gambar 1. Dukungan sadel tooth borne support, mucosa borne support dan  dukungan kombinasi.

Sumber: Watt & Macgregor, 1992.

Terdapat tiga pilihan untuk dukungan sadel paradental, yaitu dukungan dari gigi, dari mukosa, atau dari gigi dan mukosa (kombinasi). Sebaliknya, untuk sadel berujung bebas, dukungan hanya bisa berasal dari mukosa atau dari gigi dan mukosa (kombinasi) (Gunadi et al., 1995).

Dukungan terbaik untuk protesa sebagian lepasan hanya dapat diperoleh jika faktor keadaan jaringan pendukung, panjang sadel, jumlah sadel, dan keadaan rahang yang akan dipasang geligi tiruan tersebut diperhatikan dan dipertimbangkan (Gunadi et al., 1995).

1. Keadaan Jaringan Pendukung

Idealnya, dukungan untuk sadel berujung bebas sebaiknya berasal dari mukosa untuk mencegah penerimaan beban kunyah yang tidak seimbang antara gigi dan mukosa, meskipun dukungan kombinasi masih dimungkinkan dengan syarat gigi penyangga ini sehat dan baik.

Apabila jaringan gigi sehat, dukungan sebaiknya berasal dari gigi, tetapi bila keadaan gigi sudah meragukan, sebaiknya dukungan dipilih dari mukosa dengan memperhatikan bahwa:

(a)    Jaringan mukosa di bawah sadel sehat dan cukup tebal,

(b)   Bagian plat kortikal dari tulang alveolar di bawah sadel padat dan terletak di atas tulang trabekula dan kanselus yang sehat,

(c)    Pasien tidak pernah menderita penyakit atau kelainan yang berkaitan dengan resorpsi tulang secara cepat.

2. Panjang Sadel

Untuk sadel yang pendek dengan gigi tetangga kuat, dukungan sebaiknya berasal dari gigi. Namun, jika sadelnya panjang dan gigi tetangga serta gigi aslinya kurang kuat, untuk rahang atas sebaiknya dipakai dukungan mukosa.

3. Jumlah Sadel

Rahang dengan jumlah sadel multiple perlu diperhatikan keadaan gigi-gigi yang masih ada serta jaringan mukosanya. Pada rahang atas, lebih baik dianjurkan dukungan dari mukosa dan upayakan desain tidak terlalu kompleks.

4.  Keadaan Rahang

Untuk rahang bawah dengan sadel berujung tertutup, sebaiknya dipilih dukungan gigi karena luas permukaannya yang kecil. Sedangkan untuk rahang atas, dukungannya terdapat tiga pilihan.

Copyright ©2011, Ali Taqwim (dentistalit@yahoo.co.id)

Desain Protesa Sebagian Lepasan

Posted on Updated on

I.  Pendahuluan

Gigi tiruan sebagian adalah suatu alat yang berfungsi untuk mengembalikan beberapa gigi asli yang hilang dengan dukungan utama adalah jaringan lunak di bawah plat dasar dan dukungan tambahan dari gigi asli yang masih tertinggal dan terpilih sebagai gigi pilar. Restorasi prostetik ini sering disebut juga removable partial denture (Applegate, 1960).

Pemakaian gigi tiruan mempunyai tujuan bukan hanya memperbaiki fungsi pengunyahan, fonetik, dan estetik saja, tetapi juga harus dapat mempertahankan kesehatan jaringan tersisa. Untuk tujuan terahir ini selain erat kaitannya dengan pemeliharaan kebersihan mulut, juga bagaimana mengatur agar gaya-gaya yang terjadi masih bersifat fungsional atau mengurangi besarnya gaya yang kemungkinan akan merusak (Ardan, 2007a).

Dalam proses pembuatan desain geligi tiruan sebagian lepasan berlaku suatu yang umum dan penting. Pertama-tama, dokter gigi perlu mengetahui selengkap-lengkapnya tentang keadaan fisik pasien yang akan menerima protesa. Selain itu, sebelumnya, ia juga sudah memahami betul data-data mengenai bentuk, indikasi dan fungsi dari cengkeram, letak sandaran, macam konektor, bentuk sadel dan jenis dukungan yang akan diterapkan untuk sebuah geligi tiruan. Selanjutnya, sebagai pemenuhan tanggung jawab kepada pasien, dokter gigi wajib membuat rencana desain protesa yang akan diberikannya (Gunadi et al., 1995).

Setiap protesa yang dipasang dalam rongga mulut memiliki resiko merusak kesehatan gigi dan jaringan pendukung, kerusakan ini dapat diperkecil dengan membuat desain yang tepat dan dengan menginstruksikan pada pasien tentang cara menjaga kebersihan mulut dan geligi tiruannya (Neil & Walter, 1992). Oleh sebab itu, rencana pembuatan desain merupakan salah satu tahap penting dan merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan sebuah geligi tiruan (Gunadi et al., 1995).

II. Komponen Protesa Sebagian Lepasan

Pada umumnya geligi tiruan yang konvensional baik yang terbuat dari plastik maupun dari kerangka logam, terdiri dari bagian-bagian penahan, basis, konektor, sandaran dan elemen gigi tiruan.

Penahan (retainer)

Penahan merupakan bagian geligi tiruan sebagian lepasan yang berfungsi memberi retensi dan karenanya mampu menahan protesa tetap pada tempatnya. Penahan dapat dibagi menjadi dua kelompok.

Pertama, penahan langsung (direct retainer) yang berkontak langsung dengan permukaan gigi penyangga dan dapat berupa cengkeram atau kaitan presisi (Suryatenggara et al., 1991).

Kedua, penahan tak langsung (indirect retainer) yang memberikan retensi untuk melawan gaya yang cenderung melepas protesa ke arah oklusal dan bekerja pada basis. Retensi tak langsung ini diperoleh dengan cara memberikan retensi pada sisi berlawanan dari garis fulkrum dimana gaya tadi bekerja. Macam-macam bentuk penahan tak langsung antara lain; sandaran oklusal, dukungan rugae, perluasan basis/ plat (Suryatenggara et al., 1991).

Sandaran (rest)

Sandaran merupakan bagian geligi tiruan yang bersandar pada permukaan gigi penyangga dan dibuat dengan tujuan memberikan dukungan vertikal pada protesa. Sandaran dapat ditempatkan pada permukaan oklusal gigi posterior atau pada permukaan lingual gigi anterior (Suryatenggara et al., 1991).

Konektor (connector)

Konektor pada tiap rahang dapat dibagi menjadi konektor utama (major connector) dan konektor minor (minor connector), sesuai dengan fungsinya masing-masing. Konektor utama merupakan bagian geligi tiruan sebagian lepasan yang menghubungkan bagian protesa yang terletak pada salah satu sisi rahang dengan yang ada pada sisi lainnya. Konektor minor atau tambahan merupakan bagian geligi tiruan sebagian lepasan yang menghubungkan konektor utam dengan bagian lain (Suryatenggara et al., 1991).

Elemen Gigi Tiruan

Elemen gigi merupakan bagian geligi tiruan sebagian lepasan yang berfungsi menggantikan gigi asli yang hilang. Seleksi gigi tiruan kadang-kadang merupakan tahap yang cukup sulit dalam proses pembuatan protesa, kecuali pada kasus masih ada gigi asli yang bisa dijadikan panduan. Dalam seleksi elemen ada metode untuk pemilihan gigi anterior dan posterior serta faktor-faktor yang harus diperhatikan yaitu ukuran, bentuk, tekstur permukaan, warna dan bahan elemen (Suryatenggara et al., 1991).

Basis Geligi Tiruan (saddle)

Basis geligi tiruan merupakan bagian yang menggantikan tulang alveolar yang sudah hilang dan berfungsi mendukung gigi (elemen) tiruan. Basis geligi tiruan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu; (1) basis dukungan gigi atau basis tertutup (bounded saddle) dan (2) basis dukungan jaringan atau kombinasi atau berujung bebas (free end) (Suryatenggra  et al., 1991).

III. Tahapan Pembuatan Desain

Prinsip pembuatan desain geligi tiruan , baik yang terbuat dari resin akrilik maupun kerangka logam tidaklah terlalu berbeda. Dalam pembuatan desain dikenal empat tahap yaitu (1) tahap I: menentukan kelas dari masing-masing daerah tak bergigi, (2) tahap II: menentukan macam dukungan dari setiap sadel, (3) tahap III: menentukan macam penahan, dan (4) tahap IV: menentukan macam konektor (Gunadi et al., 1995).

A.  Menentukan Klasifikasi Daerah Tak Bergigi

Daerah tak bergigi pada suatu lengkungan gigi dapat bervariasi, dalam hal panjang, macam, jumlah, dan letaknya. Semua ini mempengaruhi rencana pembuatan desain geligi tiruan, baik dalam bentuk sadel, konektor, maupun dukungannya (Gunadi et al., 1995).

Klasifikasi menurut Osborne J & Lammie GA berupa klasifikasi geligi tiruan berdasarkan distribusi beban, sebagai berikut.

  1. Geligi tiruan tooth borne, semua pendukung untuk geligi tiruan berasal dari gigi geligi.
  2. Geligi tiruan mucosa borne, geligi tiruan ini seluruhnya didukung oleh mukosa dan lingir alveolar dibawahnya.
  3. Geligi tiruan tooth and mucosa borne, beberapa bagian geligi tiruan didukung oleh gigi sebagian yang lainnya didukung oleh mukosa (Watt & McGregor, 1992).

Rincian Klasifikasi Kennedy adalah sebagai berikut.

  • Kelas I : daerah tak bergigi terletak di bagian posterior dari gigi yang masih ada dan berada pada ke dua sisi rahang (bilateral).
  • Kelas II : daerah tak bergigi terletak di bagian posterior dari gigi yang masih ada, tetapi berada hanya pada salah satu sisi rahang saja (unilateral).
  • Kelas III : daerah tak bergigi terletak di antara gigi-gigi yang masih ada di bagian posterior maupun anteriornya dan unilateral.
  • Kelas IV : daerah tak bergigi terletak pada bagian anterior dari gigi-gigi yang masih ada dan melewati garis tengah rahang.

Menurut Applegate, daerah tak bergigi dibagi atas enam kelas, yang kemudian dikenal sebagai Klasifikasi Applegate-Kennedy dengan rincian sebagai berikut (Suryatenggara et al., 1991).

Kelas I : daerah tak bergigi berupa sadel berujung bebas (free end) pada kedua sisi (Kelas I Kennedy).

Keadaan ini sering dijumpai pada rahang bawah dan biasanya telah beberapa tahun kehilangan gigi.

Secara klinis, dijumpai keadaan sebagai berikut:

1.  derajat resorpsi residual ridge bervariasi

2.  tengang waktu pasien tak bergigi akan mempengaruhi stabilitas geligi tiruan yang akan dipasang

3.  jarak antar lengkung rahang bagian posterior sudah biasanya sudah mengecil

4.  gigi asli yang masih tinggal sudah migrasi ke dalam berbagai posisi.

5.  gigi antagonis sudah ekstrusi dalam berbagai derajat.

6.  jumlah gigi yang masih tertinggal bagian anterior umumnya sekitar 6 10 gigi

7.  ada kemungkinan dijumpai kelainan sendi temporomandibula.

Indikasi protesa : protesa lepasan, dua sisi dan dengan perluasan basis ke distal.

Kelas II: Daerah tak bergigi sama seperti Kelas II Kennedy.

Kelas ini sering tidak diperhatikan pasien.

Secara klinis dijumpai keadaan :

1.  Resorbsi tulang alveolar terlibat lebih banyak.

2.  Gigi antagonis relatif lebih ekstrusi dan tidak teratur.

3.  Ekstrusi menyebabkan rumitnya pembuatan restorasi pada gigi antagonis.

4.  Pada kasus ekstrim karena tertundanya pembuatan gigi tiruan untuk jangka waktu tertntu karena perlu pencabutan satu atau lebih gigi antagonis.

5.  Karena pengunyahan satu sisi, sering dijumpai kelainan sendi temporomandibula.

Indikasi protesa: protesa dengan desain bilateral dan perluasan basis distal.

Kelas III: keadaan tak bergigi paradental dengan dua gigi tetangganya tidak lagi mamapu memberikan dukungan pada protesa secara keseluruhan.

Secara klinis, dijumpai keadaan:

1.  Daerah tidak bergigi sudah panjang.

2.  Bentuk dan panjang akar gigi kurang memadai.

3.  Tulang pendukung mengalami resorbsi servikal dan atau disertai goyangnya gigi secara berlebihan.

4.  Beban oklusal berlebihan.

Indikasi protesa: protesa sebagian lepasan dukungan gigi dengan desain bilateral.

Kelas IV: daerah tak bergigi sama dengan Kelas IV Kennedy.

Pada umumnya untuk kelas ini dibuat geligi tiruan sebagian lepasan, jika:

1.  Tulang alveolar sudah banyak hilang, seperti pada kasus akibat trauma.

2.  Gigi harus disusun dengan “overjet” besar, sehingga dibutuhkan banyak gigi pendukung.

3.  Dibutuhkan distribusi merata melalui lebih banyak gigi penahan, pada pasien dengan daya kunyah besar.

4.  Diperlukan dukungan danretensi tambahan dari gigi penahan.

5.  Mulut pasien depresif, sehingga perlu penebalan sayap untuk memenuhi faktor estetik

Indikasi protesa:

(a) Geligi tiruan cekat, bila gigi gigi tetangga masih kuat.

(b) Geligi tiruan sebagian lepasan dengan desain bilateral dan dukungan gigi atau jaringan atau kombinasi.

(c) Pada kasus meragukan sebaiknya dibuat protesa sebagian lepasan.

Kelas V: daerah dengan sadel tertutup dan gigi tetangga bagian depan tidak kuat menerima dukungan. Indikasi protesanya berupa protesa lepasan dua sisi.

Kelas VI: daerah dengan sadel tertutup dan kedua gigi tetangganya kuat. Indikasi protesanya berupa protesa cekat atau lepasan, satu sisi dan dukungan dari gigi.

Copyright ©2011, Ali Taqwim [dentistalit@yahoo.co.id]

to be continued …..

next :

  • Menentukan Macam Dukungan Sadel
  • Menentukan Jenis Penahan (Retainer)
  • Menentukan Jenis Konektor
  • Desain Protesa Sebagian Lepasan Dukungan Gigi
  • Desain Protesa Sebagian Lepasan Berujung Bebas

TORUS PALATINUS

Posted on Updated on


Torus palatinus merupakan suatu penonjolan tulang (exostosis) yang umum terjadi di tengah palatum keras. Exostosis adalah suatu pertumbuhan benigna jaringan tulang yang menonjol keluar dari permukaan tulang. Secara khas keadaan ini ditandai dengan tertutupnya tonjolan tersebut oleh kartilago.

Gambar 1. Torus palatinus (A) Torus palatinus yang besar pada palatum keras di dalam rongga mulut.  (B) Torus palatinus multiple

A.   Etiologi dan Patogenesis

Secara anatomis terdapat pembengkakan nodular yang terdiri dari tulang lamelar normal, sekalipun lesi luas mungkin memiliki tulang cancellous pada bagian tengahnya. Patogenesis dari penonjolan (exostosis) ini masih diperdebatkan, berkisar dari faktor genetik hingga lingkungan (seperti tekanan kunyah). Penyebab exostosis ini belum diketahui tetapi pada beberapa orang diturunkan secara autosomal dominan.

Sering disebut juda tori adalah suatu nodular jinak yang tumbuh berlebihan dari tulang kortikal. Walaupun gambaran fisiknya dapat merupakan suatu alarm tanda keganasan, tetapi secara umumm tidak dibutuhkan suatu perhatian khusus. Protuberensia tulang yang terdapat di midline palatum dimana maksila menyatu. Tori bisa terdapat di mandibula, khas di sisi lingual dari gigi molar.

Tori dilapisi jaringan epitelium yang tipis, yang mudah mengalami trauma dan ulcus. Penyembuhan pada ulcus yang terjadi cenderung sangat lambat karena tori miskin vaskularisasi. Torus palatinus tumbuh sangat lambat dan terjadi pada semua umur, tetapi sebagian besar terjadi sebelum usia 30 tahun. Torus palatinus dua kali lebih sering terjadi pada wanita.

B.   Patologi

Potongan melintang pada exostosis terlihat tulang yang padat dengan gambaran lamellar atau berlapis-lapis. Selalu dengan ciri tebal, matur dan tulang lamellar dengan osteocytes yang menyebar dan ruang sumsum tulang yang kecil diisi lemak tulang atau stroma fibrovascular longgar. Beberapa lesi dengan tepi tulang kortikal yang tipis melapisi tulang cancellous yang inaktif dengan lemak dan jaringan hematopoietic.

Minimal aktivitas osteoblastic selalu terlihat, tetapi sering lesi menunjukan aktivitas periosteal yang banyak. Area yang luas pada tulang mungkin menunjukkan pembesaran lakuna yang lepas atau pyknotic osteocytes mengindikasikan terjadinya gangguan iskemi pada tulang. Perubahan iskemi seperti fibrosis sumsum dan dilatasi vena mungkin ditemukan pada susmsum tulang, dengan contoh yang jarang menunjukkan aktual infraksi dari lemak sumsum.

Gardner syndrome sulit dibedakan dengan exotosis tulang biasa, merupakan suatu osteoma-producing syndrome, pada orang dengan exotosis tulang perlu dievaluasi apakah ada sindroma ini. Apakah penderita memiliki pertumbuhan tulang multiple atau lesi tidak pada lokasi klasik torus atau bucal exostosis. Intestinal polyposis dan cutaneous cysts atau fibromas gambaran lain dari autosomal dominant syndrome. Polip pada intertinal ini memiliki kecendrungan yang kuat berubah menjadi kanker.

C.   Gambaran Klinis

Exostosis tulang tampak sebagai tumor (pembengkakan) yang kaku dengan permukaan mukosa yang normal. Tonjolan tulang yang keras di tengah-tengah palatum ini biasanya berukuran diameter kurang dari 2 cm, namun terkadang perlahan-lahan dapat bertambah besar dan memenuhi seluruh langit-langit. Kebanyakan torus tidak menyebabkan gejala. Bentuk dan ukuran dari torus palatinus bervariasi.

Ketika muncul di daerah midline pada palatum durum maka disebut torus palatinus dan ketika muncul dilateral di redio lingual premolar dari mandibula disebut torus mandibularis. Yang sangat mengherankan, torus palatinus dan torus mandibularis jarang ditemukan muncul bersama-sama pada satu individu. Prevalensi dari torus palatinus dan torus mandibularis adalah 20-25% dan 6-12% dari populasi umum. Pada wanita insidennya lebih tinggi. Biasanya pasien baru menyadari ada exostosis ini bila ada trauma.

D.   Diagnosis

Diagnosis didapatkan dari gejala klinik. Bisa dilakukan biopsi, oral radiographs dan CT scans untuk menegakkan diagnosis.

E.   Diffential Diagnosis

Gingival fibrosis, fibroma formation secondary to irritation, granuloma, abses, oral neurofibroma pada palatum, fibrous dysplasia, osteomas, dan paget’s disease.

F.   Terapi

Tidak ada menajemen aktif yang wajib dilakukan, menenangkan pasien bahwa keadaanya merupakan bukan suatu keganasan. Bila mukosa yang melapisinya tipis dan cenderung trauma, pasien mungkin membutuhkan antiseptik pencuci mulut jika terdapat ulcus. Bila tidak ada keluhan, torus palatinus tidak memerlukan perawatan. Namun pada pasien yang menggunakan gigi tiruan, torus palatinus ini dapat mengganjal basis gigi tiruan sehingga harus dihilangkan dengan tindakan bedah menggunakan conservative surgical excision.

Di bidang kedokteran gigi, penatalaksanaan torus palatinus berkaitan dengan pembutan gigi tiruan sangat penting diperhatikan. Torus palatinus merupakan tonjolan yang ditutupi oleh selapis tipis jaringan lunak yang menyebabkan tori lebih sensitif terhadap tekanan atau palpasi (perabaan) dan pada saat perabaan akan terasa sangat keras.


Gambar 2. Torus palatinus pada model gigi tiruan lengkap

Konsistensi tori pada palatum sangat keras dan tidak sama dengan jaringan fibrous yang emenutupi puncak tulang alveolar. Oleh sebab itu, penatalaksanaan tori agar tidak mengganggu stabilisasi dan retensi gigi tiruan maka harus dibebaskan dari gigitan tekanan gigi tiruan atau dibuang secara bedah. Torus palatinus yang tidak ditanggulangi akan menyebabkan garis fulkrum yang seharusnya di puncak lingir, akan berpindah di puncak torus. Hal ini menyebabkan gigi tiruan tidak stabil dan mudah retak (patah).

Metode Non Bedah

Metode non bedah dilakukan dengan cara peredaan atau pembebasan tori dari tekanan dengan cara menempatkan selapis kertas timah (alumunium foil) di atas daerah torus pada model pada saat gigi tiruan diproses (relief of chamber). Cara yang lain  adalah dengan mendesain plat akriliknya dengan melakukan pembebasan torus palatinus. Luasnya ruang pembebasan sesuai dengan luas penonjolan torus di palatum keras.

Ali Taqwim, Mahasiswa Profesi Kedokteran Gigi Universitas Jember